Kiprah Diaspora Minang di Polandia

716

Oleh: Taufiq Lamsuhur

Tidak mudah mendapatkan data yang komprehensif mengenai jumlah diaspora suku tertentu di sebuah negara, termasuk Polandia.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah tidak adanya data base yang baku karena sifat dari manusia yang dinamis, bergerak dan berinteraksi semakin luas.

Definisi asal suku semakin luas dan beragam seiring dengan pembauran akibat dari aspek migrasi dari perkembangan karir, tempat menempuh pendidikan, daerah dimana periode-periode hidup dilalui dan sebagainya.

Tercatat beberapa profil diaspora Minang di Polandia saat ini.

Bapak Syaf Ruddin (57 tahun), salah seorang orang awak yang paling senior di Polandia.

 

Lebih dari 33 tahun berada di Polandia, tepatnya di Warsawa sejak dirinya memutuskan untuk bekerja di Kantor Perwakilan RI di Polandia.

Kecil dan dibesarkan di salah satu Kabupaten Sijunjung, kecamatan Kupitan, Nagari Batumanjulur. Pak Syaf akhirnya memilih Polandia sebagai tempat untuk merantau setelah direkomendasikan untuk ikut mendampingi Duta Besar RI Ambiyar Tamala pada tahun 1987-an.

Saat ini Pak Tuo Syaf masih bekerja untuk KBRI Warsawa. Memilih warga setempat sebagai pasangan hidup, beliau dikaruniai 2 (dua) orang puteri dan salah satunya telah memberikan seorang cucu wanita.

Berikutnya, ada Uda Ariel Ilnata dari salah satu nagari di Solok. Hampir 15 tahun lebih uda Ariel tinggal di Polandia.

Mengawali karir di perusahaan Poland Hit Electronics, uda Ariel mempersunting wanita Polandia yang pertama kali bertemu dengan dia saat wanita ini studi di Padang mengenai budaya Indonesia dalam skema beasiswa Darmasiswa.

Saat ini Uda Ariel masih bekerja di sektor elektronik dan telah memiliki sepasang buah hati.

Selanjutnya Uda Ryan Rosfian, berasal dari kota Padang. Baru sekitar 3 tahun memilih menetap di Polandia, tepatnya di kota Łyszkowice.

Ryan saat ini menjadi salah satu artis mural di Polandia. Beberapa hasil karyanya telah terpampang di beberapa tempat usaha, kantor pemadam kebakaran, Hotel,dan beberapa rumah tinggal setempat.

Artis mural ini mempunyai keahlian lain yang ia tekuni, seperti fokus perencanaan arsitektur yang ia tekuni sampai memutuskan pindah ke Polandia.

Memulai karier music sebagai drummer dari 2003 di Padang (menghasilkan 3 album musik hingga 2015), hingga akhirnya pindah dan mendirikan perusahaan kecil ( private company) yang berfokus pada mural dan industry tattoo di Polandia.

Uda Rian menikah dengan seorang warga negara Polandia dan telah memiliki satu orang putera.

Diaspora berikutnya adalah Afwan Hafiz yang saat ini tengah menempuh studi magister jurusan Fisika di Universitas Warsawa sejak tahun 2020.

Lahir di Bukit Tinggi dan merupakan lulusan dari Madrasah Sumatera Thawalib Parabek Bukit Tinggi ini, menamatkan studi D-4 nya di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir Yogyakarta.

Polandia menjadi pilihan studi bagi Afwan karena tertarik dengan skema beasiswa Ignacy Lukasiewics yang ditawarkan oleh Pemerintah Polandia.

Terdapat beberapa perantau berdarah Minang lainnya di Polandia namun memilih low profile dalam pengungkapan data dan informasi pribadi.

Tidak mudah dan juga tidak sulit bagi diaspora Minang untuk tinggal di Polandia karena mereka telah terbiasa dengan prinsip “Dimana Bumi Dipijak, Di sana Langit Dijunjung” yang artinya selalu berupaya beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Hal ini tidak hanya terkait dengan perbedaan budaya tetapi juga perbedaan aspek alam yang berpengaruh pada cuaca, iklim dan juga kebijakan multikultur di Polandia.

Meskipun para perantau-perantau Minang ini tidak memiliki paguyuban yang formal namun komunikasi antara mereka berjalan dengan baik.

Salah satunya terlihat dalam mendorong pengumpulan dana kemanusiaan dan dukungan terhadap salah seorang mahasiswa asal Padang yang meninggal pada Desember 2020 akibat sakit yang diderita, yang dapat dipulangkan jenazahnya ke tanah air.

Penulis:
Taufiq Lamsuhur
Counsellor Ekonomi pada KBRI Warsawa, Polandia
Pengamat Isu-isu Sosial

loading...