Cerpen – Lanun-lanun Terkutuk

165

Oleh : Hasbunallah Haris

Orang-orang mulai berlarian di sekelilingku ketika mendengar deru kapal yang datang. Perempuan-perempuan menjerit sambil menghambur ke ladang tebu di depan rumah mereka masing-masing. Beberapa di antaranya lagi memilih untuk menyeret anak-anak mereka ke tepian sungai dan berdiri di depan mereka sebagai benteng terakhir, siap menghadapi segala kemungkinan yang ada jika kafir-kafir itu menghampiri mereka.

Orang-orang jahannam itu tak pernah jera datang ke desa kami, sekali sebulan mereka pasti akan datang dengan kapal cepat sambil menyandang senjata api dan berlagak pongah. Tak pernah ada pemerintah yang mengetahui hal ini, mungkin saja desa kami sudah keluar dari peta pemerintahan yang ada karena saking pelosoknya.

“Jangan, Tuan. Itu harta saya satu-satunya,” ujar seorang tua yang berpakaian bertambal-tambal berusaha mencegah salah seorang dari mereka merebut kalung di tangannya. Jahannam itu menendangnya dan menghantamkan senjata pada orang tua itu, membuatnya tersungkur.

“Jangan membantah, Orang tua. Kau pasti tahu siapa kami, kan? Lanun sejati Malaka.”

“Keparat, kalian akan dikejar pemerintah.”

“Pemerintah yang mana yang kau maksudkan itu?” Dia mendekatkan wajahnya dan menatap dengan beringas, kumis panjang melintangnya dipelintir dengan angkuh. “Jika yang kau maksud adalah pemerintah yang suka mandi uang itu, maka sampai kiamat kalian akan tetap menderita.”

Dua orang di belakangnya tertawa mengerikan. Lantas setelah mengamati kalung yang berhasil mereka rampas, ketiganya pergi untuk menjarah harta lainnya, masuk ke rumah-rumah penduduk dan mengobrak-abrik apa saja yang ada di dalamnya.

Orang kampung kami tak masalah jika ada lanun yang datang dan mereka harus membayar semacam upeti, tapi bukan hanya itu saja yang mereka inginkan. Mereka juga mencari gadis-gadis desa untuk dibawa dengan kapal cepat mereka, entah ke mana dan untuk apa. Belakangan kudengar mereka menjualnya ke negara tetangga.

“Rojab, kau kah itu?” Seseorang berbisik di dekatku, malam yang tenang itu telah berubah hiruk-pikuk dalam sekejap, lalu hening lagi sehening-heningnya. “Kau di sana, Rojab?” ulang suara itu lebih keras.

Aku berjalan membungkuk-bungkuk melewati kebun tebu, menuju arah suara yang tadi memanggilku.

“Kau tidak ke hutan, Jum?” kataku akhinya sampai di depan gadis berbaju biru laut itu. Dari rona wajahnya yang kulihat, jelas sekali dia sangat mengharapkan perlindungan.

“Aku tidak berani,” katanya jujur. “Mungkin saja di sana banyak harimau.”

“Jadi kau lebih suka dibawa mereka daripada berkelahi dengan harimau?”

“Bukan begitu!” Jum meninggikan suaranya membentakku, lantas dia berbalik menuju rawa-rawa desa kami dan hendak menyeberang ke sana. “Aku hanya menunggumu, ayo ke hutan, kurasa kafir-kafir itu belum akan pergi sampai subuh tiba.”

Memang demikianlah adanya, sejak aku pulang dari Malaysia dan tinggal kembali di desa, orang-orang beringas itu baru akan pulang setelah subuh datang. Mereka tentu saja tidak berani jika harus mengarungi sungai desa kami malam hari, betapapun lanunnya mereka. Karena menurut cerita yang kudengar, buaya putih yang ada di sana tidak suka dengan deru kapal malam hari. Jadi mereka akan tidur di rumah yang mereka pilih dan minum-minum layaknya di rumah sendiri.

