Pemerintah dan Komunitas Baca Menggelar Bantang Lapiak, Upaya Ketahanan Budaya di Kabupaten Pasaman

Pemerintah dan Komunitas Baca Menggelar Bantang Lapiak, Upaya Ketahanan Budaya di Kabupaten Pasaman

TOPSUMBAR – Komunitas Pasaman Boekoe kembali menggelar kegiatan Bantang Lapiak di Komplek Candi Tanjung Medan Petok, Panti Selatan Kabupaten Pasaman.

Kegiatan tersebut berupa bincang budaya dengan menghadirkan tokoh-tokoh kebudayaan dan pendidikan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, pengelola komunitas/sanggar/kelompok seni budaya se-Kabupaten Pasaman.

Bacaan Lainnya

Selain itu, juru pelihara situs cagar budaya Candi Tanjung Medan serta Pemerintah Daerah bidang Kebudayaan dan Pendidikan juga turut hadir.

Arbi Tanjung, Pimpinan Komunitas Pasaman Boekoe menyatakan bahwa kegiatan tersebut di gelar selama sekali sebulan dengan topik yang berbeda tiap bulannya.

“Selama tahun 2024, kegiatan ini di gelar sekali sebulan dengan topik yang berbeda, namun dalam satu tema besar. Tema yang kita ambil yaitu Konsolidasi Pemahaman Ketahanan Budaya di Pasaman,” ungkapnya pada Jumat, 16 Februari 2024.

Sebagaimana yang telah direncanakan, lokasi kegiatan Bantang Lapiak dilaksanakan pada titik-titik yang punya arti penting bagi kebudayaan di Pasaman.

Pada edisi Bulan Februari 2024, acara Bantang Lapiak tersebut diadakan di Candi Tanjung Medan, Petok-Panti Selatan, Pasaman sebagai terminal kegiatan.

Candi peninggalan peradaban Buddha dari abad ke-12 dan ke-13 tersebut menjadi saksi perhelatan kegiatan tersebut.

Mengusung sub tema “Tepuk Dada Tanya Selera: Menakar Peran Pemerintah dan Komunitas/Sanggar/Kelompok Seni-Budaya di Pasaman”.

Situs yang ditemukan tahun 1886 oleh Gubernur Pantai Barat Sumatera tersebut menjadi saksi bincang Disdikbud dan Pariwisata Kabupaten Pasaman, serta Komunitas Pasaman Boekoe.

Ade Harlien, Kadis Pariwisata Pemuda Olahraga dan Kebudayaan Pasaman menyatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi wadah untuk mempertahankan budaya di Pasaman.

“Kegiatan ini adalah cara sekaligus wadah yang paling tepat dalam menyamakan pemahaman sebagai upaya mempertahankan budaya di Pasaman.” ucapnya.

“Ini merupakan momen yang penting bagi pemerintah dan pelaku komunitas. Hal ini karena belum pernah menggelar duduk bersama mengkaji ulang peran serta kontribusi berbagai pihak. Tentu ini sebagai upaya mempertahankan budaya di Pasaman,” tambahnya.

Budi Indrawan, Kabid Sekolah Dasar mewakili Kadis Pendidikan Kabupaten Pasaman turut memberikan paparannya.

“Untuk saat ini, sebagai upaya ketahanan budaya telah diwujudkan dalam bentuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah-sekolah. Muaranya dalam unjuk karya program P5,” ujarnya.

“Seharusnya, tulisan maupun karya yang berkaitan dengan kekayaan budaya Pasaman dapat di internalisasi ke dalam pembelajaran sekolah.” ucapnya.

“Tulisan atau karya semacam itulah yang sangat minim bagi kita. Hal ini menjadi PR bersama antara pelaku komunitas dan Pemda,” pungkasnya.

Pada kegiatan tersebut, yang bertindak sebagai moderator yakni Mulyadi Putra (Komunitas Pasaman Boekoe), berhasil mengatur irama perbincangan dalam suasana santai.

Usai penutupan acara, seluruh peserta dan pembicara (teman bincang) melakukan foto bersama.

Harapannya, kegiatan tersebut dalam membuahkan hasil demi mempertahankan Kebudayaan yang ada di Kabupaten Pasaman.

(HR)

Dapatkan update berita terbaru dari Topsumbar. Mari bergabung di Grup Telegram Topsumbar News Update, caranya klik link https://t.me/topsumbar kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Pos terkait