Suara Dzikir Imam Dapat Mengganggu Kekhusukan Salat Dalam Masjid

466

Kajian Jumat Oleh: Amri Zakar Mangkuto Malin, SH, M.Kn

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد

Kaum muslimin rahimakumullah.

Yang setia dengan kajian jumat Topsumbar.co.id, semoga kajian kali ini menambah pemahaman akan ilmu dan iman dalam beribadah, jangan beribadah karena menjalankan satu perintah Alloh dan rasul ada pula perintah yang dilanggar, inilah namanya pemahaman akan hukum beribadah.

Sehingga tidak cukup hanya berilmu dan beriman tetapi pemahaman dengan syarat dan rukun beribadah serta larangan dan perintah beribadah terutama ibadah yang dilakukan bersama-sama.

Seperti dzikir di masjid selesai salat berjemaah, atau berdoa sebelum salat jumat sementara jemaah lain ada yang mendirikan salat, sehingga lebih utama menghormati orang yang salat di dalam masjid dari pada mengeraskan dzikir.

Tentunya perlu setiap generasi dibekeli Iman dan Ilmu dalam ibadah, jangan sampai ikut-ikutan.karena suatu amalan mesti ada panduan, tuntunan,terpenuhi syarat dan rukunnya, bukan karena ada perintah sholat dan dzikir lantas DIPIKIRKAN DAN DIBUAT CARA SALAT DAN CARA DZIKIR MENURUT YANG BAIK MENURUT CARA SENDIRI, hal ini perlu untuk diperhatikan, karena Alloh berfirman:
لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ

“(Agama) itu bukanlah menurut angan-anganmu dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab“ [QS. An Nisa: 123].

Pada ayat lain Alloh SWT firmankan: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS.Al-Isra’:36).

Jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah iman dan ilmu, sehingga setiap zaman berubah, MAKA BERUBAH PULA CARA IBADAHNYA, SEIRING PERUBAHAN ULAMANYA.PADAHAL SIAPAUN ULAMANYA, SOAL ISLAM DAN IMAN TETAP SUDAH SAMA SEJAK NABI ADAM DIUTUS SAMPAI NABI MUHAMMAD SAW HANYA RETHORIKA DAKWAHNYA SAJA YANG BERBEDA.

Dan Alloh SWT telah berfirman:”Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (QS. An-Nisa’ Ayat 9).

Sebagai contoh yang lemah ilmu dan iman dalam suatu hadist berikut:

AHLI IBADAH TETAPI MENYAKITI TETANGGA/ ORANG SEKELILINGNYA /SAHABATNYA MAKA DIA AHLI NERAKA. SEBALIKNYA IBADAH SEDERHANA TIDAK MELANGAR AJARAN AGAMA DIA AHLI SYORGA.

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Dikatakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah (seorang wanita) rajin mendirikan salat malam, gemar puasa di siang hari, mengerjakan (kebaikan) dan bersedekah, tapi sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka. Mereka (para sahabat) berkata (lagi): “Fulanah (lainnya hanya) mengerjakan shalat wajib, dan bersedekah dengan beberapa potong keju, tapi tidak (pernah) menyakiti seorang pun.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Dia adalah penghuni surga.” (Imam al-Bukhari).

KEDUDUKAN SUARA DZIKIR IMAM YANG MENGGAGU JEMAAH LAIN SEDANG SALAT

Sering dan sudah menjadi kebiasaan setiap salat berjemaah dilakukan dzikir dan doa, apalagi sebelum jumat ada dzikir dan bacaan alquran. Sementara jemaah ada yang salat sunnat dll, hal tersebut suatu kebaikan dan suruhan dalam agama.

Tetapi ketika dzikir dan doa itu dilakukan di dalam masjid, maka ada haq jemaah lain yang harus diperhatikan oleh imam, yaitu haq dari orang yang masbuq/ orang yang terlambat mendirikan salat, baik melanjutkan bilangan salat yang tertinggal maupun datang ke masjid untuk salat, karena masjid tempatnya mendirikan salat.

HENTIKAN MENGERASKAN DZIKIR KETIKA ADA JEMAAH LAIN YANG SALAT DALAM MASJID, KARENA ITU MENGGANGU ORANG LAIN SALAT

Perintah menghentikan ini, sebagaimana didalam hadist Rasulullah SAW yang sedang beritikaf menegur orang yang membaca Al-Quran dengan suara lantang sehingga ibadah itikafnya terganggu.

Sebagaimana kami kutip berikut ini: Artinya, “Dari Abu Said, ia bercerita bahwa Rasulullah SAW melakukan itikaf di masjid. Di tengah itikaf ia mendengar mereka (jamaah) membaca Al-Quran dengan lantang.

