Cerpen – Penantian

106

Oleh : Hasbunallah Haris

Sudah larut malam, gemuruh pun sudah sahut-menyahut di atas sana. Pario buru-buru membangunkan Andika yang tengah tertidur pulas di atas bentangan kardus bekas mie instan di belakang gerobak dorongnya. Dagangannya belum habis, tapi entahlah, hasratnya untuk segera pulang begitu kuat. Bahkan saat pagi tadi hendak pergi berdagang pun, si kecil Amira merengek minta di gendong keliling rumah dulu baru dia melepaskan ayahnya berangkat bekerja.

“Ayo, Nak, bangun, sudah mau hujan, kita pulang saja, ya.”

Andika mengucek matanya yang perih, mengedarkan pandangan ke sekitar, ke ombak yang menampar-nampar bibir pantai, ke batu-batu bersusun dan orang-orang yang masih ramai duduk bergerombol sambil menggosipkan sesuatu.

Dia lantas berdiri, memperbaiki sarungnya yang melorot dan menatap bapaknya yang tengah mencuci mangkok-mangkok bekas bakso.

“Sudah jam berapa, Pak?”

“Belum malam benar, le, tapi ayok pulang, kayaknya mau hujan ini.”

Andika mengangguk. Tanpa banyak bicara lagi dia mengemasi alas tidurnya dan menyimpannya ke dalam gerobak dorong milik. Meski baru berumur delapan tahun, anak sekecil itu sudah mahir membantu bapaknya berjualan sejak habis subuh sampai malam, begitu setiap hari tanpa pernah mengeluh. Bagi Andika, membantu orang tua yang sudah membesarkannya sejak kecil adalah bentuk balas budi yang wajib untuk dilakukan, terserah mau balas budi berapa lama, tapi dirinya sendiri bertekad kelak akan memberikan hidup yang lebih layak kepada bapak-emaknya ketika mereka sudah di usia senja.

“Dagangannya belum habis, Pak?” tanya Andika lagi.

Bapaknya, Pario, hanya mendengus keras sambil membereskan mencuci piring.

“Buat besok saja, le, besok kamu juga sekolah, toh. Besok biar bapak sendiri saja yang jualan, kamu pulang sekolah di rumah saja belajar.”

Lima belas menit kemudian, dua anak-beranak itu berjalan beriringan mendorong gerobak bakso mereka pulang ke rumah susun. Debur ombak makin besar, dan nun di kejauhan sana, kerlap-kerlip lampu kapal di tengah laut membuat keduanya berhenti sesaat, memandang ke gelapnya malam.

“Mudah-mudahan besok lebih banyak yang beli, le. Hari ini sepi pelanggan bapak,” ujar Pario kembali melangkah. Dia tahu betul bagaimana kerasnya hidup di rantau orang, sudah bertahun-tahun lamanya dia merantau, sejak usia dua puluh tahun dia datang ke Kota Padang, bekerja apa saja yang dia bisa karena tidak memiliki ijazah untuk melamar kerja di tempat-tempat yang ruangannya bersih, sejuk dan pintunya ditunggui satpam. Dia hanya sebagai kuli lepas, kuli angkut, dan tak jarang merangkap sebagai kenek mobil angkot.

Di usianya yang ke dua puluh lima, Pario memberanikan diri untuk menikah. Satu-satunya keyakinan yang selalu digenggamnya dengan erat adalah bahwa Tuhan sudah menyediakan rezeki bagi hambanya yang berusaha. Pario yang hanya bermodalkan ijazah SD sudah kenyang dengan pengalaman hidup, dia pernah bekerja membangun rel kereta api, membangun jembatan, jadi tukang gali pipa PDAM, bahkan sampai jadi tukang gali kuburan pun pernah dilakoninya. Tapi itulah Pario, lelaki berambut lurus dengan tubuh jangkung itu tak hentinya memberikan petuah bagus kepada anaknya, terlebih kepada si sulung Andika, mengatakan bahwa hidup tak selamanya kelam, hidup tak selamanya makan kenyang, hidup juga tentang kesusahan, tentang perjuangan dan juga tentang menikmati hasil jerih payah.

“Kalau bapak hanya sebagai tukang bakso, kamu jangan sampai jadi tukang bakso juga, le,” ujar Pario untuk ke sekian kalinya. “Sekurang-kurangnya kamu jadi satpam atau pegawai.”

