Hukum Mengeraskan Dzikir Ketika Ada yang Salat

109
Amri Zakar Mangkuto Malin, SH, M.Kn

Kajian Jumat Oleh: Amri Zakar Mangkuto Malin, SH, M.Kn

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد
قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
Kaum muslimin rahimakumullah.

Pembaca TOPSUMBAR yang dirahmati Alloh SWT.

Marilah kita bersyukur kepada Alloh SWT dalam setiap urusan, dengan mengawali setiap urusan yang baik dengan Bismillah dan menyudahi dengan mengucapkan Alhamdulillah.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan ucapan allohummasholli a’la Muhammad waala a’li Muhammad.semoga atas selawat itu terlimpah syafaat Rasulullah di hari kiamat.

Suatu riwayat dari Abu Musa Al-Asy’ari meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Persamaan seseorang yang mengingat Tuhannya dan seseorang yang tidak mengingatnya adalah seperti orang hidup dan mati.” (HR Al-Bukhari).

Jangan sampai dianggap mati oleh Alloh SWT sebelum ajal tiba.

Sebagaimana kajian terdahulu sudah membahas tema yang sama, namun kajian kali ini untuk mempertegas bahwa ketika ada orang lain salat, maka DZIKIR YANG TADINYA SUARA KERAS/JAHAR HARUS DILEMBUTKAN SEBTAS TERDENGAR OLEH YANG BERDZIKIR, apalagi dzikir yang menggunakan pengeras sauara.

Maka setelah salam menjadi imam salat, ada kebiasaan Rasulullah SAW MENGHADAP KE ARAH KANAN tujuannya untuk melihat apakah ADA JEMAAH YANG SEDANG SALAT MENJADI MASBU’ ATAU TIDAK.

Jika ada jemaah yang sedang salat maka Rasulullah SAW menyampaikan firman Alloh SWT:

Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang.” (QS. Al A’raf: 205).

Dan Allah Ta’ala berfirman,
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’rof: 55).

Sehingga Allah menceritakan tentang Zakariya dalam berdoa:
إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا
“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3)
Dengan firman Alloh tersebut di atas dapat diambil hukum bahwa: BERDZIKIR KEPADA ALLOH WAJIB DILAKUKAN DENGAN SUARA LEMBUT, SEHINGGA TIDAK MENGGANGU ORANG LAIN DALAM BERIBADAH SALAT DAN MUNGKIN SEDANG BERDOA.

KARENA YANG MEMPUNYAI PAHALA LEBIH UTAMA ADALAH SALAT BERJAMAAH BUKAN DOA BERJAMAAH, sebab doa berjamaah dilakukan pada ibadah dan waktu tertentu

Sebagaimana Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan, “Yang disunnahkan dalam setiap do’a adalah dengan melirihkan suara kecuali jika ada sebab yang memerintahkan untuk menjaharkan.

KERISAUAN DENGAN PERBEDAAN CARA-CARA IMAM DALAM MEMIMPIN DOA DAN DZIKIR

Hal ini menurut suatu riwayat dari Abdullah Bin Busr meriwayatkan bahwa salah satu sahabat Nabi berkata, “Ya Rasulullah. Saya kewalahan dengan begitu banyak ajaran Islam. Jadi beri tahu saya sesuatu yang mungkin saya pegang teguh.” Nabi menjawab, “Jaga lidahmu tetap basah dengan mengingat Allah.” (Tirmidzi).

Maka Alloh berfirman untuk dijadikan pedoman ibadah salat dan dzikir yaitu:
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya” (QS. Al Isro’: 110).

Dari ‘Aisyah, mengenai firman Allah tersebut , “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya”. Ayat ini turun berkenaan dengan masalah do’a. (HR. Bukhari).

SETELAH SALAT FARDHU DI MASJID, JEMAAH LAIN ADA YANG INGIN SALAT SUNNAT ATAU SALAT FARDHU DENGAN JAMAK maka perlu oleh Imam dan pemimpin dzikir mempertimbangkan untuk memimpin dzikir dengan suara keras ditambah pengeras suara atau akan melirihkan dna melembutkan suara dzikirnya? Tergantung kepada keilmuan imam.

