Perjalanan Penuh Risiko Erupsi Gunung Marapi dan Keterbatasan Sistem Peringatan

Perjalanan Penuh Risiko Erupsi Gunung Marapi dan Keterbatasan Sistem Peringatan. (Foto : Dok. Istimewa)
Perjalanan Penuh Risiko Erupsi Gunung Marapi dan Keterbatasan Sistem Peringatan. (Foto : Dok. Istimewa)

TOPSUMBAR – Gunung Marapi, yang terletak di Sumatera Barat, telah menjadi destinasi favorit para pendaki selama bertahun-tahun.

Namun, pada 3 Desember 2023, keindahan alam tersebut terhenti oleh letusan mendadak yang mengejutkan banyak orang.

Pada kesempatan ini kita akan membahas kronologi peristiwa tersebut dan menggali lebih dalam tentang mengapa erupsi Gunung Marapi sulit terdeteksi,

Bacaan Lainnya

serta kendala-kendala dalam sistem peringatan kepada para pendaki.

Pertarungan Antara Pendaki dan Waspada Gunung

Sejak status waspada diberlakukan pada 2011, aktivitas erupsi Gunung Marapi memuncak pada 7 Januari 2023.

Meskipun demikian, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat memutuskan untuk membuka kembali jalur pendakian pada 24 Juli 2023.

Hal ini memberikan kesempatan bagi para pendaki untuk mendaki, bahkan meskipun gunung masih berstatus waspada.

Ketidaksesuaian dalam Sistem Peringatan

Perbedaan pandangan antara pendaki dan petugas BKSDA menggambarkan ketidaksesuaian dalam penilaian risiko bencana.

Meski telah diberikan izin pendakian secara daring, persyaratan yang diberlakukan terkesan kurang tegas.

Pendaki pun mungkin merasa situasi biasa-biasa saja, tanpa memahami sepenuhnya potensi bahaya yang mengintai.

Pos terkait