Cerpen – Nasihat Orang Gila

240

Oleh : Hasbunallah Haris

Sejujurnya sudah lama kuperhatikan laki-laki yang duduk di kursi taman itu, tatapannya sungguh sangat membingungkan. Kadang sedih, kadang marah, dan kadang tak tahu bagaimana aku harus menggambarkannya. Serba paradoks. Kelakuaknnya menyepak-nyepak semua benda yang ada di dekatnya membuatku sering bergidik, aku yang kadang lewat di sana untuk membeli gula, sesekali mengamati tingkahnya yang ganjil itu.

Apakah dia tidak punya rumah?

Di suatu siang yang rinai-rinai, aku lewat di sana setelah kembali dari kedai Akiong dan melihat laki-laki itu masih duduk di bangku taman, menatap tanah dan sesekali mengusir nyamuk yang datang mengerubinginya. Aku mendekat ke batang angsana tua di tepi taman dan memerhatikannya dari dekat, barulah aku sadar dia seorang lelaki yang berperawakan tinggi jangkung dan berkumis tipis, bibirnya kering dan tampak gemetar, sementara di tangannya tergenggam sebuah kertas yang sudah lusuh.

Aku mendekat dan dia menyadari kedatanganku. Dia menoleh dan menatapku dengan tajam, seakan aku baru saja mengganggu semedinya yang sangat sakral.

“Pergi!” usirnya padaku sambil mengibaskan tangan.

Aku tetap berdiri di tempat. Namun beberapa saat kemudian dia menatap ke tanganku, ke kantong plastik yang kubawa. Aku menyadari tatapan itu dan mengeluarkan sebuah roti yang tadi kubeli di kedai Akiong.

“Paman mau?” tawarku mengulurkan roti itu yang langsung disambarnya. Dibukanya bungkus roti itu dengan kasar setelah sebelumnya mengantongi kertas yang tadi digenggamnya. Dia melahap roti itu dengan rakus, matanya tetap mengawasiku.

“Mau tambah, Paman?” tanyaku setelah dia menghabiskan roti tadi dan sekarang sedang menjilati ujung-ujung jarinya yang dekil. Aku kembali mengambil roti di dalam kantong dan memberikannya.

“Manusia-manusia bodoh!” umpatnya menerima roti yang kedua dari tanganku dan kembali membukanya dengan kasar. “Mereka mengira akan hidup selamanya dan tidak memerhatikanku yang ada di depan hidung mereka.”

“Maaf, siapa yang paman maksud?” Aku turut duduk di bangku taman itu, yang entah mengapa sekarang laki-laki itu tak lagi keberatan dengan kehadiranku.

“Manusia-manusia yang naik mobil dengan menutup kacanya, manusia-manusia yang naik mobil dan menerjang air di jalanan hingga membuat pejalan kaki basah, manusia-manusia yang naik mobil dan menyorotkan lampu depannya. Terkutuk!”

Aku duduk diam, mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut laki-laki yang sibuk mengunyah roti itu. Dulu, aku juga begitu; marah dengan orang-orang yang naik mobil dan melajukan mobilnya di dekat genangan air hingga membuat pejalan kaki basah. Aku pernah merasakannya. Namun, setelah aku sendiri membeli mobil tiga bulan yang lalu, aku tak lagi menyadari hal itu dan mungkin saja pernah melakukan hal yang sama ke orang lain yang berjalan kaki.

“Orang-orang yang membeli makanan hanya untuk dipamerkan dan tidak dihabiskan. Terkutuk!” Tiba-tiba suara laki-laki di sebelahku membuyarkan lamunanku. Dia sudah menghabiskan roti yang kedua dan sekarang tengah mencungkil giginya dengan ujung kukunya yang hitam.

“Di mana rumah paman?” Aku bertanya.

Dia berdeham, memerhatikanku yang duduk di sebelahnya dari ujung kaki.

“Aku punya langit sebagai atap rumahku, bumi sebagai lantai rumahku, rumah mana lagi yang sedang kau tanyakan? Tuhan sudah menyediakannya untukku.”

