Rahasia Lailatul Qadar Kaitannya dengan Ibadah I’tikaf Bagi Wanita Dirumahnya

Kajian Jumat Oleh : Amri Zakar Mangkuto Malin, SH, M. Kn

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد
قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Pembaca Topsumbar yang setia, dengan keimanan dan senantiasa merindukan kebenaran senantiasa tersampaikan ketika ada yang menggantinya dengan kesalahan dan menyembunyikan dibalik penampilan dan jabatan serta kepopuleran.

BERBURU LAILATUL QADAR DENGAN MENINGGALKAN IBADAH LAINNYA

Saat ini gencar didakwahkan bahwa untuk mendapatkan malam lailatul qadar tiap ustad dan ulama mempunyai pandangan berbeda, khususnya berkaitan dengan bentuk ibadahnya sehingga jamaah akan mengikuti cara-cara yang diajarkan oleh ustad/ ulama setempat atau ustad di MEDSOS dengan video singkat dan dakwahnya.

Tetapi perlu untuk diimani oleh setiap orang beirman, lailatul qadar sudah ada SELAMA 1445 tahun, artinya bukan tahun 2024 saja lailatul qadar ada, sehingga apa-apa amalan dan cara yang sudah dilakukan ketika rasulullah TETAP ITU SAMPAI SAAT INI.

Oleh karena itu beribadahlah setiap malam bulan puasa InsyaAllah mendapati malam qadar tersebut, tidak perlu mengadakan waktu khusus.

Rasulullah SAW mengabarkan kepada kami tentang Lailatul Qadar, beliau bersabda: dia (Lailatul Qadar) di bulan Ramadan di puluhan yang akhir yaitu malam 21, 23, 25, 27 atau malam 29, atau di akhir malam Ramadan. Barang siapa mengerjakan bangun untuk beribadah pada malam itu karena iman dan mengharap ridho Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. (HR. Ahmad).

WAKTU MALAM LAILATUL QADAR

Menurut situs https://www.detik.com bahwa i’takafa-ya’takifu-i’tikafan yang artinya tetap tinggal pada suatu tempat maka Kalimat ‘I’takafa fi al-masjid’ berarti ‘tetap tinggal atau diam di masjid’, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam hadist Artinya:” Dari Aisyah r.a. isteri Nabi SAW menuturkan, “Sesungguhnya Nabi SAW. melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga beliau wafat”. (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Pada hadist lain Artinya: ”Carilah olehmu sekalian lailatul qodar itu pada witir sepuluh terakhir di bulan Ramadan (HR. Bukhori).

Dan Dari Ibnu ‘Umar: Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang ingin mengintai malam Lailatul Qadar hendaklah ia mengintai pada malam dua puluh tujuh” (HR. Ahmad dengan sanad yang Shahih).

RAHMAT DAN BERKAH MALAM QADAR SUDAH DIPILIH OLEH ALLAH ORANGNYA, LANTAS BAGAIMANA DENGAN YANG HANYA MALAM QADAR ITU SAJA BERIBADAH SEDANGKAN MALAM LAIN TIDAK?

Malam lailatul qadar sama dengan malam lainnya hanya saja malam itu penuh berkah karena penuh sesak malaikat yang ditugaskan Allah itu memberi rahmat kepada orang yang sudah dipilih KEIMANANNYA selama bulan ramadan, bagaimana dengan yang KHUSUS HANYA MALAM QADAR SAJA BERIBADAH?

Tentu ibarat orang kerja HANYA DATANG KETIKA TERIMA GAJI, bagaimana sikap pimpinan? Tentu Allah juga demikian dalam memberikan keistimewaan kepada orang yang HANYA KHUSUS BERIBADAH DI MALAM LAILATUL QADAR sedang di malam lain tidak beribadah.

CIRI-CIRI DIPAGI HARI JIKA MALAMNYA ADA LAILATUL QADAR

Bahwa malam lailatul qadar pada masa lalu adalah waktu DITURUNKAN AYAT ALQURAN KEPADA NABI MUHAMMAD SAW, sebagaimana disebut dalam alqur’an:  Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Surat Al-Qadr Ayat 1-5).

Pada ayat lain disebutkan: ”Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (Q.S. al-Dukhan [44]: 1-6).

Dan pada sebuah hadist dijelaskan bahwa “Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi” [ Hadits Riwayat Muslim).

MALAM QADAR ITU ALLAH TUGASKAN MALAIKAT MENGATUR ULANG SEMUA URUSAN MANUSIA, BUKAN HANYA ORANG YANG BERIBADAH, SEBAB TIDURPUN ORANG BERIMAN MENJADI IBADAH

Banyak anggapan soal IBADAH hanya salat, membaca alquran dan hadir berzikir di masjid? Tentu bukan itu saja ibadah dapat dilakukan dimana saja asal tidak ditempat yang dilarang.

