Martabat Perempuan Minangkabau dan Menganut Paham Matrilineal

Martabat perempuan Minangkabau dan menganut paham matrilineal (foto: Topsumbar.co.id)

2. Asal-usul Sistem Kekerabatan Matrilineal

Asal-usul dicetuskannya sistem kekerabatan matrilineal ini merupakan hasil dari pertimbangan mendalam terhadap tiga faktor yaitu:

Faktor cinta kasih

Dimana hubungan anak dengan ibu dinilai lebih akrab dibandingkan hubungan anak dengan ayahnya, bahkan hingga saat ini.

Pada rumah tangga, ayah bertugas mencari nafkah untuk keluarganya, seringkali ayah pergi bekerja ketika anak sedang tertidur, kemudian ayah kembali ketika anak sedang tertidur.

Bacaan Lainnya

Akibatnya hubungan ayah dan anak seringkali tidak sedekat hubungan anak dan ibu, hubungan ibu dan anak ini seringkali diibaratkan seperti satu nyawa dalam dua badan.

Kedekatan antara ibu dan anak sudah terjalin sejak dari masa kandungan hingga si anak beranjak dewasa dan seterusnya, ibu bertugas menjaga dan merawat si anak, sehingga wajar apabila di Minangkabau peranan ibu sangat besar.

Dengan besarnya peranan seorang ibu di Minangkabau, maka dirasa sangat pantas apabila derajat seorang ibu dijunjung tinggi. Hal ini dianggap sebagai asal-usul sistem kekerabatan di Minangkabau.

Suku yang duturunkan oleh ibu, tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kendati demikian ini merupakan salah satu cara bagi masyarakat untuk menghargai jerih payah seorang ibu. Oleh karena itu dirasa sangat pantas jika di Minangkabau ibu diangkat sebagai induk persukuan yang kemudian disematkan gelar Bundo Kanduang.

Perempuan Minangkabau (foto: Topsumbar.co.id)
Perempuan Minangkabau (foto: Topsumbar.co.id)

Faktor Matematika

Jika diibaratkan ayah dan ibu sebagai suatu kelompok atau perkongsian di dalam mengolah sepetak sawah. Secara matematis aset yang diberikan oleh ibu kepada anak, jauh lebih besar.

Dimulai dari ibu yang mengandung seorang anak mulai dari kandungan, memberikan asupan gizi, merawat si anak di dalam kandungan dengan berbagai topangan mendis, hingga pada akhirnya ibulah yang melahirkan si anak ke dunia dengan nyawa sebagai taruhannya.

Pada perkongsian ini peranan ayah adalah sebagai seseorang yang membuahi dan memberikan dukungan berupa moril dan materil kepada si ibu, dan hal ini juga merupakan hal yang sangat penting.

Dalam ilmu matematika, peranan ibu dinilai lebih banyak daripada ayah. Pada ajaran Islam sendiri juga menekankan bahwa ibu harus ditinggikan derajatnya. Seperti pada hadist HR Al Bukhari dan Muslim Nabi Muhammad S.A.W menjawab ibu sebanyak tiga kali ketika sahabat bertanya kepada siapa kita harus berbakti,
kemudian satu kali nabi menjawab ayah.

Faktor Logika

Secara logika seorang anak yang lahir sudah bisa dipastikan sebagai anak dari seorang wanita yang melahirkannya.

Ketiga faktor ini lah yang dipertimbangkan oleh masyarakat Minangkabau untuk bersuku kepada ibu, juga seseorang yang paling berjasa dalam hidup seseorang anak tak lain adalah ibunya.

Kosa kata ibu juga umum digunakan dalam penyebutan hal-hal tertentu di Indonesia seperti, ibu negara, ibu jari, ibu pertiwi, ibu kota dan lain sebagainya.

Sehingga dapat kita simpulkan bersama bahwa, sistem kekerabatan ini sangat logis dan masuk akal, dengan mempertimbangkan paling tidak tiga faktor tersebut.

Sistem ini sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Senada dengan pepatah Minangkabau yang berbunyi “Adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah” yang mana pada sistem kekerabatan ini adat dan agama berjalan beriringan, dan saling mendukung tanpa mendominasi salah satu diantaranya.

Pos terkait