Menu

Mode Gelap
Hari Bhakti Adhyaksa ke-62, Kejari Sijunjung Gelar Jalan Santai Unit Kerja Kantor Imigrasi Dharmasraya Akan Dibentuk, Sutan Riska : Urus Paspor Tak Perlu ke Luar Daerah Padang Kembali Cari Wali Kota Cilik Bersama Mentari Meraih Mimpi Menuju Indonesia Emas 2045 Wagub Sumbar: Pelaku UMKM Harus Go Digital Untuk Hadapi Tantangan Global

Sastra · 25 Agu 2022 20:07 WIB ·

Cerpen – Penyamun Cinta


 Cerpen – Penyamun Cinta Perbesar

Top Sumbar | Cerpen – Langkah Leman bertatih-tatih melalui pendakian setapak itu, betisnya terasa sudah berat. Digulungnya tali penuntun Tageh, kuda beban miliknya. Sesekali dia juga menyeka keringat di kening dengan punggung tangan. Laki-laki paruh baya itu lalu menengok kebelakang, sepertinya Tageh juga merasakan hal yang sama.

“Sedikit lagi,” batin Leman.

Sekitar lima puluh meter di depan, dia sudah melihat pangkal pohon beringin di puncak bukit Rimbo Sajuak, tempat perhentian kedua bagi pejalan kaki yang berasal dari daerah mudik menuju koto Pangkalan. Siang itu Leman sedikit lambat, karena hanya tampak satu orang yang duduk di urat beringin itu. Kalau berangkat subuh dari Muaro Paiti, biasanya tengah hari di sekeliling pangkal beringin ramai sekali orang yang beristirahat. Ada yang sekedar minum air, ada juga yang menyantap bekal masing-masing.

Tiba di pangkal pohon besar dengan uratnya yang bertimbulan itu, Leman menyandarkan punggung ke batang beringin, mengipas-ngipas wajah dengan topi bulat sambil menyeka peluh diwajah. Tageh tampak memilih-milih rumput di sekitaran tempat tertambatnya. Leman bersicepat meneguk air dari tabung yang baru dia ambil dari tumpukan beban di punggung Tageh. Matanya melirik pria yang duduk tak jauh dari posisinya, sepertinya pria itu tertidur. Karena angin di puncak bukit berhembus silir-semilir, cukup ampuh merayu mata yang sedang kelelahan.

Leman berusaha untuk tidak mengganggu istirahat pria itu, bunyi dengkurnya seperti mengisyaratkan kelelahan yang amat sangat. Dia mengeluarkan bekal dari tas rombeng, nasi yang lengkap dengan lauk. Tangan Leman tertatih, membuka kebat daun pisang. Aroma jengkol memenuhi hidung, membuat perut semakin keroncongan. Bergegas menyantap bekal, karena waktu sepertinya sudah jauh dari tengah hari. Kalau bertolak sore dari puncak bukit, nanti akan betemu gelap di jalan daerah Banjaronah. Kalau sudah gelap. Menurut cerita yang ia dengar, banyak penyamun yang berkeliaran di daerah itu.

Tiba-tiba suap nasi Leman terhenti oleh suara batuk pria yang diliriknya tadi, batuk pria itu bertali-tali. Setiap batuk, setiap mengusap dada. Tangannya mengacung ke arah Leman, seperti berisyarat meminta seteguk air. Leman bergegas meninggalkan bekal, dan menghampiri pria itu dengan tabung air minum. Setelah meneguk minuman, pria itu mengatur napas. Matanya terlihat setengah merah, sekujur tubuhnya panas. Sepertinya dia bukan pedagang bekuda beban.

“Siapa kau?” Pria itu mendengus kesal.

Leman berusaha menenangkan. Sambil minum, ia duduk di samping pria itu. Nama pria itu Sulat, seorang penjual minyak tanah di koto Pangkalan. Katanya sedang dalam perjalan ke Muaro Paiti untuk menemui anak bungsunya. Setelah bertanya jawab panjang lebar, mereka terlihat akrab. Leman kenal dengan anak Sulat, karena sudah lama tinggal di kampungnya. Ujang Liok, seorang pekerja kampo. Namanya cukup terkenal di Muaro Paiti, karena Ujang Liok seorang pekerja ulet. Setahu Leman, Ujang Liok bukan berasal dari koto Pangkalan. Pikiran Leman sudah bercabang-cabang, rasa curiga datang silih berganti. Jangan-jangan Sulat anggota penyamun yang menyamar menjadi seseorang, mungkin saja nama Ujang Liok dia dengar dari pedagang kampung. Tapi Leman mencoba mengusir jauh-jauh pikiran curiganya, mencoba berpikir elok.

