Perspektif: Ketika Museum Menjadi Cermin Buram di Masa Depan

Hai Topers, selamat datang di seri petualangan Sumatera Barat. Apakah kamu selalu menunggu update dari sahabat budaya dan pintu ke mana saja? Wahh syukurlah, karena sekarang kita akan kembali menjelajah.

Lepas dari Padang Panjang kemarin, sepertinya kita harus menuruni Lembah Anai dan terus ke Kota Padang. Ada sebuah tempat yang sangat bagus untuk kita kunjungi. Eh, tapi kali ini kita tidak akan membuka pintu ke mana saja ya. Mari tunggu mobil di halte sana dan siapkan ongkos, jika kamu ingin membeli perkedel terlebih dahulu juga boleh, sahabat budaya akan setia menunggunya.

Lihat, rinai-rinai mulai turun dan Kota dingin tanpa salju ini benar-benar luar biasa dalam balutan jubah putihnya. Sebuah mobil Sinamar datang dari arah Bukittinggi dan … waktunya kita let’s go!

Bacaan Lainnya

Apakah kamu lebih suka bepergian dengan mobil umum? Ya, selain bisa berbaur dengan orang baru, kita juga bisa sekaligus mengamati. Ada seorang bapak-bapak bertopi miring yang sedang mengantuk di depan sana, ibu-ibu berpakaian kantoran yang terus-terusan melihat jam tangan, dan seorang pengamen yang menyanyikan lagu ‘Ayam den Lapeh’ sebuah akulturasi yang tidak akan pernah didapatkan jika kamu bertualang menggunakan mobil pribadi.

Baiklah, Topers. Sebaiknya kita bicara sebentar sebelum sampai ke tempat tujuan karena sahabat budaya ada sebuah sejarah yang mencengangkan sekaligus menyedihkan. Mau tahu? Begini ceritanya.

Di sekolah, kita diajarkan bahwa semboyan para penjelajah samudra adalah tiga; Gold, Glory, dan Gospel. Mencari kekayaan, yang kita sebut sebagai rempah-rempah. Mencari kejayaan, yang kita kenal dengan perluasan wilayah jajahan, dan Gospel, menyebarkan agama. Ketiganya berpadu dalam satu rumpun yang sama, mengemban misi yang sama dan tujuan yang juga sama. Tapi apakah kamu pernah bertanya mengapa mereka tidak membeli rempah-rempah di India saja, mengapa harus ke Nusantara?

Dalam buku Dari Leiden ke Sawahlunto, pada bagian dua disebutkan dengan narasi seperti ini: Selain mencari rempah-rempah, orang-orang Eropa juga mencari manuskrip kuno Nusantara untuk kemudian mereka bawa dan teliti. Bahkan ada sebagian yang mereka jual dengan harga yang sangat tinggi. Orang-orang Belanda yang datang ke Indonesia tidak hanya mencari rempah-rempah, mereka juga mengambil naskah-naskah kuno yang ada di kuil, pesantren dan surau, kemudian mereka teliti dan bawa ke Eropa. Jika kamu ingin tahu, koleksi naskah nusantara yang paling banyak dapat kita temukan di Universitas Leiden, jumlahnya lebih dari 26.000 naskah, ini mengalahkan jumlah naskah kuno nusantara yang berhasil dikumpulkan oleh perpusnas, yang kisarannya hanya mencapai 10.000 naskah saja.

Pada tahun 1829, kitap Bible berbahasa Melayu pertama berhasil diterbitkan. Hal ini membuktikan keseriusan mereka dalam misi yang mereka emban tersebut. Hingga sekarang, manuskrip nusantara masih tersimpan di Universitas Leiden dan masih sangat terjaga. Orang-orang Belanda mempelajari naskah tersebut, yang berisikan mantra-mantra kuno, ajian-ajian, sejarah kerajaan di nusantara, dan ilmu perdukunan.

Apakah kamu dapat menebak tempat apa yang akan kita kunjungi kali ini, Topers? Yup, Museum Adityawarman. Tapi sebelum itu, mari kita lanjutkan bahasan kita tadi sebelum sampai.

Apakah kamu pernah membaca tentang Sir Thomas Stamford Raffles yang mengumpulkan manuskrip kuno nusantara dan memboyongnya ke London? Atau tentangnya yang mencari keberadaan Candi Borobudur? Ketika orang-orang Eropa tahu potensi naskah kuno nusantara, mereka berlomba-lomba mencarinya dan mempelajarinya. Karena dalam banyak pembahasan nusantara disebut sebagai jambrut khatulistiwa. Banyak sekali sejarah yang terkubur dan malangnya Indonesia kekurangan sumber daya untuk mengeksploitasinya.

Dalam buku-buku sejarah yang ada di sekolah, kita diajarkan bahwa salah satu teori masuknya agama Hindu ke nusantara adalah teori Brahmana. Hai, Topers, apakah kamu tahu larangan bagi seorang brahmana? Yup, berlayar. Menurut kepercayaan Hinduisme, tempat yang tinggi adalah tempat yang paling dekat dengan nirvana atau nirwana atau surgaloka, sementara tempat terendah, dalam hal ini laut, adalah sarang iblis dan setan. Karena itulah para Brahmana banyak mendirikan tempat peribadatan mereka di puncak-puncak gunung dan perbukitan. Lalu kamu yang belajar sejarah hanya di sekolah bertanya, bagaimana sebenarnya? Hanya ada satu jawaban, Topers. Pada masa itu nenek-moyang kitalah yang mengunjungi mereka dan membawa ajaran tersebut ke nusantara.

