Gevangenis van Fort de Kock: Menelusuri Jejak Penjara Lama Bukittinggi

Gevangenis van Fort de Kock: Menelusuri Jejak Penjara Lama Bukittinggi. (Dokumen Topsumbar)
Gevangenis van Fort de Kock: Menelusuri Jejak Penjara Lama Bukittinggi. (Dokumen Topsumbar)

TOPSUMBAR – Penjara Lama Bukittinggi, merupakan penjara bersejarah di Fort de Kock, yang saat ini dikenal dengan sebutan Bukittinggi. Penjara ini merupakan bagian penting potongan sejarah Sumatera Barat, sebagai saksi bisu dari masa penjajahan belanda.

Gevangenis van Fort de Kock, Terletak di Bukittinggi sekaligus merupakan penjara yang menyimpan berbagai kenangan kelam masa penjajahan Belanda.

Meskipun telah lama tidak beroperasi, penjara ini tetap memancarkan sejarah yang mengesankan. Bangunan megah dengan pintu baja berkarat, dinding berlumut serta atap yang telah hancur, menjadi rantai sejarah dari tumpah darah dan pengorbanan para pejuang tanah air.

Bacaan Lainnya

Kenangan dari Masa Lalu

Penjara ini terdiri dari belasan sel dengan ukuran beragam, membentuk koridor dari Timur Laut ke Barat Daya. Setiap sel dilengkapi dengan pintu baja besar, engsel dan gembok-gembok berkarat.

Dinding penjara yang telah berubah warna menjadi coklat dengan lumut yang menjalar memberi kesan bahwa waktu telah berlalu, namun sejarahnya tetap hidup.

Beton yang mengelupas, lantai yang penuh dengan ubin yang rusak, dan atap-atap yang sebagian besar telah runtuh, semuanya menjadi bukti dari masa lalu yang pernah berlalu.

Kendati demikian, beberapa ruang kantor masih berdiri dengan kokoh, memberikan gambaran tentang betapa megahnya penjara ini kala berdiri di masa jayanya.

Komplek penjara ini, memiliki ruang kantoor di bagian depan, tampak kontras dengan sel-sel tahanan yang berada di bagian belakang. Pintu besi yang besar menjadi pemisah antara kedua ruangan ini.

Ada juga ruang penjaga di sisi lain bangunan ini. Setiap sel tahanan memiliki jendela kecil dibawah langit-langit yang telah dipenuhi jaring laba-laba. membiarkan teriknya cahaya matahari menghanguskan harapan para tahanan.

Meskipun terlihat tua dan usang, nilai sejarah yang terkandung dalam dinding-dinding bangunan ini tidak dapat diabaikan. Banyak tokoh penting dalam sejarah Indonesia pernah mendekam dibalik jeruji berkarat ini.

Mereka adalah Sutan Chaniago, anak dari Tuanku Imam Bonjol, seorang pejuang besar yang menghadapi Belanda. Juga terdapat ulama besar Haji Rasul yang dikenal karena pengaruhnya dalam pergerakan kaum muda. Aktivis perempuan seperti Rasuna Said, Rasimah Ismail, dan Upik Hitam juga pernah ditahan di sel-sel ini karena perjuangan mereka.

Selain itu, sastrawan dan aktivis Maisir Thaib juga dipenjarakan karena karyanya yang kontroversial yang membuat pemerintah kolonial resah. Tidak ketinggalan Muchtar Luthfi, seorang tokoh muda Islam yang kuat pada masanya, yang juga pernah menjadi penghuni salah satu sel di penjara ini sebelum akhirnya dibuang ke Digul. Semua tokoh ini mendekam di dalam penjara ini karena perlawanan mereka terhadap penjajahan Belanda.

Sejarah Pembangunan

Sayangnya, belum ada catatan pasti mengenai tahun berdirinya penjara ini. Namun, menurut laporan sejarawan Mr. C. J. van Asska yang berjudul “Verslag over het Gevangeniswezen,” penjara ini telah ada sejak tahun 1840. Pada saat itu, kondisi bangunan penjara sangat memprihatinkan. Atap dan dindingnya hanya ditutupi dengan alang-alang, dan banyak bagian bangunan yang dalam kondisi buruk.

Pada tahun 1850, Fort de Kock mengajukan proposal anggaran untuk membangun penjara baru, namun tidak mendapatkan tanggapan dari pemerintah pusat di Batavia. Baru pada tahun 1860, proposal tersebut mendapatkan respon positif, dan pembangunan penjara baru dimulai. Pembangunan penjara ini melibatkan pekerja paksa yang berasal dari Penjara Padang.

Penjara Fort de Kock memiliki potensi besar untuk dijadikan destinasi wisata sejarah yang menarik. Banyak penjara bersejarah di luar negeri, seperti Alcatraz di Amerika Serikat, Port Arthur di Australia, dan Robben Island di Afrika Selatan, telah berhasil menjadi tujuan wisata yang populer. Demikian pula, Penjara Fort de Kock dapat dihidupkan kembali dan dijadikan penanda sejarah yang hidup bagi generasi saat ini dan masa depan.

Dengan pengelolaan yang tepat, penjara ini bisa menjadi tempat yang menarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Sumatera Barat.

Pengunjung dapat belajar tentang pengorbanan tokoh-tokoh yang pernah ditahan di sini dan menghargai perjuangan mereka. Penjara ini juga dapat digunakan untuk pertunjukan teater atau pameran seni yang menggambarkan kisah-kisah bersejarah yang terjadi di dalamnya.

Dengan cara ini, penjara ini tidak hanya akan menjadi bagian penting dari warisan sejarah Sumatera Barat, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi masa kini dan masa depan dalam memahami perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Mari kita terus menjaga dan merawat peninggalan bersejarah ini agar tetap hidup dan berguna bagi pendidikan sejarah dan semangat nasionalisme kita. Sebagai bagian dari perjalanan sejarah bangsa, Penjara Fort de Kock tetap menjadi penanda penting dalam perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.

(Fiyu)

 

 

 

Pos terkait