KEUTAMAAN IBADAH SALAT SUNNAT

Sunnat rawatib yang mengiringi ibadah salat fardhu, sebagaiana hadist:

“Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. Tirmidzi).

“Jika seorang hamba Allah SWT salat 12 rakaat (sunah) setiap hari, sebelum dan setelah salat wajib, maka Allah SWT akan membangunkannya sebuah rumah di surga atau rumah akan dibangun untuknya di surga.” (HR Muslim).

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang shalat empat rakaat sebelum Dhuhur, maka ia seperti (memerdekakan) budak dari Bani Ismail.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ath-Thabarani dari shahabat Ansar.

KEUTAMAAN SALAT SUNNAT SEBELUM DAN SETELAH JUMAT

KETIKA HARI JUMAT, dimasjid-masjid sering terdengar PENGUMAMAN, LAPORAN, DOA-DOA YANG MENDAHULUI SALAT JUMAT, sehingga jemaah yang hadir SALAT DITENGAH SUARA-SUARA DZIKIR DAN PENGUMUMAN-PENGUMAMAN, TENTUNYA JIKA PAKAI PENGERAS SUARA…PASTI PENGUMUMAN DAN DZIKIR ITU AKAN MENGGNAGU KEKHUSUKAN ORANG YANG SALAT.

Padahal ada ibadah yang lebih utama dilakukan di masjid sebelum dan sesudah salat jumat yaitu salat sunnat sebelum dan sesudah jumat:

Dari Ibnu Umar dia berkata, “Apabila di Makkah, dia mengerjakan sholat Jumat, lalu maju kemudian dia mengerjakan sholat (sunnah) dua rakaat, sesudah itu beliau maju kembali dan mengerjakan salat empat rakaat, apabila di Madinah, dia sholat Jumat kemudian pulang ke rumahnya lalu sholat dua rakaat, dan tidak sholat di Masjid, lalu di beritahukan kepadanya, maka dia menjawab, “Rasulullah SAW juga melakukan hal itu. (riwayat Imam Abu Dawud) .

Dari Abu Hurairah RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian telah selesai menunaikan sholat Jumat maka sholatlah empat rakaat, jika engkau sedang terburu-buru dengan sesuatu maka sholatlah dua rakaat, sedangkan yang dua rakaat lagi ketika telah sampai di rumah( Imam Ahmad).

APAKAH DZIKIR SETELAH SALAT ADA DI ZAMAN RASULULLAH SAW?

Dzikir setelah salat di zaman Rasulullah SAW sudah ada, tujuannya untuk EDUKASI DAN BELAJAR TENTANG BACAAN DOA-DOA

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

“Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.” (HR. Bukharidan Muslim ).

Ini adalah suatu edukasi kepada umat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan pada hadist lain rasulullah MELARANG MENGERASKAN SUARA DALAM BERDZIKIR:
Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. KALIAN TIDAKLAH MENYERU SESUATU YANG TULI dan ghoib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. ALLAH MAHA MENDENGAR DAN MAHA DEKAT. MAHA BERKAH NAMA DAN MAHA TINGGI KEMULIAAN-NYA.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan adanya beberapa hadist tentang dzikir tersebut, bukan berarti ada pertentangan satu hadist dengan hadist lain, atau ada dua kebenaran dan semua benar tidak demikian, tentu suatu hadist diturunkan sesuai zaman dan peristiwanya, maka orang yang diberi pemahaman akan mudah memahami ayat dan hadist untk mengambil hukum.

Maka dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa berdzikirlah kepada Alloh dengan suara lembut penuh harap, dan ketika menjadi imam lihat-lihatlah jamaah dengan menghadap ke sebelah kanan setelah salam, jika ada jamaah yang terlambat dna atau salat setelah imam salam, MAKA JANGAN KERASKAN SUARA DZIKIR itu lebih utama untuk menjaga kekusukan jamaah lain yang sedang salat.

NUUN WALQOLAMI WAMA YASTHURUN.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

(Sukabumi, Jumat, 20 Mei 2022)

Penulis merupakan seorang pendakwah, dosen, penulis buku dan praktisi hukum

loading...