Sastra Adalah Kritikan Zaman; Bincang-bincang Bersama Hasbunallah Haris

TOPSUMBAR – Hasbunallah Haris, anak bungsu kelahiran 2001 itu mengaku tak pernah menyangka akan sampai di titik sekarang. Dari hasil wawancara singkat dengan penulis muda yang baru saja memenangkan sayembara novel paling bergengsi di tanah air, event Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Haris mengaku resep paling ampuh untuk meraih kesuksesan adalah tekun, dan doa dari orang tua.

Sebagaimana diketahui, beberapa pekan lalu santer berita tentang empat penulis Sumatera Barat yang berhasil memenangkan sayembara novel dan manuskrip puisi yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), salah-satu jawara tersebut adalah Haris yang saat ini masih menempuh pendidikan di semester 6 (enam) bangku perkuliahan.

Mengusung genre sejarah dengan gaya penceritaan detektif, Haris berhasil maju ke babak final dan menjadi juara II (dua) kategori sayembara novel dengan judul naskah Leiden (2020 – 1920) dengan jumlah 443 halaman di kertas A4.

Bacaan Lainnya

Saat diwawancarai via online oleh tim Topsumbar mengapa memilih menjadi seorang penulis? Haris menjawab dia adalah orang yang pembosan, dia berharap dengan menulis dapat hidup dengan banyak versi dan bertualang ke tempat-tempat yang sangat luar biasa. Kehidupan seperti itu hanya didapatkan dalam dunia kepenulisan, bagaimana menjelajah dunia dengan menulis. Penulis yang baik tentu saja berawal dari pembaca yang baik, dan sejak kecil Haris mengaku sudah hobi membaca.

“Waktu kecil kalau beli mainan, pulang pasar langsung saya bongkar saking bosannya dengan mainan itu. Kalau beli mobil-mobilan bak belakang saya copot, kepalanya, rodanya, itu sudah saya pisah-pisah saking kepo sama strukturnya. Saat masuk usia lima tahunan (saya sudah bisa membaca) ibu tak membelikan mainan lagi, namun menggantinya dengan buku. Mungkin alasannya karena buku tidak bisa saya bongkar-bongkar,” ujar Haris berseloroh.

Pos terkait