Cerpen – Nak, Kapan Wisuda?

142

Oleh : Azizan Arjun

Sarjana.

Satu kata yang sangat asing bagi ayah dan ibuku, bahkan dalam silsilah keluargaku, kata itu masih sangat misterius.

Ibuku yang hanya tamat STM tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah karena ia seorang perempuan yang notabenenya akan berujung pada sumur-kasur-dapur, untuk apa sekolah tinggi-tinggi? Setidaknya begitulah pemikiran nenekku dan kebanyakan orang di kampungku. Ayahku bahkan tidak tamat SD karena terkendala biaya dan kehidupan yang jauh dari kata kaya.

Namun bagi ayah dan ibu, sekolah dan pendidikan anaknya adalah prioritas utama. Mereka tidak ingin anaknya merasakan pahit-getirnya kehidupan seperti yang telah mereka alami hanya karena tidak memiliki gelar sarjana di ujung nama. Mereka akan melakukan segala cara untuk mencari biaya agar anaknya tetap bisa mengenyam bangku sekolah hingga tingkat kuliah dan akhirnya bergelar sarjana.

Maka aku dan dua orang kakakku dikuliahkan di tempat yang sama, perguruan tinggi swasta pilihan mereka yang menyediakan fasilitas beasiswa bagi keluarga kurang mampu.

Namun ternyata dunia perkuliahan tidaklah semudah dan semenyenangkan seperti yang biasa kulihat di televisi; datang ke kampus, makan mie rebus, bebas mau masuk kelas atau malah pacaran di perpus, tertawa bersama teman-teman mengelilingi mall cuma buat lihat-lihat baju bagus, bahkan sampai memiliki kisah asmara yang romantisnya mengalahkan film Dilan, dan tiba-tiba sudah langsung wisuda. Ekspektasi yang tidak akan pernah jadi realita. Buktinya, kakak pertamaku belum wisuda di tahun ke lima kuliahnya. Sebentar lagi gelar mahasiswa abadi pun akan tersemat rapi di jidat lebarnya.

“Aku tu gak bisa bikin skripsi, Bu, kalau bisa pasti aku udah wisuda dari kemaren-kemaren, Bu.” Alasan kak Maya tiap ditanya tentang kendalanya belum juga wisuda tahun ini.

“Maya ‘kan bisa tanya teman-teman Maya yang sudah selesai, minta bantuan mereka untuk mengarahkan Maya membuat skripsi. Kalau masalah lain seperti uang dan segala macamnya Ayah dan Ibu bisa usahakan, Nak. Tapi kalau skripsi, Ibu memang tidak bisa bantu apa-apa, kan kalian tahu Ibu dan Ayah tidak sekolah, tidak ada ilmu tentang itu.” Raut sedih di wajah ibu terpampang jelas seakan memohon agar kami mampu berjuang untuk hal yang satu ini.

“Kalau Ayah dan Ibu tidak sarjana, mengapa kami harus sarjana?”

Aku tertegun mendengar pernyataan sekaligus pertanyaan sarkastik dari Kak Maya. Ia dengan kesal berdiri menuju kamar dan menghempas pintu yang lebih terdengar seperti letusan meriam.

Kulihat ibu sampai berlinang air mata menahan sedih hatinya.

“Percuma, banting tulang untuk menyekolahkan anak tinggi-tinggi, tapi orang tuanya sendiri tidak dihargai.” Ayah memijat-mijat jidatnya yang penuh kerutan.

Aku hanya bisa diam terpaku tanpa tahu harus berbuat apa. Menunduk dan mengingat segala usaha yang memang ayah dan ibu telah lakukan untuk tetap menyekolahkan kami; mengemis ke saudara, meminjam ke tetangga, bahkan sampai buka Bank jika uang yang dibutuhkan mencapai jutaan, dan tentu pembayarannya selalu membengkak.

Pekerjaan ayah dan ibuku hanya petani biasa di siang hari dan guru ngaji TPA di malam hari yang gajinya untuk makan saja kurang. Mereka betul-betul berjuang untuk membuat kami menjadi sarjana.

“Maya mau nikah aja, Bu, biar nanti kalau sudah menikah, ‘kan Bang Arya bisa bantu Maya bikin skripsi.” Ide cemerlang’keluar dari otak kerdilnya seorang Maya.

Ibu yang awalnya ragu-ragu dengan keputusan itu, setelah berbincang serius dengan ayah dan termakan bujuk rayu manis mulut Kak Maya yang menjaminkan pernikahan bisa menghasilkan skripsi, akhirnya mengabulkan permintaan kak Maya, tentunya Bang Arya yang sebentar lagi akan menjadi iparku telah lebih dulu menyanggupi kebersediaannya menikah dengan Kak Maya.