“Kau kedinginan?” kataku yang kebetulan sempat menyambar kain sarung dan melilitkannya ke leher, kain sarung Bugis.

“Tidak.” Jum berbohong, makin mengeratkan dekapan tangannya ketika angin malam berdesir menggoda kami. “Kira-kira ke mana orang-orang pergi? Aku tak menemukan mereka lagi.”

“Pasti ke gua persembunyian,” tebakku yang biasanya tak akan meleset. Memang jika kita berjalan mengikuti jalan setapak kea rah matahari teggelam, atau ke bukit desa, di sana kita akan menemukan sebuah ceruk yang cukup banyak. Orang-orang desa biasanya akan berlindung di sana jika lanun jahannam itu muncul.

Kami terus berjalan, kubiarkan Jum berjalan lebih dulu dan kuberikan sarung yang melilit leherkku padanya. Jum menolak, namun aku mengatakan pakai saja atau aku akan membuang saja sarung itu. Dengan sedikit terpaksa Jum memakainya dan dia mulai tampak tak gemetar lagi. Cahaya bulan separoh di atas sana menerangi langkah kami, sebagai orang asli desa, kami tentu saja sudah hafal jalan ke ceruk itu meskipun dengan mata tertutup.

“Ui … kalian.” Terdengar suara orang memanggil, lalu bunyi gemerisik belukar yang tercerabut. “Kalian mau ke mana?” katanya setelah mendekat dengan nafas yang memburu. “Kafir-kafir itu sudah tahu persembunyian kita.”

“Apa? Jadi di mana mereka sekarang?”

Asep, yang masih mencoba mengatur nafasnya menunjuk ke punggung bukit, di sana kami melihat tiga atau empat cahaya kecil yang bergerak. Tak mungkin aku salah lihat, itu pastilah senter-senter kafir itu yang sedang menuju gua persembunyian orang desa.

“Gawat! Siapa yang memberitahu kafir-kafir itu?” geramku menatap empat titik terang yang terus bergerak.

“Entahlah, yang pasti mereka akan mendapatkan banyak gadis jika sampai di sana sebelum orang-orang desa mneyadarinya.”

“Itu tidak boleh terjadi.” Jum kembali menggigil ketakutan. “Mereka tidak boleh membawa siapapun malam ini.”

“Ya, begitulah yang kita semua inginkan, Jum. Tapi ada orang yang bekerja sama dengan kafir-kafir itu yang menunjukkan letak persembunyian kita. Sekarang kita harus apa?”

“Kita akan lawan,” kataku meyakinkan mereka. “Kita harus ke sana juga dan melempari mereka dengan batu.”

“Tapi, mereka membawa senjata, kau tidak lupa dengan itu, kan?” Asep memperingatkanku, setengah dirinya merasa berani namun setengahnya lagi takut-takut.

“Kita akan usir mereka malam ini, kau pergilah ke bantaran sungai dan tenggelamkan kapal mereka, aku dan Jum akan menghadang mereka di bukit itu bersama orang-orang desa kita lainnya. Cepatlah!”

Asep walau sedikit ragu tetap beranjak, dia berjalan terseok-seok ke arah jalan setapak yang telah kami lewati tadi. Aku tahu dia percaya padaku, dan aku akan lebih senang memberinya tugas yang tidak terlalu berbahaya tersebut daripada harus memintanya ikut bertarung di area terbuka. Melubangi kapal tidak terlalu sulit.

“Tapi, bagaimana jika ada dari mereka yang menjaga kapal?” Jum memberikan pemikirannya setelah Asep pergi. “Mereka bisa saja membunuhnya, kan?”

“Tidak,” jawabku yakin. “Sejak kedatangan mereka pertama kali, tidak pernah ada di antara mereka yang menunggu di kapal. Semuanya akan turun dan mencari apa saja yang berhasil mereka dapatkan.”