Tageh meringkik sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya kuda beban itu sudah mulai bosan, tenaganya sudah mulai pulih. Perasaan Leman kurang enak kalau berangkat lebih dulu dari Sulat. Karena curiga dalam pikirannya semakin memuncak, mungkin saja nanti Sulat mengikutinya dari belakang. Merampok semua barang di punggung Tageh, setiba di jalan lereng bukit Banjaronah, pikirnya.

“Pak Sulat, belum ingin berangkat melanjutkan perjalanan?”

“Sebentar lagi.”

“Sebentar lagi sore, nanti bapak akan tiba malam di Muaro Paiti.”

“Aku hanya sampai di Lubuak Alai, di sana aku sudah dinanti Ujang.”

“Aku tinggal sendiri ya, perjalananku masih jauh.”

“Berangkatlah, kalau waktu gelap melewati Banjaronah bisa celaka.”

“Masih banyak Penyamun sekarang?”

“Sepanjang cerita yang kudengar, jarang pedagang berkuda beban selamat melewati Banjaronah ketika gelap.”

Leman memperhatikan wajah Sulat, rona wajahnya tidak seperti menyimpan kebohongan. Bahkan sebaliknya, kekhawatiran tampak terpancar dari pandangan mata Sulat. Dibukanya tali penambat Tageh, dan pergi bergegas meninggalkan Sulat. Jalan Leman tergesa-gesa menarik Tageh, semak-semak yang menjulur ke jalan setapak habis ditebas dengan lading tajamnya. Sesekali mata Leman melihat matahari, memastikan kalau dia belum jauh tergelincir ke barat.

Penat kaki Leman sudah terbunuh pikiran takut. Sudah bertahun-tahun menjadi pedagang berkuda beban, baru kali ini dia merasakan takut melewati Banjaronah. Hari ini yang pertama berjalan berdua dengan Tageh, biasanya Leman selalu beriring dengan teman sesama pedagang. Rasa sesal berangkat terlambat, juga sesekali datang menghampiri. Terlebih rasa sesal mengusir istrinya malam tadi, berbuntut pada terlambatnya Leman bangun pagi. Biasanya setiap subuh gajah, dia sudah bertolak dari rumah.

Semua perlengkapan dan bekal diperjalanan sudah dipersiapkan oleh istrinya, mantan istri lebih tepatnya. Karena malam tadi pertengkaraan hebat terjadi, Leman menuduh istrinya berselingkuh dengan tukang urut kuda. Dengan sangat murka keluar talak dari mulutnya.

Sepanjang malam, sampai sore ini rasa sesal masih tidak mau jauh dari badan. Leman dan Tageh sudah sampai di tepian penyeberangan, menyeberangi sungai sebelum sampai di Banjaronah. Tageh tampak enggan masuk ke dalam sungai, Leman menariknya sekuat tenaga. Sekuat Leman menarik, lebih kuat Tageh bertahan. Kepala Tageh menggeleng-geleng, tumpuan kakinya semakin kuat menghujam tanah. Tageh menatap jauh keseberang, seperti ada sesuatu yang tampak diseberang sungai. Melihat Tageh termenung dan memandang jauh keseberang sungai, rasa takut Leman mulai kembali muncul. Matanya menyigi keseberang sungai, memperhatikan semak-semak diseberang sungai. Hanya firasat buruk saja, pikir Leman. Dia kembali merayu Tageh, setengah bermohon. Kalau Tageh masih terus bergeming seperti ini, sepertinya mereka akan bertemu gelap melalui Banjaronah.

Leman terperanjat, mendengar suara kuda yang memekak dari seberang sungai. Tangannya bersicepat menarik Tageh ke dalam Semak. Menambatkan Tageh didalam semak, Leman menjulurkan kepala di sela semak tepi jalan. Melepas pandangan keseberang sungai, jantungnya berdetak kencang. Seperti suara kuda yang ditunggang, pikirnya.

“Mungkinkah penyamun beraksi sesore ini,” Leman bertanya sendiri.

Sementara matanya masih menyigi dari balik semak. Sepertinya tidak ada apa-apa, Leman berpikir mungkin ketakutannya saja. Dia kembali menjemput Tageh, dan menarik Tageh menyeberangi sungai. Sampi di seberang, suara kuda yang memekak itu terdengar makin dekat. Leman bersegera menarik Tageh kedalam semak, dan kembali menyulurkan kepala dari samping jalan. Terlihat samar dikejauhan seekor kuda berjalan menuju ke arahnya, semakin mendekat. Leman menarik beban di pundak kuda itu, setelah kuda berhenti Leman segera mengusap kepala kuda. Sepertinya dia terlepas dari tuannya, Leman menggiring kuda itu mendekati Tageh.

