Ketika Talempong Merambah Panggung Internasional

Hai, Topers. Gimana nih kabarnya? Semoga tetap semangat menjalani harinya ya. Hari ini kita tidak keliling Topers, tapi ada kabar gembira yang akan sahabat budaya sampaikan nih. Aduh, darimana memulainya ya, hehehe.

Empat hari yang lalu, Direktur Perfilman, Musik dan Media (PMM) Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, bapak Ahmad Mahendra berkunjung ke Sumatera Barat. Nah, dalam kunjungan tersebut beliau menyampaikan bahwa peluang anak muda pecinta seni dalam unjuk karya saat sekarang ini sangat difasilitasi oleh negara. Presiden Joko Widodo telah memberikan fasilitas kepada seniman yang berkarya di bidang musik, film dan media.

Selain itu, beliau juga menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara berbudaya, multi etnis dan memiliki keberagaman, apakah dalam bahasa, adat dan juga tradisi. Ini adalah hal yang sangat menarik untuk ditonjolkan di kancah internasional. Tak kurang juga dengan Sumatera Barat yang memiliki banyak seniman sejak dulunya.

Bacaan Lainnya

Sekarang, yuk kita bahas apa aja sih instrumen musik yang ada di Minangkabau ini? Untuk hari ini kita mulai dari talempong dulu ya, Topers. Let’s go!

Sebenarnya kita tak akan banyak menemukan sumber dari mana sesungguhnya talempong ini berasal. Namun dalam salah satu sumber disebutkan bahwa talempong sudah ada di Minangkabau sejak abad ke-13 M dan dimainkan oleh orang-orang Minangkabau yang tinggal di Pariangan ketika itu. Sementara di dalam Tambo, disebutkan bahwa talempong merupakan instrumen musik yang berasal dari India, dan dibawa oleh keturunan Sultan Iskandar Zulkarnain ke ranah Minang. Namun ada pula yang mengemukakan pendapat bahwa talempong sudah ada jauh sebelum itu, yakni dibawa oleh para perajin perunggu dari Tonkin, di utara Vietnam, yang datang ke Minangkabau pada Zaman Perunggu, beberapa abad sebelum Masehi.

Terlepas dari argumen tersebut, ini adalah PR bagi kita untuk menelusurinya hingga tuntas, Topers. Apakah kamu setuju kalau kita buat petualangan tersendiri untuk sejarah talempong ini? Namun sekarang kita akan fokus kepada prestasi talempong di panggung nasional dan internasional dulu ya, Topers.

Talempong sendiri merupakan seperangkat alat musik yang terbuat dari campuran tembaga, timah putih dan besi putih. Dimainkan dengan cara dipukul menggunakan stik (alat pukul berbahan kayu). Kualitas Talempong bisa diukur dari kadar campuran dari tiga unsur pembentuknya. Semakin banyak unsur tembaga dalam satu buah talempong maka akan semakin baik kualitasnya.

Biasanya, talempong banyak dimainkan bersama tari, atau juga dalam prosesi pernikahan di Minangkabau. Kedua mempelai jika mengadakan ‘Baralek Gadang’ maka keduanya akan diarak keliling kampung dengan iring-iringan musik talempong.

Lalu, bagaimana dengan prestasi talempong di panggung internasional?

Salah seorang anak muda Minangkabau membawa talempong hingga panggung Internasional. Dia adalah Agung Perdana, seorang komposer, arranger dan musisi etnik dengan spesifikasi utama talempong. Wah, ternyata benar kata orang ya, Topers. Nama itu adalah wujud doa, Agung Perdana memang perdana nih mengenalkan talempong ke panggung internasional.

Berbekal kepiawaiannya memainkan talempong, anak muda yang mendapatkan gelar Magister Penciptaan Seni Musik Nusantara di tahun 2017 tersebut telah merambah ke 12 negara di dunia.

Pada tahun 2017, Agung Perdana mendapatkan kesempatan berharga dengan mengikuti event 51st International Folklore Festival bersama Sumbar Talenta di Zagreb, Kroasia. Sementara event-event internasional yang pernah diikutinya antara lain adalah China Asean Theater Week bersama ISI Padang Panjang di Nanning, China tahun 2017, Seoul International Sourcing bersama Group Dalamak Kaco di Seoul, Korea Selatan tahun 2018, Indofest bersama Group Sikambang Manih di Bangkok, Thailand tahun 2018, Indonesian Festival bersama Group Dalamak Kaco di Bucharest, Rumania tahun 2019, Dubai Metro Music Festival di Uni Emirat Arab tahun 2019, Indonesian Cultural Performance at Caspian University di Almaty, Kazakhstan tahun 2019, Indonesian Diplomatic Reception Dubai bersama LAB Art Project di Dubai, Uni Emirat Arab tahun 2019 dan Sharjah Heritage Week on Theater of the Republic of Indonesia bersama LAB Art Project di Sharjah, Uni Emirat Arab tahun 2020 serta masih banyak event-event lainnya.

Wah, luar biasa ya, Topers. Semoga dapat memotivasi kita untuk terus berkarya di bidang masing-masing ya, Topers. Ingatlah bahwa sang surya akan terbit pada waktunya, jadi jangan pernah berputus asa. Salam semangat, salam budaya. Sampai jumpa di seri selanjutnya, Topers.

(Haris)

Pos terkait