Kak Maya dan Bang Arya teman seangkatan semasa kuliah, bedanya Bang Arya sudah wisuda dan sedang menekuni proses mendapatkan gelar masternya, sedangkan Kak Maya hanya orang yang akan merenggut waktu santainya untuk menyelesaikan skripsinya. Malang sekali nasib Bang Arya.

Pernikahan pun digelar, pesta kecil-kecilan dengan dana semampunya telah menghalalkan mereka tahun itu, tahun ke enam kuliah Kak Maya yang lebih dulu memilih memakai baju pengantin ketimbang toga wisuda.

“Maya udah wisuda, Bu Aida?” tanya salah seorang tetangga pada ibuku saat acara berlangsung.

“Ya sudahlah, Bu Rima, makanya menikah, ‘kan begitu tingkatannya, sekolah-kuliah-menikah-punya anak,” potong seorang tetangga lain dengan santainya sambil tertawa. Entah sengaja menyindir atau memang tidak tahu keadaan, entahlah.

Ibu hanya terdiam dan mengulum senyum melihat mereka yang kembali asik melanjutkan gunjingan yang merambah keberbagai topik. Ya, acara seperti ini memang wadah bagi ibu-ibu untuk menyalurkan bakat orasi dan watak kritikus mereka.

Tiga bulan pernikahan, Bang Arya memang menepati janjinya membantu Kak Maya menggarap skripsinya. Namun yang namanya pernikahan, skripsi bukan satu-satunya ‘hasil’ yang bisa dihadiahkan. Keturunan pun sesuatu yang sangat diharapkan, mengingat Kak Maya adalah anak pertama yang sekarang tengah berbadan dua.

Orang tua mana yang tidak senang mendengar kehamilan putrinya. Skripsi yang sudah tergarap setengah jalan itu pun harus ditunda penyelesaiannya.

Setelah Kak Maya melahirkan, saat usia anaknya empat bulan, Bang Arya akhirnya telah siap diwisuda untuk kedua kalinya. Ayah dan ibu yang telah menjadi mertua dari Bang Arya pun bahagia bukan main dapat langsung menyaksikan prosesi wisuda yang sudah lama mereka idamkan akan terjadi pada anak mereka, tapi biarlah, dari menantu sendiripun bolehlah.

“Kapan jadwal wisuda selanjutnya, Nak?” tanya ibu pada Kak Dian, kakak keduaku.

“Agustus ini, Bu.” Aku yakin Kak Dian sudah menebak kemana arah pembicaraan ibu.

“Dian bisa wisuda, ‘kan?” tanya ibu yang seharusnya tak perlu sehati-hati itu.

“Dian usahakan, Bu.” Kak Dian dan Ibu tersenyum. Setidaknya jawaban itu melegakan hati ibu yang benar-benar berharap darah dagingnya bisa wisuda dan bergelar sarjana. Walau pada kenyataannya, kalian harus membaca sampai akhir cerita untuk mengetahuinya.

Tidak jauh beda dengan Kak Maya, Kak Dian pun belum menampakkan titik terang dia akan diwisuda. Kak Dian pernah sekali mengajukan proposal judul skripsinya, namun karena terlalu lama ia tinggalkan setelah satu kali pengajuan, judulnya akhirnya ‘diambil orang’ dan sudah di ACC menjadi sebuah skripsi.

Merasa kalah, Kak Dian pasrah dan menyibukkan diri dengan kegiatan mengajar part-timenya ketimbang memikirkan kembali judul baru.

Agustus berlalu tanpa ada undangan wisuda yang sampai ke tangan ayah dan ibu. Hari-hari yang sangat mencekam mulai kulalui karena tahun depan adalah giliranku.

Sekarang aku tahu bagaimana perasaan Kak Maya dan Kak Dian tiap kali ditanya tentang skripsi dan wisuda. Rasanya akan semenegangkan melewati pertanyaan di alam kubur, atau bahkan lebih dari itu, kurasa.

Tersiarlah kabar kalau tahun ini kampusku akan mengadakan wisuda besar-besaran untuk ‘melenyapkan’ para ‘mahasiwa abadi’ agar akreditasi kampus bisa membaik, maka salah duanya adalah kedua kakakku. Tentunya ini kabar buruk bagi mereka berdua dan puluhan mahasiswa lainnya yang juga tergabung dalam perkumpulan yang sama. Namun tentunya merupakan kabar baik bagi ayah dan ibuku, karena tidak ada lagi alasan Kak Maya dan Kak Dian untuk tidak mengikuti wisuda kali ini.