Sementara Andika kecil, juga mewarisi keuletan bapaknya; pekerja keras dan sangat pengertian. Kala teman-temannya di Sekolah Dasar (SD) memamerkan sepatu dan tas bagus saat tahun ajaran baru, Andika hanya duduk di sudut kelasnya sambil bermenung. Tidak, dia tidak bersedih, bahkan baginya bisa sekolah saja itu sudah surga. Masih banyak anak-anak di luar sana yang belum mampu mengenyam pendidikan, masih banyak anak-anak di luar sana yang dipaksa bekerja karena tuntutan hidup, dia masih terbilang beruntung karena masih bisa sekolah. Kala hari Minggu atau saat libur, Andika ikut dengan bapaknya berjualan bakso. Meski tubuhnya kurus kering dengan mata cekung, namun tenanganya tak perlu diragukan lagi, dia mampu mengangkat kursi dan meja dagangan bapaknya sekaligus.

Sampai di rumah, emaknya, Rosinah, menyambut dengan perasaan sedikit kaget. Jika biasanya mereka pulang pukul satu malam, sekarang baru pukul sebelas.

“Udah pulang, Pak. Gimana dagangan hari ini, Pak?”

Pario duduk di pintu rumah susun mereka, meluruskan kaki setelah memarkirkan gerobak dagangan di samping rumah. Andika sudah masuk ke dalam dan segera merebahkan diri di samping adiknya, Amira, yang sudah tertidur pulas sambil mendengkur ringan.

“Nggga tau kenapa pengen pulang cepat aja, perut bapak kurang enak,” jawab Pario mengelap keringat di dahinya dengan handuk di leher. “Gimana dagangan kamu hari ini, lancar?”

Rosinah duduk di dekat suaminya, wajahnya yang sudah tak muda lagi itu masih menyiratkan kecantikan masa mudanya. Dia adalah wanita yang tangguh, menolak lamaran seorang polisi dan malah menerima pinangan penjual bakso yang miskin dan papa. Baginya, lebih baik tinggal di rumah reyot bersama orang yang dicinta daripada hidup di rumah mewah namun tiap hari makan hati.

“Tadi pak RT datang ke sini, Pak,” mulai Rosinah dengan nada riang seperti biasa. “Katanya keluarga kita didaftarkan sebagai peserta rehap rumah dan bantuan beasiswa pendidikan.”

Pario yang mendengar kabar bagus itu tersenyum. “Alhamdulillah, semoga saja nanti beneran ada toh,” katanya juga turut riang. Namun sesaat kemudian Rosinah lebih mendekatkan duduknya sambil berbisik.

“Listrik kita belum bayar, Pak, sepatu Andika juga harus diganti, Pak, sudah empat tahun dia pakai sepatu yang sama. Kasian lho, Pak.”

Pario menghempaskan nafas berat. “Iya, nanti bapak coba cari pinjaman ya, dagangan bapak juga lagi sepi, sekarang musim hujan, orang tidak banyak yang keluar rumah.”

“Iya, Pak, semoga semuanya baik-baik saja.”

Pario mengangguk, mengelus kepala istrinya dengan lembut sebelum kemudian mengunci pintu dan masuk ke dalam untuk beristirahat.

Dua bulan kemudian, di penghujung bulan Desember, rumah di sebelah rumah Pario mendapatkan bantuan bedah rumah, Pario yang sudah sejak lama menunggu kabar bagus terpaksa menggulung kembali mimpinya mendapatkan bantuan. Pun dengan istrinya, Rosinah, yang juga menanti kabar yang ternyata tak sampai-sampai. Usut punya usut, ternyata bantuan tersebut memang benar diperuntukkan bagi keluarga mereka, namun dana tersebut sengaja dialihkan karena tetangga Pario lebih dekat dengan ketua RT daripada keluarga mereka. Kabar tersebut hampir membuat Pario dan istrinya patah semangat, dua minggu Pario tidak berdagang, badannya panas-dingin, menggigil dalam selimut tebal. Selama masa sakitnya itu, Andika mengambil alih semua pekerjaan bapaknya berjualan bakso.

“Berapa harga baksonya, Nak?” ujar seorang ibu-ibu yang berpakaian maron kepada Andika, saat itu dia tengah mencuci mangkok-mangkok pelanggannya.

“Sepuluh ribu saja, Bu, silakan duduk,” jawab Andika sopan.

