Keunikan Istana Raja Alam Tuanku Rajo Disambah di Solok Selatan

327

Hai, Topers.

Selepas dari istana Raja Adat Alam Surambi Sungai Pagu pucuk pimpinan Kampai Nan 24 kemarin, saya tidak langsung singgah ke istana lainnya. Saya mencoba untuk merenung sebentar guna menjajaki dan bertualang kembali ke masa-masa lalu. Masa yang sangat sulit saya gapai, ketika tahta kerajaan masih sangat berkuasa. Barulah dua hari kemudian saya datang ke istana Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah Raja Alam Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu.

Saya datang selepas zuhur, cuaca sedikit mendung, awan berat tengah menggantung di udara. Bersama seorang teman videografer, kami datang ke janjang rumah gadang yang sangat elegan dan berwibawa itu. Letaknya tak jauh dari Masjid 60 Kurang Aso (nanti kita juga akan bercerita banyak tentangnya) dan dipagari besi berukir berikut halamannya yang cukup luas.

Rumah gadang ini sedikit lebih besar pastinya dari istana adat raja Balun, juga lebih banyak ukiran di dinding maupun langit-langitnya. Pandangan saya terpaku pada arsitektur rumah gadang yang begitu kokoh, elegan dan penuh percaya diri. Entah mengapa akhir-akhir ini saya lebih sering membaca tentang arsitektur daripada judul lainnya, dan arsitektur rumah gadang adalah salah satunya.

Dua kali beruluk salam, belum ada sahutan dari atas rumah gadang. Saya sempat ciut seandainya pada salam ketiga tidak mendapatkan sahutan juga, kami harus pulang. Untuk itu kami sedikit berlama-lama untuk mengucapkan salam yang ke tiga, lebih menikmati suasana yang asri dan elok disertai angin bulan April yang bersahabat. Kami memerhatikan rumah gadang bercat kuning di seberang jalan, masjid tua 60 kurang aso yang melegenda itu, dan juga beberapa pandam pekuburan di depan rumah gadang.

Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya datang mendekati kami, dia membawa nampan berisi kelapa yang baru siap dibelah dan juga beberapa bumbu gulai di dalamnya. Setelah beruluk salam, kami menyampaikan maksud kedatangan dan wanita tersebut menyilakan kami naik ke rumah gadang.

“Naiklah, kita bicara di dalam saja,” ujarnya.

Berbeda dengan rumah gadang di Balun. Rumah gadang Tuanku Rajo Disambah yang didirikan tahun 1636 tersebut dihuni oleh keturunan langsung Inyiak Samsudin Sadewano, dan wanita yang kami temui di halaman rumah tadi adalah Puti Susi Meriani, adik dari Puti Nilam Sari.

Dengan tangan terbuka dan keramah-tamahan yang tidak dibuat-buat, Puti Meriani menjelaskan kepada kami tentang sejarah raja-raja, sejarah rumah gadang dan cerita-cerita menarik lainnya yang membuat saya tak mampu berkata-kata.

“Dulu tahun 1883 rumah gadang ini runtuh karena letusan Krakatau, juga tahun 1942 saat gempa bumi. Lalu dipindahkan ke mari setelah tahun 1956, sebelumnya bangunan ada di Kampuang Dalam.”

Puti memperlihatkan kepada kami beberapa koleksi tua yang masih disimpan di rumah gadang tersebut. “Kalau di istana adat Balun tersimpan naskah Balun, kami di sini juga punya peninggalan yang kami simpan, itu di dalam lemari ada Payuang Sakaki, Tombak Sabatang, Ikek Kuniang Kangkuto Daulat, Gandang Nobat, Gandang Puluik-puluik, Gandang Duo Nan Salabuan, Pupuik Saruni, Guang Gadang, Talempong, Tabua Larangan, Tabua Gaga Alam, Payuang Gadang Kebesaran dan juga Galang Daulat asli dari emas.”

Konon, dua gelang yang dipakai Daulat adalah gelang sepasang (sebelah laki-laki sebelah lagi perempuan) dan asalnya pun bukan ditempa melainkan berasal dari padi yang menjadi emas.

Saat memandang isi lemari tersebut, saya melihat kebesaran yang begitu agung di masa lalu. Pun juga di sepanjang dinding rumah gadang tersebut berjejel foto-foto lama berikut ranji suku-suku daulat yang dipertuan raja Alam.

“Kami ini istilahnya berbaju dua,” ujar Puti lagi. “Ada namanya Daulat dan ada namanya Bagindo Saripado, kalau diistilahkan Bagindo Saripado adalah tangan kanan Daulat, dia yang menjalankan roda pemerintahan bersama raja Bagindo, raja Malenggang dan raja Batuah.”

Berjalan, kami bertiga memeriksa koleksi foto-foto lama yang ada di dinding rumah gadang tersebut. Puti menjelaskan kepada kami dengan penuh semangat.

“Ini foto penobatan tahun 1939,” tunjuk Puti pada sebuah foto hitam putih yang sudah sedikit buram. “Ini Daulat, lihat, kan, beliau memakai gelang emas itu. Naah, yang di sebelah beliau ini Bagindo Saripado. Saat itu yang jadi Daulat adalah keturunan ke tujuh, raja Abdul Latif, sebelum yang terakhir sekarang.”

Puti juga menjelaskan bahwa jika Daulat belum dinobatkan, maka Bagindo Saripado-lah yang akan menjalankan roda pemerintahan, dia juga berhak memakai gelang Daulat namun dia bukan Daulat.

“Nah, kalau ini Daulat yang ke delapan, raja Zulkarnain, dinobatkan pada 18 Maret 1979.” Puti menunjuk foto yang lebih besar di antara deretan foto di sana yang sudah berwarna. Terlihat seorang laki-laki berkumis, dengan tatapan keras dan penuh wibawa.

Saat kami bertanya siapa Daulat sekarang, Puti menjelaskan bahwa sampai sekarang belum ada pengangkatan. Sebab untuk menjadi Daulat, persyaratan yang harus dipenuhi amatlah banyak. Namun untuk pemerintahan sementara ini dijalankan oleh Bagindo Saripado.

Foto-foto berikutnya yang kami temukan beragam. Ada foto yang bertanggalkan Maret 1947, 1975, dan juga sebuah foto pertemuan raja-raja Nusantara yang saat itu diadakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Setelah puas memeriksa ranji, buku-buku dan foto-foto lama, Puti memaparkan tentang pengangkatan Daulat yang dilaksanakan selama tujuh hari tujuh malam. Orang-orang dari seluruh wilayah Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu akan sibuk dengan urusannya masing-masing. Pokoknya selama tujuh hari tujuh malam tersebut diadakan banyak kegiatan dan perhelatan besar-besaran.

Sebagai orang awam, saya tentu saja merindukan mesin waktu Doraemon untuk menyaksikan semua kemegahan itu. Namun sudahlah, dengan sisa-sisa kemegahan Alam Surambi Sungai Pagu sekarang, saya jadi lebih ingin untuk menggali lagi sejarah yang ada di Solok Selatan. Semoga besok pada kunjungan berikutnya saya mendapatkan hal yang tak kalah menariknya dari sekarang.

Salam budaya,

(Haris)

loading...