Rasulullah kemudian menyingkap tirai dan berkata, ‘Ketahuilah, setiap kamu bermunajat kepada Tuhan. Jangan sebagian kamu menyakiti sebagian yang lain. Jangan juga sebagian kamu meninggikan atas sebagian lainnya dalam membaca.’ Atau ia berkata, ‘dalam shalat,’” (HR Abu Dawud).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallau ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah sebagian kamu mengeraskan bacaan dalam salat, sehingga terdengar kepada sebagian yang lain.”(HR. Ahmad).

MENGHENTIKAN SUARA DZIKIR ,INI JUGA TERHADAP JEMAAH YANG SAMA-SAMA MENDIRIKAN SALAT DI MASJID, JANGAN SAMPAI SUARA BACAAN SALAT DAN DZIKIRNYA MENGGANGU JEMAAH LAIN

Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda: ”Apabila engkau berkata kepada temanmu pada hari Jum’at sedangkan imam sedang berkhutbah, “Diamlah,” maka sesungguhnya engkau telah melakukan perbuatan sia-sia.” [Muttafaq ‘alaih].

Larangan bersuara ini, dapat diqiyaskan kepada ibadah salat, karena khutbah jumat bagian dari salat jumat.

KETENTUAN DZIKIR SETELAH SALAT TELAH ADA DI ZAMAN RASULULLAH SAW
MUBAH BERDZIKIR SETELAH SALAT,JIKA ADA ORANG SALAT WAJIB DILEMBUTKAN/DI SIIRKAN SUARANYA

Dari Ibnu Jarir, ia berkata, ‘Amr telah berkata padaku bahwa Abu Ma’bad –bekas budak Ibnu ‘Abbas- mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Mengeraskan suara pada dzikir setelah salat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa salat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lainnya disebutkan,
كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ
“Kami dahulu mengetahui berakhirnya salat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.” (HR. Bukhari dan Muslim).

LARANGAN MENGERASKAN SUARA KETIKA BERDZIKIR KEPADA ALLOH SWT, APALAGI DENGAN NADA DAN GERAKAN TUBUH YANG BERLEBIHAN

Dalam hadits Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghoib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

SUARA SEDANG DALAM BERDZIKIR
(sebatas terdengar oleh telinga sendiri tanpa menggagu telinga orang lain)

َلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya” (QS. Al Isro’: 110).

ALLAH TIDAK SUKA KEPADA SUARA DAN SIKAP YANG MELAMPAUI BATAS DALAM BERDZIKIR

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’rof: 55).

BERDOALAH KEPADA ALLAH DENGAN SUARA YANG LEMBUT

Allah menceritakan tentang Zakariya,
إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا
“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3).

Demikian pula yang diperintahkan dalam dzikir. Allah Ta’ala berfirman,
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ
“Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang.” (QS. Al A’raf: 205).

BACAAN IMAM YANG KERAS MELEGKING DAN NADA TINGGI KETIKA MEMBACA BACAAN SALAT TIDAK SESUAI DENGAN KETENTUAN YANG DIPERINTAHKAN OLEH RASULULLAH SAW, APALAGI SUDAH SUARA KERAS PAKAI PENGERAS SUARA, SEHINGGA MASJID MENJADI RIUH KARENA KERASNYA SUARA

Dari ‘Aisyah, mengenai firman Allah, “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya”. Ayat ini turun berkenaan dengan masalah do’a. (HR. Bukhari).

MENGERASKAN DAN MELEMBUTKAN DZIKIR, KETIKA TIDAK ADA ORANG SALAT SUATU YANG MUBAH

Dari Uqbah bin Amir ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang membaca Alquran dengan suara keras adalah seperti orang yang bersedekah terang-terangan, dan orang yang membaca Alquran dengan suara perlahan adalah seperti orang yang bersedekah dengan sembunyi-bunyi.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’i, dan Hakim).

BERDISKUSI DAN MEMBAHAS HAL DUNIA DALAM MASJID DIBOLEHKAN KETIKA MENUNGGU WAKTU SALAT ,DENGAN PEMBICARAAN YANG MENYANGKUT KEBAIKAN AGAMA

Suatu riwayat mengisahkan dari Jabir bin Samurah: “Rasulullah SAW tidak (pernah) meninggalkan tempat salatnya di masjid setelah salat Subuh sebelum matahari terbit. Jika matahari telah terbit, maka beliau pun akan beranjak (meninggalkan masjid) sementara para shahabat sedang bercakap-cakap. Terkadang mereka membicarakan kejadian di masa jahiliyah sampai mereka tertawa sedangkan beliau hanya tersenyum.” [HR. Muslim).

