Tiga Kota di Sumatera Barat yang Memiliki Sejarah Unik Dibalik Namanya

Sejarah dibalik nama Kota Padang, Bukittinggi dan Kota Solok di Sumatera Barat. (foto: Topsumbar.co.id)

TOPSUMBAR – Sumatera Barat memiliki 19 kabupaten/kota dan banyak sekali menyimpan sejarah unik yang diturunkan secara turun temurun ke anak cucu.

Nama daerah di Sumatera Barat sangatlah banyak, contohnya saja Kota Padang, Kota Solok, Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kota Payakumbuh, Kota Pariaman dan Kota Sawahlunto.

Bahkan. pahlawan Proklamator seperti Bung Hatta, M Yamin dan Agus Salim berasal dari daerah yang ada di Sumatera Barat. Namun, apakah dibalik daerah asal mereka ada sejarah yang bisa diceritakan?

Bacaan Lainnya

Kali ini, Topsumbar akan membahas tentang tiga kota di Sumatera Barat yang memiliki sejarah unik dibalik namanya, yakni:

1. Kota Padang

Sejarah Kota Padang

Padang di zama dahulunya merupakan pemukiman nelayan, pada zaman Kerajaan Minangkabau di abad ke-15 dalam sejarahnya, nama Padang dipilih karena daerah ini menjadi pusat permukiman dan lokasi yang penting bagi Kerajaan Minangkabau.

Ketika Indonesia dikuasai Belanda, Kota Padang dijadikan pusat pemerintahan dengan singkatan Sumatra’s Westkust. Saat itu, wilayah yang diwakili oleh Kota Padang juga mencakup bagian lain di Sumatera Barat.

Dikutip dari Padang.go.id, saat itu Padang sebagai kawasan yang menjadi titik kumpul berbagai aktivitas kehidupan, yang menjadi kawasan tempat bertemunya berbagai etnis dengan latar budaya, bahasa, dan agamanya, pada umumnya banyak ditemukan melalui tulisan para ahli sejarah sejak berkuasanya VOC (1602-1799). Hal ini dimungkinkan karena memang Belanda yang memiliki arsip lengkap sejarah daerah jajahannya. Termasuk Kota Padang yang menjadi basis kekuatan dagang dan militer Belanda abad ke-18 dan 19.

Pada abad ke-15 di zaman Kerajaan Minangkabau dengan rajanya Adityawarman, saat itu Padang adalah pemukiman nelayan. Dalam tambo Minangkabau Padang disebut sebagai daerah rantau.

Orang yang pertama kali datang ke Kota Padang berasal dari Kubung XIII Solok oleh Luhak Nan Tigo (Agam, Tanah Datar dan Limo Puluh Kota). Namun ketika mereka sampai telah ada juga penduduk asli yang tidak beberapa orang, yang mereka sebut dengan orang-orang Rupit dan Tirau. Berarti dalam perluasan wilayah Kerajaan Minangkabau ini sebelum sampai ke Padang sebelumnya telah ada kelompok-kelompok masyarakat tersebut. Namun dalam abad yang sama, Kerajaan Aceh juga mulai mengembangkan wilayahnya terutama untuk perluasan daerah perniagaan.

Potret Kota Padang dalam sejarah (foto: Padang.go.id)
Potret Kota Padang dalam sejarah (foto: Padang.go.id)

Para pedagang Aceh secara bertahap berhasil menaklukan Tiku, Pariaman dan Inderapura. Padang menjadi daerah persinggahan sebelum bertolak ke Aceh. Padang sebelum abad ke-17 tidak begitu penting bagi Kerajaan Minangkabau yang hanya menganggap sebagai daerah rantau, bagi Kerajaan Aceh karena lebih terkonsentrasi di Pariaman dengan menempatkan seorang panglima yang diangkat oleh raja Aceh.

Rantau pesisir seperti Padang saat itu dianggap tidak begitu penting sebagai rute perdagangan Minangkabau yang mengarah ke pantai timur melalui sungai-sungai besar yang berasal dari daerah-daerah sekitar Gunung Merapi. Daerah ini telah lebih dulu menjadi pusat pemukiman yaitu tempat beradanya Kerajaan Minangkabau. Diwaktu yang sama, Malaka sebagai daerah pelabuhan karena selatnya yang luas pada tahun 1511 sudah tidak aman lagi karena masuknya bangsa Protugis, disusul oleh Spanyol kemudian Inggeris dan Belanda yang ikut meramaikan Selat Malaka. Peristiwa peperangan dan pembajakan yang tiada hentinya menyebabkan arus perdagangan menjadi tidak aman bagi Kerajaan Aceh maupun Kerajaan Malaka sendiri.

Kawasan pesisir di pantai barat Sumatera kemudian menjadi pilihan terbaik dan teraman karena para bangsa asing itu belum mengetahui persis kalau masih adanya daerah disamping Malaka ini. Kerajaan Aceh sengaja mengabaikannya karena masih beranggapan bahwa Malaka adalah daerah prospektif, namun ketika tidak menguntungkan lagi maka harus mengambil pilihan kedua yaitu pesisir barat. Kerajaan Aceh yang berada di ujung Pulau Sumatera dari segi topografinya lebih diuntungkan untuk menjangkau pantai barat walaupun sebagian besarnya dikuasai oleh Kerajaan Mianangkabau.

Akibat pengalihan ini muara-muara di sepanjang pantai barat tumbuh menjadi pelabuhan dagang. Pelabuhan Tiku, daerah Pariaman, dan Pelabuhan Indrapura lebih dulu berkembang karena dekat dengan sentral komoditi, yaitu lada dibagian utara dan emas di selatan. Pada awalnya pelabuhan itu berada dibawah pengawasan dan kekuasan raja muda yang diangkat Adityawarman di Pagaruyung. Namun karena pendekatan dagang orang Aceh itu sejalan dengan mensiarkan ajaran agama Islam, maka secara berangsur raja-raja muda itu mulai berpihak kepada Kerajaan Aceh dan melepaskan diri dari Kerajaan Pagaruyung. Pada masa Aceh ini Padang dibagi atas tiga daerah yaitu Padang, Pauh dan Kota tengah.

Dalam waktu yang hampir sama, di tahun 1616, Belanda dan Inggris juga sudah mulai mendarat di muara-muara pelabuhan tersebut, kondisi ini mengharuskan Kerajaan Aceh untuk menempatkan wakilnya di semua pelabuhan akan tetapi di Padang tidak dengan penguasaan penuh. Walaupun Padang oleh Aceh dianggap tidak begitu penting, Aceh tidak ingin Belanda menguasainya. Belanda melihat peluang ini, kemudian berupaya untuk melakukan pendekatan terhadap penguasa Aceh setempat. Ketika Sultan Iskandar Muda di Aceh Wafat (1636), kekuatan dan kekuasan Aceh semakin lemah. Walaupu sudah semakin lemah, pada tahun 1669 orang Aceh pernah mengusir orang Belanda dari Kota Padang (Parada Harahap).

Pos terkait