Hikmah Idul Adha : Berqurban Dapat Mendatangkan Taqwa dan Membunuh Sifat Riya dan Pamer

249

Oleh: Amrizakar, SH, M.Kn

Assalamualaikum wr.wb
Saudaraku Seiman
Selamat Idul Adha 1442 H.

Allahuakbar Walillahilham

Baru saja kita memulai ibadah tanggal 10 Dzulhijjah dengan shalat Idul Adha berjemaah diikuti dengan khutbah.

Idul Adha adalah hari raya yang agung, lebih besar dari Idul Fitri, karena Hari Raya Idul Adha disebut juga Idul Qurban, karena setelah ini selama 4 hari akan dilakukan pemotongan hewan qurban.

Pada Idul Adha ini Iman dan taqwa akan diuji dengan mengorbankan harta dan jiwa, sebagaimana kisah Ibrahim yang rela ikhlas mengorbankan anaknya, demi Alloh, dan karena Ibrahim ikhlas, maka Alloh gantikan dengan qibas (kambing) sebagai ganti pengorbanan yang ikhlas kepada Allah SWT.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak semua kaum muslimin untuk mengambil hikmah dari keikhlasan Ibrahim dan ismail dalam mentaati Allah, sebagaimana senantiasa kita baca dalam shalat :

“Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya shalatku, nusuk/ibadah qurbanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, aku diperintahkan seperti itu dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri.” (QS. Al-An’am: 162)

Karena orang yang shalat sudah berserah diri kepada Alloh swt, sebagaimana perintah Allah SWT.

“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah).” (QS. Al-Kautsar: 2)

Maka setiap orang islam yang sholat, hendaklah sholat karena Allah swt, dan setiap yang berqurban hendaklah berqurban karena Allah swt, jika berniat selain karena Allah SWT akan jadi amal sia-sia.

Apa tujuan Allah perintah berqurban?
Tujuannya adalah untuk menguji keimanan dan Allah ingin meningkatkan ketaqwaan pada Allah SWT, karena Allah telah firmankan:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya”. (QS. Al Hajj: 37)

Maka bagi yang berqurban, jadikan qurban sebagai penambah ketaqwaan, bukan untuk berbuat riya dan pamer kekayaan, yang terletak di hati agar ingin mendapatkan pujian dan kedudukan disisi manusia.

Demikian juga halnya dengan berpuasa, Apa tujuan Alloh memerintahkan berpuasa?

Tujuannya adalah untuk membentuk sikap TAQWA. sebagaimana firman Allah SWT.

“….diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al-Baqarah/2:183).

TETAPI AKAN ADA ORANG YANG BERAMAL, NAMUN DIA DIJEBLOSKAN KE NERAKA, tentu ini ahli ibadah yang mengherankan malaikat dan manusia lainnya, ahli ibadah manakah dia?

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

(AHLI IBADAH MATI SYAHID masuk neraka)

“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya :

‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’

Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’
Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.

(ORANG ALIM DAN PANDAI MEMBACA ALQURAN MASUK NERAKA)

Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Quran. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya.

Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al-Quran hanyalah karena engkau.’

Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al-Quran supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca Al-Quran yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’

Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.

(AHLI SHADAQAH DAN ZAKAT TETAPI MASUK NERAKA)

Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya).

Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’

Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’

Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” (HR. MUSLIM DAN ANNASA’)

APA SEBENARNYA YANG TERJADI DENGAN KETIGA AHLI IBADAH TERSEBUT?

Yang terjadi adalah ahli ibadah itu melakukan riya, dia beribadah bukan karena Allah tetapi karena tujuan dunia, seperti ingin dikatakan hebat, ingin dikatakan pintar, ingin dikatakan maha guru, ingin dikatakan dermawan, ingin dikatakan qori hebat, ingin dipuji dan disanjung, gila hormat dan suka memamerkan kebaikan demi kebaikan yang dia lakukan. Sehingga ibadah yang tidak disertai ilmu dan pedoman, akan merugikan diri yang beribadah.

Seperti contoh :

1. SUKA MENCERITAKAN AMAL YANG DILAKUKANNYA

Orang yang menceritakan dirinya, yang dia perbuat dan lakukan, padahal jika dia tidak ceritakan orang lain tidak akan tahu. maka berhati hatilah menceritakan diri sendiri karena bisa tergolong melakukan maksiat terhadap Allah secara terang terangan:
Sebagaimana rasulullah sabdakan :
“Semua umatku akan diampuni (atau : tidak boleh dighibah) kecuali orang yang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan, yaitu :

Seseorang yang melakukan perbuatan (kemaksiatan) pada waktu malam dan Allah telah menutupinya (yakni, tidak ada orang yang mengetahuinya), lalu ketika pagi dia mengatakan :
“Hai Fulan, kemarin aku melakukan ini dan itu”, padahal pada waktu malam Allah telah menutupinya, namun ketika masuk waktu pagi dia membuka tirai Allah terhadapnya. ” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. MENYIMPAN RASA SOMBONG, DENGAN MENOLAK NASEHAT DAN MERENDAHKAN ORANG LAIN

Dari Abdullah bin Mas’ud RA, Nabi Muhammada SAW bersabda yang artinya;

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi”.
Seorang laki-laki bertanya : “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?)”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim).

3. PAMER AMALAN, DENGAN MENYEBUT NYEBUT DAN MEMPERTONTONKAN KE ORANG LAIN,APALAGI MENYAKITI HATI ORANG YANG MENERIMA KEBAIKAN
Sehingga amal baik yang disebut sebut, akan habis kebaikannya, sebagaimana Allah SWT firmankan:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia.” (Q. S. Al-Baqarah : 264).

4. SIFAT MUNAFIK DALAM KATA DAN PERBUATAN

Sifat munafik itu terlihat ketika beribadah, yaitu ketika ibadah sendiri malas, tetapi jika ada yang memeprhatikan dia rajin dan membaguskan ibadahnya. Hal ini disebutkan Allah SWT dalam firmannya:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.
Dan jika mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya’ (dengan shalat itu) dihadapan manusia, dan tidaklah mereka dzkiri kepada Allah kecuali sedikit sekali.” (Q.S. An-Nisa’ : 142)

Terkadang orang beribadah tidak menyadari dirinya berlaku riya, TETAPI PERLU MENGINTROSPEKSI DIRI, riya itu hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah SWT. Tetapi ada suatu keadaan, dimana ketika berbuat baik,atau ada orang yang menyebut atau menceritakan kebaikan dalam rangka edukasi,seperti seorang guru/dosen kepada mahasiswa,atau orang tua kepada murid, maka itu adalah bagian dari suatu kabar gembira sebagai menyiarkan kebaikan untuk jadi KETAULADANAN, tetapi mesti dijelaskan secara jelas tujuan menceritakan kebaikan orang tersebut kepada mahasiswa/ anak.

Dari Abu Dzar: “Ditanyakan kepada Rasulullah SAW;

“Beritakan kepadaku tentang seseorang yang melakukan amalan kebaikan dan orang-orang memujinya padanya!”

Beliau bersabda: “itu adalah kabar gembira yang segera bagi seorang mukmin.” (H.R. Muslim).

MARI PELIHARA AMAL SENDIRI DARI DIHABISKAN OLEH SIKAP RIYA DAN MENYEBUT-NYEBUTNYA.

Amrizakar, SH, M.Kn
(Pendakwah, Penulis, Dosen dan Praktisi Hukum)

loading...