Saya berkata kepada Jabir bin Samurah: Apakah kau pernah bermajelis dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Beliau menjawab: “Ya, banyak. Beliau tidaklah bangun dari tempat shalatnya di waktu shalat subuh atau pagi sampai terbitnya matahari. Jika matahari telah terbit dia bangun. Dahulu mereka membicarakan peristiwa-peristiwa yang mereka alami ketika masih jahiliyah, lalu mereka tertawa dan tersenyum.” (HR. Muslim, Abu Daud,Ahmad dan Ibnu Hibban).

LARANGAN MENGGANGU ORANG LAIN YANG SALAT DALAM MASJID

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang beri’tikaf telah bersabda, artinya,
“Ketahuilah bahwa setiap dari kalian sedang bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah sebagian dari kalian mengganggu yang lainnya.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan al-Albani).

JANGAN MELINTASI TEMPAT SUJUD ORANG YANG SEDANG SALAT

Rasulullah SAW bersabda;”Andaikata orang yang lewat di depan orang salat mengetahui besarnya dosa yang ada padanya niscaya berhenti menunggu selama 40 tahun lebih baik dari pada melewatinya.” (al-Bukhari dan muslim).

Pada hadist lain disabdakan: “Jika salah seorang dari kalian salat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan” (HR. Al Bukhari,dan Muslim).

DAGANGAN YANG MENGGANGU KONSENTRASI ORANG SALAT DI MASJID

Saat ini masjid sudah menjadi pilihan tempat orang berjualan kebutuhan salat,dll, tetapi ingatlah wahai pedagang……hadist riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda; “Jika kalian melihat orang berjualan atau membeli di dalam masjid, maka ucapkanlah; ‘Semoga Allah tidak akan memberikan keuntungan kepada daganganmu.’ Dan jika kalian melihat orang yang mencari barang hilang di dalam masjid, ucapkanlah; ‘Semoga Allah tidak akan mengembalikan kepadamu.’

Wallahua’lam bis showab. Semoga kita dihindari dari perbuatan tercela tersebut.”

SIAPA BERBUAT MELANGGAR PERINTAH RASULULLAH DIA ENGGAN MEMASUKI SYORGA

Dengan hadist dan ayat di atas jelas mana perintah beribadah dan mana larangan ibadah ,jangan hanya karena tahu ada perintah beribadah tetapi melanggar haq haq ibadah orang lain.

Sebagaimana hadist berikut: Artinya: “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga.” (HR Bukhari).

CARA MENGATASI GANGUAN DI DALAM SALAT, TERMASUK GANGUAN SUARA DZIKIR YANG KERAS

Dari Utsman bin Abil ‘Ash radhiallahu’anhu ia berkata:
يا رَسولَ اللهِ، إنَّ الشَّيْطَانَ قدْ حَالَ بَيْنِي وبيْنَ صَلَاتي وَقِرَاءَتي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: ذَاكَ شيطَانٌ يُقَالُ له خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ باللَّهِ منه، وَاتْفِلْ علَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا قالَ: فَفَعَلْتُ ذلكَ فأذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّي
Wahai Rasulullah SAW, setan telah menghalangi antara aku dan salatku serta mengacaukan bacaanku. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “itu adalah setan yang disebut dengan Khanzab. Jika engkau merasakan sesuatu (gangguan) maka bacalah ta’awwudz dan meniuplah ke kiri 3x”. Utsman mengatakan: “aku pun melakukan itu, dan Allah pun menghilangkan was-was setan dariku” (HR. Muslim ).

SUARA YANG MENGGANGU SALAT ADALAH JENIS BISIKAN SYETAN

Bisikan syetan ini, sampai membuat orang salat lepas wudhuknya dengan keluar angin (kentut)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Setan mendatangi kalian lalu meniup-niup pada dubur kalian (sehingga muncul was-was). Maka janganlah membatalkan salat kecuali mendengar suara atau merasakan angin” (HR. Thabrani, dan Al Baihaqi).

Dengan ketentuan Alloh SWT dan Rasulullah SAW soal dzikir di masjid, jangan sampai melakukan perintah dzikir tetapi mengganggu orang sedang salat, dengan kata lain Imam melakukan tugasnya memandu dzikir tetapi ada jemaah yang TERGANGU DENGAN SUARA DZIKIRNYA.

Maka sebaiknya lembutkan dan sirkan suara dzikirnya,agar sama sama menjalankan ibadah kepada Alloh, inilah imam yang paham akan ilmu agama. Bukan sekedar mengathui dna mengamalkannya.

Note:
sa·lat n Isl 1 rukun Islam kedua, berupa ibadah kepada Allah Swt., wajib dilakukan oleh setiap muslim mukalaf, dengan syarat, rukun, dan bacaan tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam; 2 doa kepada Allah;

NUUN WALQOLAMI WAMA YASTHURUN.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

(Sukabumi, Jumat, 19 November 2021)

Penulis merupakan seorang pendakwah, dosen, penulis buku dan praktisi hukum

loading...