Delva Rahman Terima Hibah Cipta Media Ekspresi Penggagas Bakureh Project

754
Delva Rahman (foto : www.instagram.com/delva.rahman/)
Delva Rahman (foto : www.instagram.com/delva.rahman/)

JAKARTA, TOPSUMBAR– Tepat dihari Kartini, Sabtu (21/04/2018) Cipta Media Ekspresi mengumumkan penerima hibah seni dan budaya senilai 3,5 M. Hibah untuk perempuan pelaku kebudayaan di segala bidang seni yang didanai oleh Ford Foundation dan dikelola oleh Wikimedia Indonesia telah menerima 1.168 (seribu seratus enam puluh delapan) permohonan hibah dari 34 provinsi di Indonesia.

Seluruh permohonan hibah dipelajari oleh delapan juri independen, yaitu Aleta Baun (aktivis lingkungan dan politisi), Andy Yentriyani (aktivis perempuan dan keberagaman), Cecil Mariani (perancang grafis dan pelaku koperasi), Heidi Arbuckle (penggagas hibah Cipta media dan peneliti sejarah senirupa), Intan Paramaditha (penulis fiksi dan pelaku kajian media), Lisabona Rahman (Ketua Juri, pelaku arsip dan pendataan sejarah film), Naomi Srikandi (aktor/sutradara teater dan pegiat jaringan antara seniman dengan aktivis), Nyak Ina Raseuki (pesuara dan etnomusikolog) selama lima hari lima malam.

Keragaman profil pemohon hibah ini luar biasa. Mulai dari umur, di mana pemohon hibah tertua berusia 85 tahun dan yang termuda adalah 19 tahun. Mereka yang memiliki asal usul dan bergerak di bidang seni yang berbeda seperti sindhen, rocker, santri, buruh, ibu rumah tangga hingga tokoh adat mengangkat upaya perempuan dalam seni dan budaya sejak abad ke-19 masa penjajahan saat Indonesia belum ada hingga masa kemerdekaan dan reformasi politik.

“Besar jumlah dan beragamnya peserta perempuan dalam Cipta Media Ekspresi tahun ini setidaknya membuktikan bahwa perempuan ingin dan mampu menjadi agen perubahan sosial. Ini sekaligus menyangkal alasan klise yang sering digunakan untuk menyingkirkan partisipasi perempuan dalam kegiatan sosial, budaya dan politik,” ujar Heidi Arbuckle dari Ford Foundation.

Saat ditanya mengenai keputusan juri akan penerima hibah, Lisabona Rahman sebagai Ketua Juri Cipta Media Ekspresi menyayangkan bahwa jumlah dana hibah yang bisa diberikan terbatas, akan tetapi hal ini menjadi pemacu untuk kerja penjurian.

“Pilihan-pilihan yang dijatuhkan menantang para juri untuk melampaui seleranya masing-masing, kami harus bergulat membagi dana yang tersedia untuk pemohon hibah terpilih berdasarkan permohonan dari seluruh Nusantara mulai dari ujung Aceh, Boven Digul, Adonara, hingga Kepulauan Anambas,” Katanya.

Total dana disebarluaskan Rp3,325,730,000 (Tiga Milyar Tiga Ratus Dua Puluh Lima Juta Tujuh Ratus Tiga Puluh Ribu Rupiah) dimana Rp174,270,000 (Seratus Tujuh Puluh Empat Juta Dua Ratus Tujuh Puluh Ribu Rupiah) disisihkan untuk penguatan kapasitas penerima hibah dan inkubator ide.

Lokasi proyek yang dibiayai oleh Cipta Media Ekspresi meliputi Aceh, Bali, Yogyakarta, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah (jumlah terbanyak), Jawa Timur, Kalimantan Barat, Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Pernyataan juri untuk penerima hibah Cipta Media Ekspresi tersebut didapat oleh Delva Rahman, salah seorang pegiat Komunitas Gubuak Kopi, Solok, Sumatera Barat. Delva Rahman akan melakukan riset partisipasif tradisi Bakureh di Solok dan peran perempuan di dalamnya. Bersama 40 (empat puluh) perempuan pelaku kebudayaan lainnya, Delva Rahman dinyatakan lolos dari total 1.168 (seribu seratus enam puluh delapan) permohonan hibah dari 34 provinsi di Indonesia.

Delva Rahman dengan nomor 0214 “Bakureh Project” dengan nilai hibah Rp100 juta (riset partisipatif) Kategori Riset/ Kajian/ Kuratorial. Tradisi Bakureh di Solok dan peran perempuan di dalamnya adalah sebuah fenomena budaya yang patut dikaji lebih dalam, didokumentasikan, dan dilestarikan.

Delva Rahman adalah seorang penggagas muda yang memiliki komitmen dalam penelitian dan kolaborasi, memiliki perspektif gender progresif, dan menempatkan dirinya dalam jaringan lintas disiplin.

“Kami berharap proyek ini dapat memberikan analisis yang tajam terhadap peran sosial perempuan dalam tradisi Bakureh, melibatkan lebih banyak perempuan dalam kolaborasi dan diskusi, serta memberi inspirasi bagi generasi muda dalam upaya pelestarian adat yang disertai sikap kritis.” ungkap juri. (H)

(Sumber : ciptamediaekspresi.org)

loading...