Cerpen – Buronan Itu Ternyata Ibuku

267

Oleh : Hasbunallah Haris

Aku menemukan sebuah koran lusuh dalam tumpukan barang-barang bekas di gudang rumah kami, saat itu aku tengah membereskan kaleng-kaleng cat yang kugunakan untuk mengecat patung kelinci tanah liatku untuk ujian praktek kesenian. Merasa penasaran dengan foto di koran lusuh tersebut, aku pun mengambilnya dan membawanya keluar gudang.

Berita utamanya bertajuk Perempuan Buronan Polisi. Aku memilih duduk di bawah pohon angsana tua yang sudah meranggas di samping gudang sambil membaca berita utama koran tersebut.

Telah terjadi kejar-kejaran antara mobil patroli polisi dengan sebuah mobil hitam dengan nomor seri kendaraan B 2561 YA yang melaju ke arah jalan perbatasan utama setelah sebelumnya mobil tersebut nekat menerobos barikade polisi di depan kantor DPRD yang sedang melangsungkan rapat tertutup.

Pengemudi mobil tersebut diketahui adalah seorang wanita muda berusia 23 tahun dengan inisial TH telah melanggar aturan lalu lintas dengan tidak mengindahkan larangan yang telah ditetapkan polisi. Terungkap juga TH sebelumnya telah meminta izin secara baik-baik untuk masuk ke gedung DPRD guna meliput berita. Namun dia ditolak oleh pihak kepolisian dengan alasan yang tidak terlalu jelas.

Merasa tertantang, TH lantas berbalik masuk ke mobilnya dan melajukan kendaraannya menembus barikade polisi dengan menabrak palang rintangan hingga patah dua.

TH lalu masuk ke gedung DPRD dengan setengah berlari sambil membawa kamera di tangannya. Sekitar tiga puluh menit kemudian, TH kembali keluar dan langsung masuk ke mobilnya dengan mengarahkan kamera kepada para polisi yang berjaga sebagai bentuk perlindungan diri. Polisi lalu memblokade seluruh jalan utama, peringatan untuk keluar dari mobil pun meraung-raung dari patroli polisi yang mencoba memperingatkan TH untuk mengurungkan niatnya yang hendak melarikan diri.

Namun perempuan tersebut kembali nekat menginjak gas mobilnya dan melaju di atas trotoar. Polisi tanpa ampun menembak bagian belakang mobil tersebut hingga menyebabkan kaca belakangnya pecah.

Saat ini, polisi telah menemukan mobil tersebut terparkir di pinggir jalan utama, tak berapa jauh dari jembatan Pukul Empat. Namun tidak dengan TH, perempuan tersebut seolah menghilang ditelan bumi.

Aku melihat tanggal yang tertera di koran tersebut dan terperanjat karena peristiwa itu sudah dua puluh tahun yang lalu. Ketika melihat potret hitam putih wanita tersebut yang dicetak besar, aku menemukan sosok yang selama ini menjadi tumpuan kasih sayangku.

Ibuku.

Dengan menggebu-gebu, aku berlari masuk ke dalam rumah untuk menunjukkan penemuanku yang spektakuler itu. Awalnya ibu mengamati koran yang kuberikan padanya dengan tatapan menyelidik dan tiba-tiba tertawa sambil melirik pada ayahku dengan mengangkat koran yang digenggamnya.

Lihat apa yang ditemukan Thalia, Jeff. Kejadian reporter waktu itu.

Ayahku menaikkan kacamata yang tiba-tiba melorot di batang hidungnya, lantas tersenyum seperti biasa sambil mengangkat bahu. Dia mungkin berhak tahu kalau ibunya dulu adalah perempuan yang berani,Han.

Dulu? Ibuku mengoreksi dengan tajam.
Yah, um … maksudku dulu sampai sekarang. Tentu saja kau selalu berani dalam hal apapun.”
Ibuku mengangguk. Itu terdengar lebih baik, Jeff.

TH itu ibu? kataku tak sabar.

Nah, duduklah di sini, Thalia. Biar kuceritakan bagaimana pemberaninya ibumu waktu masih muda dulu. Ayahku melirik ibu dan buru-buru mengoreksi kembali kalimatnya. Maksudku ibumu masih muda hingga sekarang, tentu saja.