Untungnya mereka sedikit pintar soal kesia-sian waktu yang mereka alami jika kuliah berlama-lama tapi tidak mendapat ijazah.

Akhirnya Kak Maya kembali menyibukkan Bang Arya untuk melanjutkan proyek skripsinya yang sempat terbengkalai karena tugas mulianya menjadi seorang istri sekaligus ibu, dan Kak Dian hanya mampu berkutat di depan rak-rak panjang perpustakaan untuk mencari sebuah judul yang akan menyelamatkan drop-outnya. Sedangkan aku, bermain aman dengan terus berproses melanjutkan ACC judul proposalku untuk diseminarkan minggu depan.

Tak kalah gesit, ayah dan ibu bekerja ektra untuk melengkapi segala keperluan, terlebih urusan dana yang tak tanggung-tanggung, mengingat ‘Tiga Serangkai’nya yang mungkin akan diwisuda di waktu yang sama.

Ayah dan ibu akan dapat uang dari mana ya? Tapi bukan orang tua namanya jika akan mengabaikan kesempatan emas menyaksikan wisuda anaknya.

“Uang tidak perlu kalian pikirkan, selesaikan saja skripsi kalian tepat waktu agar bisa diwisuda.” Binar kebahagiaan di mata ibu berapi-api, keresahan dalam hatinya tidak ia tampakkan, namun jelas terlihat getar suaranya mengisyaratkan kebingungan harus mencari uang banyak dalam satu waktu.

“Wisuda itu perlu, Nak, karena ijazahnya yang akan mempermudah jalan hidup kalian nanti. Lihatlah kami yang tidak memiliki ijazah sarjana. Untuk ikut sertifikasi guru TPA saja tidak bisa, Nak, apalagi ikut tes CPNS, jadi guru tetap di sekolah, jadi pegawai kantoran, apalagi dosen, Nak. Kami dipandang sebelah mata tanpa adanya embel-embel S di belakang nama, Nak. Makanya kami ingin kalian memilikinya untuk kebaikan hidup kalian kelak.” Tiba-tiba ibu menangis. Kak Maya pun terisak dan memeluk ibu mengingat pernyataannya tiga tahun lalu yang begitu mengiris hati.

Kak Dian tidak kalah meluruhkan air mata sambil berangkulan dengan ayah yang juga berkaca-kaca. Aku malah tersenyum dalam linangan air mata. Mungkin ini yang namanya air mata bahagia.

Tiga undangan wisuda pun diterima dengan hati bak taman surga oleh ayah dan ibuku. Setelah sekian lama mereka menginginkannya, akhirnya ‘Tiga Serangkai’nya memang tidak terpisahkan dan harus diwisuda secara bersamaan.
Masalah dana tidak bisa kujelaskan panjang lebar, intinya, ayah dan ibuku “buka” Bank lagi. Hahaha… Begitulah kehidupan, ‘gali lobang-tutup lobang’ yang tidak bisa dihindari.

Proses wisuda berjalan khusuk, derai tawa dan banjir air mata memenuhi ruangan wisuda. Ayah dan ibu duduk manis bersama beberapa anggota keluarga lainnya, sedangkan Bang Arya harus menjaga anaknya di luar ruangan karena terus menangis minta digendong ibunya.

Tetangga yang mengetahui kami wisuda serentak hanya bisa menganga mengingat ternyata Kak Maya belum wisuda sewaktu acara pernikahannya. Nenekku dan orang kampung lainnya hanya bisa ikut bangga dengan kesuksesan ayah dan ibu menyekolahkan kami hingga sarjana.

Betul kata pepatah “Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu; menikah dahulu, punya anak dahulu, bekerja dahulu, gelar sarjana pasti menyusul kemudian.”

“Siapa di antara kalian yang mau lanjut S2?” tanya ibu disela sesi foto. Kami bertiga saling lirik dan menjawab mantap.

“Ogah, Bu, nanti paling Ibu dan Ayah tanya terus, ‘Nak, kapan wisuda?’”

Biodata Penulis.

Kenalan yuk sama kak Nur Azizah Arjun. Azizan Arjun adalah nama pena. Ia berasal dari kaki Gunung Marapi di pedalaman Sumatera Barat, tepatnya daerah Kabupaten Tanah Datar, dan berdomisili di Data, Nan II Suku Salimpaung, Kec. Salimpaung, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat. Kesenangannya dengan dunia tulis-menulis terlihat sejak kecil dan pernah rutin belajar di Rumah Puisi Taufik Ismail semasa SMA. Telah menerbitkan beberapa Antologi puisi dan cerpen dari beberapa lomba sastra yang pernah diikutinya.

loading...