Orang bisa beribadah DIRUMAH, DITEMPAT KERJA DAN BAHKAN SAMBIL TIDUR, hal ini tentu tidak lazim bagi kalangan yang menganut I’tikaf WAJIB DIMASJID sehingga PARA WANITA, PARA ISTERI dan ANAK PEREMPUAN DIKUMPULKAN DI MASJID OLEH USTAD DAN DIADAKAN ACARA ibadah, sementara PERINTAH DEMIKIAN JUGA TIDAK WAJIB, sehingga perlu ibadah malam qadar tersebut disesuaikan dengan CARA RASULULLAH DAN KETENTUAN tentang IBADAH.

Bahwa malam qadar itu adalah malam ALLAH MENGATUR SEMUA URUSAN MAKHLUK, bukan hanya manusia tetapi seluruh ciptaan Allah, hewan, tumbuhan, air, gunung, langit dll semua diatur ulang.

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5).

I’TIKAF TIDAK HANYA ADA PADA BULAN RAMDAN, DAN DAPAT DILAKUKAN DI SELAIN RAMADAN

Sebagaimana dilakukan Rasulullah dan pernah Umar berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, aku dulu pernah bernazar di masa jahiliyah untuk beri’tikaf semalam di Masjidil Haram?” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tunaikan nadzarmu.” Kemudian Umar beri’tikaf semalam. (HR. Bukhari dan Muslim).

BILANGAN SALAT SUNNAT RASULULLAH PADA BULAN RAMADAN DAN SELAIN RAMADAN ADALAH TIDAK LEBIH DARI 11 RAKAAT, TETAPI WAKTU DAN LAMA SETIAP RAKAAT SESUAI KEINGINAN RASULULLAH SAW

“Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah (bilangan rakaat) baik di bulan Ramadan atau selainnya dari sebelas rakaat. Maka beliau salat empat rakaat, jangan anda bertanya akan bagus dan lamanya. Kemudian salat empat rakaat, dan jangan anda bertanya akan bagus dan lamanya. Kemudian beliau salat tiga (rakaat).” [HR. Bukhari dan Muslim].

Dan pada keterangan lain Abu Salamah Ibn Abd ar-Rahman bertanya kepada Aisyah tentang salat Rasulullah di bulan Ramadan. Lalu Aisyah menjawab: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan salat sunnat (tathawwu‘) di bulan Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya, kemudian beliau salat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat lagi tiga rakaat.”

I’TIKAF BAGI WANITA ADALAH DIKAMARNYA

Rasulullah melakukan I’tikaf untuk DIRI SENDIRI dan tidak secara eksplisit memerintahkan umat untuk I’tikaf setelah rasulullah wafat, sebagaimana yang dilakukan isteri isteri nabi setelah nabi wafat adalah atas KEHENDAK SENDIRI yang masih menjadi kebiasaan ketika nabi hidup, tetapi kebiasaan itu TIDAK DIWAJIBKAN atau tidak deperintahkan demikian.

Sebagaimana hadist Dari Aisyah r.a. isteri Nabi SAW menuturkan, “Sesungguhnya Nabi SAW. melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga beliau wafat, kemudian istri-istrinya mengerjakan i’tikaf sepeninggal beliau”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Maka dengan fenomena sekarang para WANITA melakukan I’tikaf di masjid perlu mempertimbangkan KEWAJAJIBAN LAINNYA seperti: PERTAMA Suami ada dirumah sementara isteri I’tikaf di masjid?

Tentu ada kewajiban lain yang ditinggalkan oleh isteri yang bisa jadi meninggalkan kewajiban itu suatu dosa.

KEDUA di masjid I’tikaf bergabung dengan jamaah laki-laki walau ada batasan tetapi tentu dapat dilihat dari ketika datang ke masjid, keluar dari masjid oleh laki laki lain, sehingga keadaan tersebut kurang baik untuk memelihara aurat dan wanita dan dosa yang ditimbulkan bagi yang melihatnya.

KETIGA :  Ibu atau orangtua ada di masjid sementara anak dan suami di rumah yang perlu di urus keperluannya, sehingga terlalaikan kewajiban kepada keluarga karena I’tikaf, dan itu suatu dosa bagi wanita yang berprofesi sebagai ibu.

KEEMPAT : Bagi wanita yang tidak bersuami tentu ada kewajiban lain selama ramadan yang harus dilakukan oleh seorang ibu terhadap anak dan keluarga di rumah dan perlu menjaga DIRI dari pandangan orang lain terhadap keluarnya wanita yang tidak bersuami dan tidak bersama suami maka hal tersebut perlu menjadi pertimbangan ketika memilih I’tikaf di masjid.