“Yang mereka cari itu hanyalah harta dan gadis-gadis.”

Aku mengangguk. “Kita harus bergerak sekarang, kita harus lawan kafir-kafir keparat itu dengan kekuatan kita.”

Jum mengangguk, sejak kecil dia sudah tahu bagaimana tekadku. Aku pernah berkelahi dengan babi hutan saat berusia delapan tahun dengan tangan kosong. Sejak itu semua orang di desa seakan memercayaiku jika aku mengambil sebuaah kebijakan. Mereka menyebutku Rojab si Raja Hutan.

Kami berjalan cepat mendaki bukit, berusaha mendahului orang-orang itu yang hendak mencapai ceruk dengan melewati jalan pintas, setelah itu berlarian ke dalam ceruk dan membangunkan semua orang dengan berbisik, memperingatkan mereka bahwa sekarang sudah tidak aman lagi. Sekali lagi suasana ribut terjadi, semua orang yang mendengar perkataanku lintang-pukang ke segala arah. Aku segera memperingatkan mereka dan memberikan saran untuk menghajar mereka malam ini. Aku memberikan mereka semangat bersatu dan memerintahkan ibu-ibu untuk turun bukit dan bersembunyi di tepi sungai, sementara kami yang laki-laki akan menantang mereka dengan alat seadanya, aku yakin dengan kondisi gelap sekarang mereka hanya akan menembak membabi-buta tanpa tahu sasaran yang tepat.

“Tidak, kami akan ikut melawan,” ujar ibu-ibu menolakku ketika aku memintanya menyingkir untuk mencari persembunyian lain.

“Benar, kita akan mengusir mereka bersama-sama,” timpal yang lain pula.

“Kita akan buktikan pada mereka bagaimana rasanya disakiti.”

Aku tak dapat menolak lagi karena masing-masing dari mereka sudah berdiri di sekelilingku sambil menggenggam batu. Aku mengangguk dan mungkin mereka benar, aku harus mengizinkan mereka ikut dalam pertempuran ini.

Maka malam itu entah berapa ratus batu yang beterbangan ke udara, entah berapa tembakan yang menyalak. Semuanya sama-sama gigih mempertahankan diri. Aku terus berteriak ke arah kafir-kafir itu sambil melemparkan potongan-potongan kayu dan batu sebesar kepalan tangan, beberapa di antara mereka mengaduh dan beberapa yang lainnya mengumpat-umpat dengan bahasa mereka yang tak lagi jelas karena rombongan ibu-ibu sudah datang dan juga melempari mereka.

Pertarungan sengit itu mungkin hanya berlangsung setengah jam, kami berhasil menang dan orang-orang lelaki menyeret mereka ke tengah kampung untuk diikat di sana, beberapa wanita menyarankan untuk dibakar, namun aku menolaknya dengan mengatakan itu sama saja kejamnya dengan mereka.

“Kita akan kirim mereka ke tengah lautan dengan kapal mereka, ikat dan nyalakan kapalnya, aku yakin buaya putih akan menghakimi mereka.”

“Setuju, ikat mereka dan buang ke dalam kapal dan biarkan kapal itu berlayar.”

Asep menghampiriku dan membisikkan sesuatu. “Mereka ada dua kapal, Jab. Satu sudah kusembunyikan dan satu lagi tak jadi kulobangi. Kita akan pakai kapal itu untuk menghanyutkan orang-orang ini.”

Aku mengangguk. “Bagus, pintar sekali kau tak jadi melobangi kapalnya.”

“Sebenarnya aku tak tahu bagaimana caranya,” ujar Asep kembali berbisik dengan malu-malu. Tak lama kemudian Jum datang dan mengembalikan sarung Bugis yang kupinjamkan padanya.

Sejak malam itu, tak ada lagi lanun yang datang ke desa kami.

 

loading...