Onde-onde Hingga Pendidikan, Kiprah Orang Minang dalam Membentuk Ibu Kota Indonesia

Onde-onde Hingga Pendidikan, Kiprah Orang Minang dalam Membentuk Ibu Kota Indonesia. (Foto : Dok. Istimewa)
Onde-onde Hingga Pendidikan, Kiprah Orang Minang dalam Membentuk Ibu Kota Indonesia. (Foto : Dok. Istimewa)

TOPSUMBAR – Sejarah panjang etnis Minangkabau, atau yang dikenal sebagai Urang Awak, mencatat kehadiran mereka pertama kali di Betawi pada tahun 1521, sebagai bagian dari perjanjian antara Portugis dan Kerajaan Sunda.

Dalam perjalanan waktu, Urang Awak tidak hanya membawa keahlian sebagai Syahbandar Pelabuhan Malaka, tetapi juga memperkenalkan elemen-elemen budaya dan bahasa Minang yang memberi warna pada peradaban Betawi.

Kedatangan Kasim dan pengikutnya tidak hanya menciptakan titik awal bagi pengaruh linguistik, tetapi juga memperkaya budaya Betawi.

Bacaan Lainnya

Mereka membawa konsep kata “Onde” yang kemudian menjadi bagian integral dari ekspresi dan bahasa sehari-hari masyarakat Betawi.

Bahkan, pengaruhnya meluas ke dalam dunia kuliner dengan munculnya kue tradisional “Onde-onde.”

Jejak Urang Awak tidak hanya terbatas pada aspek bahasa dan budaya, tetapi juga terlihat dalam pendidikan di Betawi.

Pada awal abad ke-19, Batavia menyaksikan pendirian sekolah yang melahirkan lulusan-lulusan pertama dari etnis Minang.

Di era “Pujangga Baru,” gelombang Urang Awak terus berdatangan, menjadikan Batavia pusat pendidikan yang semakin berkembang.

Kontribusi mereka tidak berhenti di situ. Lulusan terkenal seperti M. Yamin menjadi bukti nyata bahwa Urang Awak tidak hanya menjadi bagian dari perkembangan pendidikan, tetapi juga mencapai prestasi dalam dunia sastra.

Bahkan setelah kemerdekaan, etnis Minangkabau terus menyumbangkan keberagaman kehidupan Jakarta melalui peran sebagai pengajar, pedagang kaki lima, dan pelaku-pelaku berpengaruh di berbagai sektor.

Sejak kedatangan pertama Urang Awak pada 1521, Jakarta telah menjadi saksi peran integral mereka dalam membentuk dan memperkaya kisah peradaban kota.

Dari pengaruh linguistik hingga kontribusi dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari, etnis Minangkabau terus melanjutkan jejak perantauannya, menjadi bagian tak terpisahkan dari keberagaman dan dinamika kota yang terus berkembang.

(Fiyu)

Pos terkait