Pernahkah kamu mendengar nama kapal Jung Java? Kapal itu dikabarkan sangat besar dan jika digunakan untuk armada, maka satu kapal Jung Java saja sudah bisa mengambil alih satu pelabuhan. Tapi, mengapa di tahun 1511 Malaka bisa jatuh ke tangan Portugis? Karena orang-orang Eropa mengeluarkan dekrit atas larangan kapal Jung Java berlabuh, mereka menganggap kapal itu terlalu besar dan mengerikan, sejak saat itu kapal Jung Java sedikit disusutkan ukurannya. Selain itu, Pramoedya Ananta Toer menggambarkan bahwa kekalahan Demak di Malaka atas Portugis karena kapal Portugis memiliki ukuran yang lebih kecil, dengan begitu mereka punya kekuatan yang baik untuk bermanuver.

Setelah masa kejayaan itu, Adipati Unus pulang dengan kegagalannya, namun dengan gelar Pangeran Sabrang Lor yang sangat harum. Sultan Trenggono yang saat itu menduduki kursi Kesultanan Demak berpikir bahwa kapal-kapal buatan berikutnya harus diperkecil lagi karena akan memudahkan untuk bermanuver. Sultan Trenggono memerintahkan untuk memperkecil kapal sampai sepuluh kali lebih kecil dari ukuran sebelumnya. Lebih parah lagi pada masa Amangkurat 1, untuk menahan pemberontakan dia mengharamkan pembuatan kapal di pesisir pulau Jawa, dengan begitu jumlah kapal menjadi sangat terbatas. Hingga nusantara jatuh ke tangan penjajah, Belanda mengeluarkan dekrit yang melarang pembuatan kapal nusantara dengan berat di atas lima puluh ton.

Mengapa kita tidak menemukan catatannya sekarang? Karena semua sumber naskah kuno, serat, manuskrip, dan tulisan-tulisan itu sudah berlayar jauh ke Eropa. Nusantara hanya tinggal nama dan bahkan sekarang tidak sedikit orang Nusantara yang tidak peduli dengan kebudayaannya sendiri.

Jika kamu menginginkan sumber karena sekarang kita hidup di zaman yang bicara asal-asalan bisa dipenjara, kamu bisa membaca tulisan Prof. Oliver Wolter tentang Kemaharajaan Maritim Sriwijaya. Dalam buku History of An Idea karya Kwa Chong Guan. Buku Arab Seafaring karya George F.Hourani. Buku The Sea Craft of Prehistory karya Paul Johnstone. Buku Maritime Southeast Asia to 1500 karya Lynda Norene Shaffer. Buku Penjelajah Bahari karya Robert Dick dan tulisan-tulisan lainnya baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.

Mobil berhenti. Wah, sepertinya kita sudah sampai, Topers. Ayo turun dan melihat koleksi Museum Adityawarman.

Museum ini diresmikan pada 16 Maret 1977 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Dr. Syarif Thayeb, mengambil nama besar salah seorang raja Kerajaan Dharmasraya pada abad ke-14. Museum ini juga memiliki julukan Taman Mininya Sumatra Barat, lho Topers. Bangunan museum yang berada di areal lebih kurang 2,6 hektare dengan luas bangunan sekitar 2.854,8 meter persegi ini berada di Jalan Diponegoro, Belakang Tangsi, Kota Padang.

Untuk koleksinya sendiri, museum Adityawarman memiliki referensi peninggalan sejarah yang cukup beragam tentang berbagai aspek kebudayaan Minangkabau dan Sumatera Barat. Di dalamnya terdapat lebih dari 6000 koleksi peninggalan budaya, yang terbagi menjadi 10 kategori koleksi, meliputi geologika/geografika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika/heraldika, filologika, keramologika, seni rupa, dan teknalogika. Untuk cerita kita di atas tadi termasuk dalam kategori apa ya, Topers? Yup, ilmu penaskahan kuno disebut Filologi, dan koleksinya disebut Filologika.

Di museum Adityawarman juga ada replika arca Bhairwa dan Amoghapasa, lho. Selain itu juga ada awetan berbagai jenis burung, kera, harimau Sumatera, dan peralatan rumah tangga kuno Minangkabau. Tak terkecuali juga koleksi naskah kuno dan cap stempel kerajaan zaman dulu.

Ayo siapa yang belum pernah ke museum? Sering-seringlah berkunjung ke museum agar mendapatkan wawasan baru, Topers. Jangan sampai kita cuek terhadap budaya kita sendiri, karena museum adalah cermin masa lalu dan cermin masa depan. Oke.

Sampai di sini dulu ya petualangan kita kali ini, sampai jumpa di seri selanjutnya.

(Haris)

Pos terkait