Dengan demikian, I’tikaf bagi wanita tidak diwajibkan dilakukan di masjid, karena ada dosa-dosa lain yang akan hadir dengan meninggalkan kewajiban dan dosa dalam keadaan keluar dari rumah, maka lebih baik dilakukan di rumah.

IBADAH I’TIKAF BAGI MUSLIMAH  ADALAH DIKAMARNYA ATAU DIBANGUNKAN MASJID DIRUMAHNYA

Tempat ibadah terbaik adalah Masjid, tetapi lain halnya bagi wanita, Rasulullah SAW memberikan pembedaan terhadap wanita, yaitu MASJID BAGI WANITA ADALAH KAMARNYA. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,Artinya: “Sebaik-baik tempat untuk salat bagi wanita adalah di dalam rumahnya.” (HR Ahmad, Thabrani, dan Al-Hakim).

Dari Abdullah dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Salatnya seorang wanita di makhda’nya lebih utama dari pada salat di rumahnya. Dan salat di rumahnya lebih utama daripada salat di kamar tamunya. [Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah dari Abdullah bin Mas’ud).

Di hadist lain dari  “Ummu Humaid, istri Abu Humaid As-Sa’idi, pernah datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Rasulullah, aku suka sekali salat denganmu.” Rasulullah SAW berkata, “Aku tahu bahwa engkau sangat suka salat denganku. Tetapi, SALATMU DI TEMPAT TIDURMU lebih baik daripada salatmu di dalam kamarmu. Salatmu di dalam kamarmu lebih baik ketimbang salatmu di dalam rumahmu. SALATMU DI RUMAHMU LEBIH BAIK DARIPADA SALATMU DI MASJID KAUMMU. Salatmu di masjid kaummu lebih baik ketimbang salatmu di masjidku.” Lalu, Ummu Humaid memerintahkan dibangunkan masjid. Dia pun dibangunkan masjid di ujung rumahnya yang paling gelap. Ummu Humaid salat di masjid itu hingga bertemu dengan Allah SWT (meninggal dunia).” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).

Dari Ummu Humaid -Istri Abu Humaid As-Sa’idi-, dia berkata kepada Rasulullah:Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku berkeinginan untuk melaksanakan salat bersamamu (berjamaah di masjid bersama Nabi), maka Rasulullah bersabda: “Saya mengetahui bahwa engkau sangat ingin salat berjamaah bersamaku. Namun salatmu di dalam kamar khusus untukmu (bait) lebih utama dari salat di ruang tengah rumahmu (hujrah). Salatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama dari salatmu di ruang terdepan rumahmu. Salatmu di ruang luar rumahmu lebih utama dari salat di masjid kaummu. Salat di masjid kaummu lebih utama dari salat di masjidku ini (Masjid Nabawi)”.( HR Ahmad).

KEBOLEHAN WANITA SALAT KE MASJID DAN I’TIKAF

Kebolehan wanita salat ke masjid sebagaimana hadist Dari Ibnu ‘Umar radliyallâhu ‘anhumâ ia berkata, dari Nabi shallallâhu ‘alaihiwa sallam, beliau bersabda: “Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid akan tetapi salat di rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka” [Hadits Riwayat Abu Dawud).

Dari hadist ini tempat salat terbaik wanita bukan di masjid, tetapi adalah dirumahnya, dan berbeda dengan laki-laki, tentunya hal ini akan mudah dipahami bagi wanita yang ingin memelihara auratnya dan ibadah tetap dapat menjalankan kewajibannya dirumah kepada keluarga.

CONTOH CARA SALAT WANITA KE MASJID

Dari Abdullah bin ‘Umar radliyallâhu ‘anhumâ ia berkata: “Salah seorang isteri ‘Umar bin al-Khaththab radliyallâhu ‘anhu biasa menghadiri salat ‘isya’ dan shubuh berjama’ah di masjid. Ada yang berkata kepadanya: ‘Mengapa Anda keluar, bukankah Anda tahu bahwa ‘Umar tidak menyukai hal ini dan pencemburu?’. Ia menjawab: ‘Apa yang menghalanginya untuk melarangku adalah sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam : “Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid.” [Hadits Riwayat al-Bukhari dan Muslim].