Selang beberapa detik datang seorang pria terengah-engah mendekati Leman. Bergayut di pundak Leman, sambil menahan badannya yang sudah hampir rebah. Leman memeluk pria itu dan mndudukkan di jalan. Secepat kilat Leman mengambil air di pungguh Tageh, dan membiarkan Pria itu menenangkan diri. Leman kenal betul dengan pria itu, dia Kasai. Teman sama pedagang, Kasai berasal dari Lubuak Alai.

Pikiran Leman mulai risau, jangan-jangan Kasi dikejar penyamun dari Banjaronah. Begitu pikirnya. Leman belum ingin mengganggu Kasai yang masih sibuk mengatur jalan napasnya. Setelah Kasai tampak tenang, Leman menghujani dengan banyak pertanyaan tentang penyamun yang mengejar Kasai. Leman menarik lading dari hulu yang tergayut di pinggangnya, seperti orang yang berjaga-jaga. Kasai tertawa, dan kembali meminum air.

“Sejak kapan kau jadi jagoan, Leman.”

“Sejak ketakutan datang kepadaku.”

Kasai kembali tertawa, melihat wajah bingung Leman. Kasai mengajak Leman duduk dan memberinya tembakau dan daun nipah. Kasai terlihat sudah tenang. Sambil menghisap tembakau daun nipah, bercerita kepada Leman.

“Aku dikejar penyamun cinta.”

Mendengar itu, tersumbul tawa Leman. Rasa takut berganti geli, karena dia kenal betul dengan Kasai. Ternyata pria ini masih belum berubah. Menurut cerita sesama pedagang, peristiwa semacam ini sering terjadi pada Kasai. Dia sangat sering mengganggu bini orang, seperti tukang urut kuda, pikir Leman. Entah kesengan seperti apa yang dia dapat, padahal Kasai memiliki istri ayng terlihat sangat menyayanginya. Tapi Leman memaklumi, karena ini tabiat Kasai sudah dari bujangan. Pernah Kasai Hampir dibunuh oleh Ujang Liok, karena tabiat seperti ini. Tapi Kasai sedikitpun tidak terlihat ketakutan, hanya tampak kelelahan karena berlari jauh.

“Jadi, kau mau pulang atau kembali melanjutkan perjalanan.”

“Tunggu sebentar, aku istirahat dulu.”

“Tapi Kasai, hari sebentar lagi gelap.”

“Kenapa dengan gelap?”

“Kita mau masuk Banjarona.”

“Justru itu, harus menunggu gelap.”

“Kau tidak takut penyamun.”

Kasai tertawa lepas, mendengar ketakutan Leman. Cerita penyamun ketika gelap di Banjarona bagi Kasai hanya cerita bohong, berkali-kali dia melewati Banjarona ketika gelap. Belum sekalipun dia dihadang penyamun. Justru ketakutan pada suami wanita yang digodanya ketika siang lebih menakutkan, bagi Kasai.

Mendengar penjelasan Kasai, pikiran Leman menjadi tenang. Dan bersedia menunggu gelap datang, baru meneruskan perjalan ke Koto Pangkalan. Saat ini Leman memang butuh teman seperti Kasai, yang bisa membuatnya tertawa lepas. Lepas dari pikiran tentang istrinya yang selingkuh, dan kecuriagaannya kepada sulat. Ketakutan Kasai kepada penyamun tidak pernah ada, karena Kasai-lah penyamun yang sebenarnya. Penyamun cinta, begitu kata Kasai. Mereka kembali tertawa, dengan tembakau daun nipah yang tergayut disudut bibir.

Rori Maidi Rusji. Lahir di Muaro Paiti. Kec. Kapur IX Kab. 50 Kota, Sumatera Barat. Sekarang bergabung bersama Serikat Budaya Marewai di kota Padang, bisa ditemui di instagram &twitter ; @roriaroka FB. Rori Aroka Roesdji

 

Dapatkan update berita pilihan seputar Sumatera Barat hari ini dari Topsumbar.co.id. Mari bergabung di Grup Whatsapp “TOPSUMBAR|Media Online”, caranya klik link https://chat.whatsapp.com/HIjz25fqv3j6AguRPbSoeT, kemudian join. Anda harus install aplikasi Whatsapp terlebih dulu di ponsel.

Hits: 70

Artikel ini telah dibaca 158 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Cerpen – Bukankah ini Lebih dari Kata Cukup?

20 Juli 2022 - 10:50 WIB

Puisi – Harapan yang Terjual

18 Juli 2022 - 17:55 WIB

Cerpen – Mereka yang Mencari Kebijaksanaan

14 Juli 2022 - 22:28 WIB

Cerpen – Perempuan di Alun-alun Kota

29 Juni 2022 - 16:50 WIB

Cerpen – Penantian

22 Juni 2022 - 13:35 WIB

Konsisten dengan Kolom Sastra, Top Sumbar akan Launching Buku Kumpulan Cerpen Juli Mendatang

16 Juni 2022 - 17:20 WIB

Trending di Sumatera Barat