“Maaf, Paman.”

“Huh,” sungutnya yang membuatku merasa bersalah. “Kau punya istri?”

Aku mengangguk. “Punya, Paman.”

“Cantik?”

Aku tersipu ditanya seperti itu, mungkin semua orang juga akan begitu. Aku begitu mencintai istriku dan berani jujur akan mempertaruhkan apa saja deminya.

“Aku mencintainya, Paman,” jawabku.

“Bagus, dulu aku juga begitu, sebelum dia pergi.” Dia mendongak, mengharapkan keajaiban.

“Paman, aku tidak bermaksud untuk⸻”

“Ya, ya, aku tahu.” Dia menundukkan kepala dan memeriksa kembali kuku-kukunya yang kumal itu, lantas berdiri dan hendak berlari. “Aku hargai kebaikanmu, Anak muda. Jangan kau tinggalkan seorang wanita yang sudah bersamamu sejak susah hingga kau menjadi seperti ini. Jangan kau naikkan kaca mobilmu ketika ada peminta-minta di pinggir jalan, dan jangan lupa berhenti jika kau mendengarkan suara adzan.”

“Baik, Paman, akan kuingat itu.” Aku berdiri merogoh saku dan berniat hendak memberinya uang sebagai tip, namun dia sudah berlari menyeberangi jalan dalam cuaca gerimis. Sempat kulihat dia memayungi wajahnya dengan telapak tangan sebelum kemudian aku mendengar suara decitan rem dan suara hantaman keras.

Sebuah mobil sedan merah, seorang pengendara sepeda motor, dan seorang lelaki yang tadi bersamaku, terkapar bermandikan darah.

***

Dalam lorong yang serba putih itu, kugenggam tangan istriku dengan erat, anak-anakku terus-menerus menanyakan siapa yang sedang aku cemaskan. Beberapa saat kemudian, dokter keluar dengan wajah sendu, aku segera menyongsongnya.

“Bagaimana keadaannya, Dokter?” kataku dengan cemas, melirik ke jendela kaca yang menampilkan sebuah dipan yang kini dihuni oleh sesosok tubuh yang terbaring lesu.

Dokter Evan menggeleng pelan. “Aku sungguh berharap Tuhan menurunkan keajaibannya, namun tidak kali ini. Dia sudah pergi dengan damai, aku baru saja memandikannya dan membersihkannya, seperti yang dia minta terakhir kali sebelum masuk ke ruang operasi.”

“Dia sempat sadar?” Aku terperanjat, mengetahui kenyataan yang disampaikan dokter.

Dokter Evan mengangguk. “Benar, itu yang dikatakannya padaku. Dia juga memberikan ini padaku …” Dokter Evan meraih saku jas putihnya. “Dia bilang kau boleh memilikinya.”

Dokter berpakaian serba putih itu memberikan secarik kertas kepadaku, yang langsung kuingat itu adalah kertas yang tadi digengggam oleh pria di taman sebelum aku memberinya roti.

Aku berterima kasih kepada dokter Evan dan buru-buru duduk di bangku tunggu lorong rumah sakit. Istriku, Lina, menyertaiku dengan wajah penasaran, dia sama sekali belum mengetahui mengapa aku sampai di rumha sakit dan apa yang telah terjadi. Sewaktu tadi aku mengabari Lina, dia segera meluncur kemari dengan cemas dan tak bertanya apa-apa.

“Dia temanmu?” Lina bertanya untuk pertama kalinya.

“Yeah, teman yang mengajarkanku banyak hal dalam waktu yang sangat singkat.”

Kertas kumuh itu kubuka dan terdapat sebuah catatan kecil di dalamnya, yang langsung kubaca dengan lirih.

             Manusia-manusia istimewa, adalah mereka yang menjadi kaya sementara tetap sadar bahwa kemiskinan adalah anak tangga pertama mereka berpijak, dan mereka tidak pernah melupakan itu. Tangannya begitu ringan untuk berbagi, sementara mulutnya tersenyum kepada siapa saja yang ditemui, bahkan kepada orang gila seperti diriku.

loading...