Mengenal Bahasa Tansi Sawahlunto

TOPSUMBAR – Pada tahun 2018, pemerintah telah menetapkan Bahasa Tansi Sawahlunto menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang berasal dari Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Penetapan tersebut tak lepas dari kenyataan, bahwa dibanding kabupaten/kota lain di Sumatera Barat, Bahasa Tansi memiliki keunikan yang tidak ditemui di daerah lain.

Sebagai orang yang pernah menggunakan bahasa itu selama tiga tahun, dari tahun 1994 hingga 1997 saat berdomisili di “Kota Arang” (julukannya saat itu), penulis akan mengulas sedikit tentang Bahasa Tansi.

Bacaan Lainnya

Bahasa Tansi dilatarbelakangi oleh beragamnya etnis yang ada di Kota Sawahlunto yang terdiri dari Minang, Jawa, Sunda, Batak, Bali, Madura, Bugis, Cina hingga Eropa.

Sejak ditemukannya cadangan batubara sebagai sumber energi oleh Ing. W. H. De Greeve (berkebangsaan Belanda dan dimakamkan di Nagari Durian Gadang, Sijunjung), dibutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar yang didatangkan dari berbagai penjuru nusantara.

Bahkan dulu ada lembaga pendidikan bernama Sekolah Teknik Tambang Menengah (STTM), setiap tahun hanya menerima 27 siswa yang berasal dari utusan 27 propinsi se-Indonesia mulai D. I. Aceh hingga Timor Timur.

Keseharian penduduk tak peduli apapun sukubangsanya, menggunakan Bahasa Tansi sebagai sarana komunikasi.

Beberapa kalimat yang sering digunakan dalam Bahasa Tansi, antara lain adalah sebagai berikut.

“Kemana aja ke, kok ndak ketok-ketok?,” kalimat ini dipengaruhi oleh bahasa Jawa yang artinya “Kemana saja kamu, kenapa tidak pernah kelihatan?”

Berikutnya adalah, “Sinilah tak kecek in, pake baju yang rancak biar enak diliek orang,” kalimat ini didominasi oleh percampuran dua bahasa (Jawa-Minang) yang artinya “Kesinilah saya sampaikan, pakai baju yang bagus supaya enak dilihat”.

Selanjutnya yaitu “Ke kalo jaek kenak marah sama mamak ntik,” artinya yaitu, “Kamu kalau nakal dimarahi ibu nanti” ini adalah pencampuran tiga bahasa (Jawa, Minang dan Batak).

Kemudian “Kalo di Slunto yang paling enak tu duren Kubang,” artinya “Kalau di Sawahlunto yang paling enak adalah durian Kubang”. Ini adalah penggunaan kosakata yang disingkat-singkat.

“Itulah ke mada, dak mau dengerin kecek aku,” artinya “Itulah akibatnya karena kamu bandel, tidak mau mendengar nasehat saya”.

(AG)

Dapatkan update berita terbaru dari Topsumbar. Mari bergabung di Grup Telegram Topsumbar News Update, caranya klik link https://t.me/topsumbar kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Pos terkait