Perempuan itu mengamati Andika yang berjualan, karena merasa tak enak bertanya ini-itu, dia pun duduk sambil menunggu baksonya datang. Tapi beberapa saat kemudian dia tak tahan jika tidak bertanya, rasa penasarannya terlalu kuat untuk bertanya kepada anak sekecil itu yang berjualan bakso seorang diri.

“Jualan sendiri saja, Nak?” ujarnya memulai.

Andika yang tengah menuang kuah ke mangkok baksonya berpaling, lantas buru-buru meletakkan pesanan pelanggannya.

“Biasanya sama bapak, Bu, sekarang bapak lagi sakit, jadi sendiri saja,” jawabnya.

“Oh, gitu, masih sekolah? Kelas berapa, Nak? Siapa namanya?” Tiga pertanyaan sekaligus meluncur dari mulut perempuan itu.

“Nama saya Andika Pratama, Bu, masih kelas empat SD.”

Dibiarkannya perempuan itu makan dengan khusuk sedangkan dia membereskan barang-barang sambil mengambilkan air minum. Saat hendak membayar, Andika termenung karena tak ada kembalian uang, dicobanya menukarkan ke lapak lain namun katanya juga belum punya uang kembalian. Andika kembali kepada pelanggannya dengan uang merah tetap di tangan.

“Tidak ada uang kembaliannya, Bu, ibu bawa saja, Bu.”

Perempuan itu terpaku sejenak, memastikan bahwa yang didengarnya benar. Dia tak segera mengambil uang itu namun berpikir sebaiknya memang tidak usah dikembalikan.

“Ya sudah, ambil saja kalau begitu ya. Buat jajan juga.”

“Tidak usah, Bu, harga baksonya cuma sepuluh ribu, bapak melarang mengambil uang lebih dari jualan. Ibu bawa saja, gratis.” Andika berusaha menyodorkan uang merah itu.

“Ya sudah, terima kasih ya, Nak.” Diambilnya uang itu lagi dan pergi dari sana dengan perasaan lega. Andika pun merasa bangga telah berbuat demikian, bapaknya pasti tidak akan marah jika nanti dia ceritakan di rumah tentang peritiwa itu.

Empat hari kemudian, sebuah paket kiriman sampai di rumah mereka. Paket berwarna kuning yang dibungkus dengan plastik hitam. Rosinah bersikeras bahwa mereka tak memesan apa-apa. Punya ponsel saja tidak, bagaimana mungkin mereka akan memesan barang online? Tapi kurir tersebut memaksa meninggalkan paket itu padanya, ngotot kalau mereka memang memesan barang itu dan pergi sambil memberengut.

Perihal paket aneh itu dikabarkan pula pada Pario yang sudah sembuh dari sakitnya, Pario berpendapat sebaiknya paket itu tak usah dibuka dan dibiarkan saja. Tapi Rosinah mengatakan bahwa siapa tahu paket itu memang untuk mereka dan dikirimkan entah dari kampong atau bagaimana. Dia pun membuka paket itu di hadapan Pario.

Betapa kagetnya mereka ketika mengetahui isinya adalah uang tunai yang sangat banyak, di sela-sela uang tunai itu ada sebuah surat kecil yang diselipkan, ditulis dengan tulisan tangan yang sangat rapi sekali.

Pario yang hanya lulusan SD membaca tulisan singkat itu dengan gemetar.

Teriring salam hormat kepada ayah dan ibu Andika Pratama, beberapa hari yang lalu saya makan bakso di kedai Andika dan dia mengatakan tak punya uang kembalian, saya pun diberi makan gratis. Andika bersikeras bahwa ayahnya tak akan marah jika dia memberikan semangkok bakso gratis kepada pelanggan lantaran tidak memiliki uang kembalian. Saya sangat menyanjung sekali perilaku mulia tersebut, anggaplah uang ini sebagai uang keberuntungan untuk keluarga bapak dan ibu, kalian telah membesarkan anak laki-laki yang sungguh hebat, saya berjanji akan menanggung semua biaya sekolahnya sampai mana pun yang dia inginkan, silakan pergunakan uang ini untuk menambah kebutuhan bapak dan ibu dalam belanja sehari-hari.

Dengan tangan gemetar, Pario dan Rosinah menghitung uang merah tersebut yang ternyata berjumlah sepuluh juta rupiah. Keduanya berpelukan sambil berurai air mata. Di pintu rumah, Andika yang baru saja pulang sekolah dengan sepatu dan tas lusuhnya memandang dengan heran.

(*)

loading...