Cerpen – Dari Cairo ke Alexandria

157
Dari Cairo ke Alexandria
Dari Cairo ke Alexandria

Oleh : Hasbunallah Haris

Bada asar aku berjalan ke El Sheikh Elhosary untuk megirimkan surat, saat itu layar ponselku menampilan suhu 34 derajat. Panas. Membara. Gulungan-gulungan angin padang pasir seakan membawa bara-bara api menerpa El Tahir, namun tidak dengan semangatku. Aku tidak akan goyah dengan cuaca seperti ini. Beberapa waktu lalu aku sempat mimisan tiga kali sehari, rutin. Kepala sakit, dan keringat yang membanjiri tubuh. Tapi siapa yang akan mengharapkan Mesir menjadi padang rumput yang menghembuskan angin-angin segar sekarang ini?

“Aku duluan, Paman.” Seorang pemuda mendesakku dari belakang. “Aku dari tadi menunggu antrian dan membeli minuman di sana, paman ingat?” Dia mengangkat minuman di tangannya dan menatapku dengan tajam seakan aku telah merampas hartanya.

Aku surut dari antrian, menyilakan pemuda itu berdiri di depanku. Pak pos tak keberatan, dia tengah sibuk di balik komputer tuanya sambil beberapa kali mengelap keringat dan berkali-kali mengumandangkan, “Selanjutnya.”

Aku maju dan menyerahkan suratku, pak pos yang berbadan tambun itu mengamatinya sebentar, memasangkan perangko dan aku mengeluarkan uang untuk membayarnya.

“Untuk suami?” tanya pak pos sekedar berbasa-basi dan mengambilkan uang kembalian dari balik lacinya yang berbunyi srek panjang.

Aku menggeleng. “Tidak usah, Paman. Ambil saja kembaliannya, dan ini … apakah pemuda tadi meninggalkannya?”

Pak pos memerhatikan sebuah kamera yang kugenggam, tergeletak begitu saja di depan mejanya. Dia berteriak memanggil nama Farah dan seorang perempuan berkerudung biru cerah muncul dari balik ruangan sebelah.

“Kau memanggilku, Adam?”

“Kaubawa kamera lagi ke kantor?”

“Tidak,” jawab perempuan usia sekitar tiga puluh tahun itu. “Coba lihat, mungkin ada foto atau alamatnya di dalam. Apa ada yang meninggalkannya?”

“Kira-kira begitu.”

Aku menyerahkan kamera itu dan berbalik hendak ke Al-Hosary Mosque, tapi tiba-tiba perempuan pos yang bernama Farah itu memanggil-manggil dan berlari keluar kantornya.

“Dia ke Alexandria, berikan kembali padanya.” Wanita itu memaksaku menerima kembali kamera tadi.

“Tapi aku tidak akan ke Alexandria,” gumamku keberatan. “Aku juga tidak mengenal pemuda itu.”

“Ah, berbuat baiklah, Anakku. Kau mau melakukannya, kan? Ini.” Dia menjejalkan kamera itu ke tanganku. “Mungkin dia masih di Cairo jika kau beruntung. Ada beberapa fotonya di depan Cairo Tower, juga alamatnya. Kau dapat mengeceknya sendiri.”

Sebelum sempat aku membantah lagi, Farah sudah melambaikan tangan dan kembali masuk ke kantornya. Memangnya aku tukang pos? Kenapa harus aku yang mengantarkannya? Kumasukkan kamera itu ke dalam tas dan berjalan ke Al-Hosary Mosque karena ada janji pertemuan dengan Putri, salah satu mahasiswa akhir di Al-azhar, katanya dia ingin bertemu denganku untuk urusan rahasia.

Orang-orang lengang berjalan di trotoar, panas-panas begini siapa yang akan mau bermain di luar. Hanya desingan kendaraan roda empat yang saling sahut-menyahut, juga beberapa pedagang jalanan yang meneduhkan diri di bawah pohon-pohon depan mesjid sambil mengibaskan topi. Begitu aku masuk ke area mesjid, Putri sudah melambai-lambai ke arahku dari gerbang depan. Rupanya dia sudah lebih dulu sampai dan menenteng tas besar. Di tangannya terdapat sebuah kertas bersampul plastik.

“Ke mana aja sih? Aku udah nyampe dari tadi, lho.” Putri lalu mengajakku duduk. Aku hanya diam saja dan memerhatikan kertas bersampul plastik di tangannya. “Nih, aku tadi beli minuman.”

“Itu kertas apa?” tanyaku setelah menerima sebotol minuman dingin, mungkin sebagai sogokan karena selama ini aku sering memberinya film-film terbaru tanah air.

Putri tersenyum lalu berbisik padaku. “Aku bakal nikah, lho, Nis. Nih undangannya.” Dia lalu menyodorkan undangan itu ke hidungku. Beginilah kelakuan Putri menindasku, jika dia sedang bahagia maka aku akan dipukul-pukulnya berkali-kali bagai samsak tinju. Ya, walau setelah itu dia sering membelikanku minuman dingin sih sebagai ganti rugi.