Aku duduk di samping ayah yang tengah berhadapan dengan laptopnya, sempat kulirik layar laptop itu sebentar yang menayangkan sebuah film The Tiger yang sudah di pause.

Ibumu dulu bekerja di sebuah stasiun tv untuk meliput berita.

“Menjadi wartawan, kataku membantu.

Yah, itu namanya. Wartawan. Jangan ganggu aku, Han. Biarkan aku memberitahu Thalia mengenai ini.
Ibuku yang hendak melempar boneka kepala singaku kepada ayah menahan tangannya di udara.

Wajahnya bersemu merah entah kenapa, lantas dia mengurungkan melempar boneka itu dan ikut duduk bersama kami.

“Kalau begitu aku juga akan mendengarkan, jawab ibuku tanpa ditanya mengapa dia duduk di sana.
Ayahku menahan diri beberapa detik sebelum kemudian kembali melanjutkan ceritanya setelah merasa aman.

“Ini cerita yang sudah sangat lama sekali. Malam itu jalanan sangat heboh, ibumu berkali-kali mengecoh polisi dengan melajukan mobilnya menantang arus.

Teriakan marah dan peringatan tembakan sudah berkali-kali meletus, namun hingga larut malam kejadian itu belum juga berakhir.

Tapi mobil itu katanya ditemukan, ibu ke mana?

Tentu saja dia meninggalkan mobilnya dengan melompat ke sungai ketika melintasi jembatan Pukul Empat, menahan gas mobil itu dengan kotak kunci berangkas mobil. Ibumu lalu berjalan sempoyongan ke rumah terdekat untuk meminta bantuan karena kakinya mengalami kram yang sangat hebat.

Ternyata rumah terdekat hanyalah rumah sepasang suami istri yang sudah tua yang tinggal bersama seorang anaknya, ibumu menompang tidur di sana satu malam tanpa pernah tahu bahwa ibumu adalah buronan yang sedang dicari polisi. Anak suami istri tersebut lalu membantu mengobati kaki kram ibu dengan memijitnya dengan air hangat, lantas menemaninya berbincang sebentar sebelum kemudian memadamkan lampu dan beranjak tidur.

Esoknya, ibu diantarkan pulang ke rumah nenek untuk berlindung di sana selama beberapa minggu.
Polisi mencari ibu ke rumah?

Tentu saja, Nak. Polisi sangat gencar mengejar ibumu. Kantor tempat ibu bekerja digeledah dan rumah ibu juga, semua teman ibu dimintai keterangan tak terkecuali nenek. Namun nenek menyembunyikan ibumu dengan cerdik di ruang kosong rumahnya dan memotong pendek rambut ibu hingga mirip laki-laki. Dua bulan kemudian berita itu hanyut begitu saja hingga beberapa koran memberitakan bahwa ibu benar-benar telah menghilang dan kasus itu pun ditutup. Ibu kembali berkunjung ke rumah orang yang telah membantunya malam itu dan membawakan banyak hadiah. Lama kelamaan keluarga itu makin dekat hingga ibu pun sering tidur di sana.”

Aku menaikkan alis karena beberapa saat kemudian tak mendapatkan kembali sambungan ceritanya.
Itu saja?

Ya, itu saja. Lalu ayahku berbisik. Ibumu memenjarakan salah seorang anggota DPRD karena kasus suap, berita itulah yang diliputnya bersama barang bukti ketika sedang rapat tertutup.

Namun ibu menggeleng ketika kutatap. Kau melupakan bagian terpentingnya, Jeff. Tidak baik jika hanya meceritakannya setengah-setengah.
Mungkin kau saja yang lebih baik memberitahunya, Han. ”

Memberitahu apa? kataku tak terima.

“Ah itu, ujar ibu dengan malu-malu. Yang menolong ibu waktu itu sekarang telah kau panggil menjadi ayah, Thalia.

Aku menjatuhkan koran lama itu. Apa? Ayah yang menolong memijatkan kaki ibu ketika menjadi buronan?

Ayahku mengangguk, kembali menaikkan kacamatanya. Pertemuan yang sedikit canggung sebenarnya. Apalagi setelah kemudian ibumu memotong rambut hingga dia hampir benar-benar menjadi seorang pria.

Waw … kurasa tajuk koran ini bisa kita ganti menjadi

Buronan yang Beruntung.

loading...