Cerita Bersambung – Wisata Masa Lalu

507
Rumah Gadang

Oleh : Hasbunallah Haris

(Bahagian Satu)

Pertemuan, adalah awal sebuah perjalanan panjang

Hari ini, Minggu, hujan turun sejak subuh. Hingga pukul sembilan pagi, rinai-rinai masih jatuh membasuh pucuk-pucuk daun delima dan membasahi aspal jalan. Orang-orang yang menjajakan paragede di persimpangan jalan antara Solok dan Padang Panjang duduk bermalas-malasan di bale-bale bambu, sesekali menarik jualannya dan membuka pintu mobil Sinamar yang berhenti dan mengeluarkan peliut yang memekakkan.

“Telur puyuh, pisang goreng, paragede, air minum …” Demikian biasanya yang terdengar bersahut-sahutan ketika pintu mobil terbuka. Beberapa orang di dalam mobil angkutan umum ada yang berbelanja karena anaknya merengek, dan ada pula yang memang untuk pengganjal perutnya yang keroncongan. Beberapa ibu-ibu kesusahan menertibkan anaknya yang berebut sambil mencari-cari uang pas di dalam dompetnya, golongan bapak-bapak asyik menceritakan final piala dunia semalam, dan para anak muda yang bersekolah di Thawalib Padang Panjang yang naik mobil tersebut, sibuk merundingkan perbedaan masdar dan isim masdar. Sementara rinai-rinai terus berjatuhan.

Pedagang menutup pintu dan berteriak, “Lanjut!”

Mobil kembali melaju, menuruni jalan menurun Kota Padang Panjang menuju Padang. Jalan lurus di depan terminal. Musik mengalun merdu dari speaker mobil bagian atas, tolak-menolak dengan deru mesinnya yang sudah terbatuk-batuk karena uzur. Dari balik jendela kaca yang samar dan kadang bergetar itu, dapat dipandang perkebunan lobak dan bawang yang berpetak-petak, hingga habislah jalan lurus ketika mobil menyeruak di bawah rel kereta api di dekat gerbang tinggi, lalu menurun ke tikungan menuju Lembah Anai.

Syamil, yang duduk di deretan bangku paling belakang mobil Sinamar itu tak henti-hentinya melirik arloji di tangannya. Pikirannya sedang kalut karena harus menunggu lama hingga sampai ke Kota Padang. Karena menurut kebiasaan, jika Padang Panjang sudah hujan, maka hujan akan berlanjut hingga Sicincin bahkan sampai Kota Padang. Sesungguhnya dia tidak takut dengan hujan, yang dia cemaskan adalah kakaknya yang sudah menunggu di simpang bandara, tadi dia sudah memberitahu akan datang terlambat namun kakaknya tidak membalas pesannya.

“Ke Padang juga, Dik?” Seorang laki-laki berpakaian mantel bulu tebal berbasa-basi kepada Syamil. Dilihat dari gurat wajah dan pakaian yang dikenakannya, nyatalah dia seorang yang berpendidikan tinggi. Kumisnya dicukur halus dan tatapan matanya sungguh jernih, ditambah lagi dengan kacamata tebal yang bertengger anggun di batang hidungnya yang sedikit mancung.

Syamil mengangguk, tidak bertanya balik.

“Jam berapa biasanya sampai ke Padang kalau hujan begini, Dik?” tanya laki-laki itu lagi. Kali ini Syamil lebih teliti dan melihat emblan nama di dada orang itu. Kasman.

“Kalau hujan begini sampai ke Padang biasanya sampai pukul lima, Pak, sekarang jalan di Lembah Anai pasti macet.”

Laki-laki bernama Kasman itu mengangguk, lalu mengeratkan dekapannya dan memandang lurus ke depan. Alunan musik dengan lagu lawas menambah suasana yang klasik. Beberapa penumpang di deretan bangku depan mulai menguap dan mencari posisi yang bagus untuk tidur, setidaknya dua jam lagi baru akan sampai di Kota Padang.

Syamil kembali mengecak arlojinya dan menggerutu dalam hati, mengapa harus dia yang membawakan paket untuk kakaknya, mengapa tidak dikirimkan saja ke JNE atau JNT. Namun dalam pada itu, Syamil selalu menyukai perjalanan jika sudah masuk kawasan Lembah Anai; jalannya akan berkelok-kelok dan biasanya puluhan monyet dan kera berbaris di pinggir jalan menyaksikan mobil yang lewat, kadang iseng mengganggu pengendara motor yang berhenti. Kawasan Lembah Anai memang hutan lindung yang epik, ditambah lagi dengan air terjunnya yang sangat indah, dibelah oleh jalan dibawahnya dan rel kereta api yang sudah ada bahkan sejak zaman Belanda.

Libur sekolah Minggu ini, Syamil ada janji dengan temannya untuk berkunjung ke kantor Dinas Kebudayaan, dia sudah membuat janji pertemuan dan akan membahas masalah komunitas yang sudah dibangunnya beberapa bulan yang lalu. Pertalian antara komunitas dengan Dinas Kebudayaan tentu akan memberikan dampak yang sangat besar sekali. Dengan begitu secara resmi komunitas akan diakui dan akan diperhitungkan dalam ajang festival kebudayaan.