“Oh,” ujarku biasa saja. “Selamat kalau gitu. Kapan acaranya?”

Putri menatapku. “Udah? Gitu aja reaksinya?”

“Ya, kan kamu seminggu yang lalu juga nelfon kalau kamu bakal nikah ngga lama lagi, ya aku ngga kaget dong sekarang.”

Putri menekuk wajahnya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Akhirnya aku bisa nikah di Cairo. Papa sama mama bakal datang ke sini dua hari lagi, keluarganya juga, sekarang dia mungkin lagi jalan ke Banha, tempat pamannya.”

“Bagas ya namanya?”

“Eh, enak aja. Mas Bagas, bukan Bagas.”

“Aku mengangkat bahu, perbedaannya di mana?”

“Dia ganteng ngga? Asli orang mana sih?”

Putri tersenyum malu-malu, inilah yang diinginkannya, saat aku menanyakan soal calonnya yang selalu dibangga-banggakannya itu namun tak sekalipun diperlihatkannya padaku. Jawaban “Besok pas udah acara aja,” selalu memantul-mantul di telingaku ketika aku menanyakan sosoknya.

“Mas Bagas orang Sumatra, orang minang. Tapi kamu tahu ngga, dia ngga keberaatan dipanggil mas, lho.”

Aku menirukan gaya bicara Putri sambil memasang wajah sejelek mungkin. “Ini udah yang ke seribu kalinya kamu bilang gitu ke aku, Put. Udah hafat tau ngga. Abis ini pasti sambungannya aku ngga keberatan sih manggil Mas Bagas Uda, tapi katanya pas udah di kampung aja ntar, rencananya abis tamat kami bakal langsung terbang ke Indonesia dan ngajar di pesantren milik ayahnya di Bukittinggi gitu kan?”

Putri hanya cengengesan, meminum air dinginnya sampai menimbulkan bunyi srrrkkk yang panjang.

Ketika aku akan bertanya lagi apa Mas Bagas tersayangnya ini tahu adat orang Jawa atau tidak, ponsel Putri berdering. Dia lalu menunjukkan siapa yang menelfon padaku dengan gembira.

“Mas Bagas, lho, Mas Bagas, diam ya.”

“Speakerin!” tuntutku yang langsung diangguki Putri dengan terpaksa.

Beberapa saat kemudian setelah beruluk salam terdengar suara laki-laki yang sedang panik. “Put, lagi di mana sekarang?”

“Di mesjid mas sama Nisa, kenapa mas, kok kayak panik gitu, mas lagi di mana sekarang?”

“Nisa yang sering kamu beliin minuman dingin itu ya? Mas udah nyampe di rumah paman nih. Barusan nyampe, alhamdulillah.”

Putri menatapku yang menahan sabar sambil memperagakan tinju. Apa dia bilang? Sering dibelikan minuman dingin? Iya, emang itu fakta tapi aku tentu marah jika ada yang membicarakannya. Spontan saja Putri sedikit menjauh dariku namun aku tak akan membiarkannya lolos.

“… kenapa, Mas. Hilang? Kok bisa sih, Mas? Duh, di situ kan semuanya mas.”

Aku hanya mendengar setengah percakapan mereka karena Putri terus berusaha mendorongku menjauh.

“Iya, tadi perasaan udah mas bawa deh, nanti mas cari lagi ya, paman manggil tuh.”

Telfon terputus dan Putri menghempaskan napasnya beberapa kali. Tenanganya seakan tersedot dan senyum bahagianya pudar sudah. Dia terenyak di teras mesjid dan tak memedulikan lagi kehaadiranku, keringat mengucur dari dahinya yang putih.

“Kenapa sih?” tanyaku tak tahan lagi.

“Itu … mas Bagas bilang dia ngilangin kamera yang dibawanya, padahal di situ semua foto-foto prawedding kami, foto-foto di kampus dan foto-foto di sungai Nil pas sore pertama kali ketemu.” Lalu Putri menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya, aku tahu dia menangis.

Sebuah ingatan terlintas di kepalaku. Jangan-jangan … aku segera merogos tas dan mengambil kamera yang tadi dititipkan Farah. Apa ini kameranya mas Bagas ya? Kalau iya awas saja dia!

Aku menyentuh bahu Putri dan berusaha membuatnya mengangkat muka. “Put, kamera ini ngga yang dihilangin sama mas Bagas tersayang kamu tuh?”

Kepala putri langsung terangkat, begitu dia melihat benda dalam genggaman tanganku, mulutnya langsung menganga lebar. Dia menegang beberapa saat sebelum kemudian berteriak tanpa malu.

“Itu kameraku, itu kameraku … kok bisa ada sama kamu, Nis?” Tangan Putri menggapai-gapai ingin merebut kameranya namun aku enggan menyerahkannya. Senyum jailku terbit seketika.

“Kalo kamu pengen kamera ini balik lagi suruh mas bagas dateng buat ambil sendiri sambil minta maaf atas kalimatnya yang tadi. Ok!”

Putri mematung di tempatnya, mulutnya terbuka lebih lebar.

loading...