Pertama
MENUJU MASJID PADA MALAM GELAP/MALAM HARI AGAR TIDAK DIGANGU

Aisyah RA kata, “Mereka wanita-wanita mukminah menghadiri salat subuh bersama Rasulullah SAW. Mereka berselimut dengan kain-kain mereka. Kemudian para wanita itu kembali ke rumah-rumah mereka setelah selesai salat tanpa ada seorang pun yang mengenali mereka karena masih gelap,” (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua
DATANG PALING AKHIR KETIKA SALAT SUDAH MULAI DAN PULANG LEBIH DULU SEBELUM JAMAAH LAIN KELUAR MASJID

Ummu Salamah RA berkata, “Di masa Rasulullah SAW, para wanita yang ikut hadir dalam salat berjemaah. Setelah selesai salam mereka segera bangkit meninggalkan masjid pulang kembali ke rumah mereka. Sementara Rasulullah SAW dan jemaah laki-laki tetap diam di tempat mereka sekadar waktu yang diinginkan Allah SWT. Apabila Rasulullah SAW bangkit, bangkit pula kaum laki-laki tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketiga
AMBILLAH SHAR TERAKHIR WANITA ITU SHAF SALAT TERBAIK
SHAF TERBAIK WANITA ADALAH PALING BELAKANG.
Sebagaimana hadist: “Sebaik-baik saf laki-laki ialah saf pertama dan seburuk-buruk saf mereka ialah yang paling terakhir. Sedangkan SEBAIK-BAIK SAF PEREMPUAN IALAH YANG PALING AKHIR DAN SEBURUK-BURUKNYA IALAH YANG PERTAMA. (HR Muslim).

SALAT DI MASJID BERUDHU’NYA DARI RUMAH BUKAN DI MASJID, KECUALI MUSAFAFIR

Maka amalan terbaik menuju masjid bagi laki-laki /wanita adalah SETIAP LANGKAH AKAN BERISI AMPUNAN ATAS DOSANYA, maka perbanyaklah langkah ke masjid sebagaimana hadist  “Dari Abu Hurairah (radliyallâhu ‘anhu), dia berkata, (bahwasannya) Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian berangkat menuju salah satu masjid Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban kepada Allah, maka langkah-langkahnya, yang satu menghapus dosa dan yang lain mengangkat derajat.” [Hadits Riwayat Muslim).

Dengan uraian di atas jelaslah bahwa malam qadar itu untuk seluruh makhluk bukan hanya untuk orang yang beribadah saja, sehingga semua makhluk akan diatur urusannya bukan untuk MENCATAT ORANG YANG BERIBADAH SAJA, anggapan ini tentu perlu diluruskan kepada setiap orang beriman, agar jangan hanya berburu lailatul qadar sementara di malam lain tidak beribadah, yang pasti lailatul qadar akan hadir untuk semua mahkluk dan dimana saja beribadah baik DIMASJID, DIRUMAH ATAU DITEMPAT BEKERJA bahkan yang sedang tidurpun bila dia berudhu’ dan tidur karena lelah bekerja akan menjadi ibadah dan tetap mendapatkan kebaikan lailatul qadar.

Sebagaimana hadist “Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah.” (HR. Ahmad & Ibnu Asakir).

Sebab ketika beribadah di masjid dan diluar rumah wanita diperintahkan menjaga PANDANGANNYA DAN KEMALUANNYA sebagaimana  Allah memerintahkan: “Katakanlah pada laki-laki beriman, hendaklah mereka menjaga pandanganya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah SWT maha teliti terhadap apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 31).

Ingatlah para wanita ketika diluar rumah dalam hadist: “Wahai Rasulullah SAW, mengenai aurat kami, kepada siapa boleh kami (boleh) tampakkan dan kepada siapa (kami) tidak boleh tampakkan? Rasulullah menjawab: “tutuplah auratmu kecuali kepada istrimu atau budak wanitamu.” Mu’awiyah berkata: Ya Rasulullah, bagaimana jika seseorang berada di tengah orang banyak yang saling melihat? Rasulullah menjawab: “Jika kamu mampu untuk menjaga auratmu agar tidak terlihat, maka lakukanlah. Yaitu tidak melihat aurat orang lain, dan orang lain tidak melihat (pula) auratmu.” Mu’awiyah berkata: Ya Rasulullah, bagaimana jika seseorang sedang sendirian? Rasulullah menjawab: “Allah lebih berhak untuk malu kepadaNya daripada kepada manusia.”

Maka beribadahlah sesuai ketentuan Allah jangan mengejar amalan tertentu tetapi MENINGGALKAN kewajiban dan amalan wajib atau dengan mengejar amalan I’tikaf kewajiban keluarga ditinggalkan bahkan bisa muncul DOSA- DOSA lain ketika berkumpul seperti GHIBAH dan dosa lainnya terutama bagi WANITA yang memiliki banyak aurat untuk dipelihara dan ditutupi.

Tetapi jika ada orang yang tidak I’tikaf dan tidur hendaklah jangan dianggap tidak memiliki amalan malam qadar, sebab tidurnya ORANG YANG LELAH BEKERJA SIANG HARI dia akan mendapatkan AMPUNAN.

Sebagaimana hadist: “Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah.” (HR. Ahmad & Ibnu Asakir).

NUUN WALQOLAMI WAMA YASTHURUN.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

(Sukabumi, Jumat, 5 April 2024)

Penulis merupakan seorang pendakwah, dosen, penulis buku dan praktisi hukum

Pos terkait