“Dik.” Pria bernama Kasman itu kembali mengusik Syamil yang sedang memainkan handpone-nya. “Apakah Pantai Gandoriah masih jauh dari sini?”

Syamil tercenung sebentar, lalu segera menjawab bahwa mobil tidak lewat pantai Gandoriah, namun dia menambahkan dengan kalimat satu jam lagi di akhir jawabannya.

“Bapak bukan orang Bukittinggi atau Payakumbuh?”

Kasman menggeleng. “Kami dari Deli.” Lalu mengulurkan tangannya. “Panggil saja Pak Cik Kasman, Cik Man, dan ini istri bapak, Cik Maryati.”

Seorang perempuan yang juga dalam balutan mantel bulu yang sangat tebal, yang duduk di samping Pak Cik Kasman, mengulurkan tangannya kepada Syamil. Jabat tangan itu diterima Syamil dengan canggung. Pasalnya, dia suka berkenalan dengan orang-orang baru namun mungkin dalam situasi yang lebih baik.

“Masih sekolah, Syamil?” Cik Yati bertanya. Perempuan itu benar-benar luar biasa, dengan umur sekitar tiga puluh empat tahun dan gurat muka keibuan, Syamil tahu dia bukan orang sembarangan. Pembawaannya yang tenang dan cara berkenalannya yang luar biasa itu telah memberi kesan yang bagus untuk Syamil.

“Sudah tamat, Cik. Tadi dari Bukittinggi menjemput ijazah.”

“Oh, begitu. Di Bukittinggi di mana?”

“Di Candung, Cik.” Syamil menjawab singkat, berharap percakapan introgasi itu akan segera berakhir.

“Tarbiyah? Syaikh Sulaiman?”

Syamil mengangguk pelan, sedikit tersenyum dan tak berharap akan bertanya balik. Pikirannya tengah sibuk mengurusi hujan yang belum reda dan kakaknya yang belum juga membalas pesannya.

“Bagus, bagus,” puji Cik Maryati lebih kepada dirinya sendiri. “Zaman sekarang mana ada lagi anak-anak yang suka mengaji kitab kuning, duduk hingga larut malam memperdebatkan nahwu dan shorof. Uh, zaman apa sekarang ini.”

Pak Cik Kasman terkikik melihat berungut istrinya. “Kalau dilihat zaman kita dahulu, memanglah beda sekali, Ati. Kita biasa duduk hingga larut di depan mesin tik menulis apa saja, membaca banyak buku dan menyingkap makna-makna dari kitab yang berumur ratusan tahun. Ah, ya, bila diingat-ingat lagi, sebelum zaman kereta uap punah, kita sudah mencapai kejayaan itu. Kereta listrik, ya, kita bahkan sudah punya kereta listrik. Sekarang, uh, bagaikan diikatkan mata dan tangan kepada handpohe. Tergadai sudah masa depan anak-anak muda zaman sekarang dengan tekhnologi, apalagi dengan pemimpin macam sekarang. Uh, uh.”

“Cik Yati seorang penulis?” Tiba-tiba Syamil ikut mengomentari. “Hendak ke Gandoriah kah?”

Cik Maryati dan Pak Cik Kasman bertatapan sebentar, lantas menjawab dengan anggukan. “Hanya mencoba mengulang-ulang kisah lama, rindu pula rasanya hendak makan angin di negeri Minangkabau ini. Uh, padahal jika dikaji, hingga Malaysia dan Deli sana juga masih Minangkabau. Picik benar orang yang mengatakan Minangkabau cuma Padang.”

Syamil terbuka lebar matanya demi mendengar hal yang demikian. Sejatinya sudah lama dia hendak berkeliling untuk mencari-cari jejak peradaban yang terkubur itu, apalagi dalam bidang sastra. Tadi saat melewati Rumah Puisi Taufik Ismail di Padang Panjang, tak bisa dia alihkan pandangannya dari sana, terbayang olehnya jejak-jejak sastrawan lama itu hingga kata-kata Buya Hamka begitu kental terngiang-ngiang dalam kepalanya.

Jika menurutkan kehendaknya pula, sudah sejak setahun yang lalu dia hengkang ke tanah Jawa sana untuk mencari ilmu, namun dikuat-kuatkan jua hatinya mengambil jurusan Sastra Arab di Imam Bonjol. Demi tetap berada di tanah Minang dan mengkaji budayanya.

“Kalau begitu, bolehlah Cik bercerita sedikit tentang masa dahulu, sebelum kita sampai ke Padang, mungkin akan sangat berguna untuk bahan riset. Ah sebentar …” Dengan tergesa-gesa diambilnya tas di bagian belakang dan dibukanya cepat-cepat. Dikeluarkannya sebuah kertas berjilid mirip proposal. Di bagian luarnya tertera dengan huruf besar tulisan PROFIL KOMUNITAS MINANG LITERASI beserta logonya yang condong berwarna hijau dan oren.

“Apa ini?” tanya Cik Maryati dan Pak Cik Kasman hampir bersamaan.

Syamil menunjukkan senyum terbaiknya. “Silakan cek saja, Cik, mungkin sekaranglah saatnya saya bertemu dengan orang yang tepat.”

(Bersambung…)

Tentang Penulis

Hasbunallah Haris adalah putra Kabupaten Solok Selatan. Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab di Universitas Islam Negeri Padang.

loading...