Cerpen – Aku Mencintaimu, Ibu

321

Oleh : Hasbunallah Haris

Piring-piring melayang ketika aku baru saja pulang sekolah. Seperti biasa, ibuku mengamuk lagi dan melempar barang-barang di sekelilingnya. Dalam minggu ini saja ibuku sudah kambuh tiga kali dan membuat seisi rumah ketakutan. Adikku yang baru berumur sembilan tahun tergugu di sudut meja dapur, memeluk kaki meja dan menangis dalam diam. Sedangkan ibuku melempar piring di atas rak dan sesekali berteriak tak jelas.

Ibuku mengidap penyakit Bipolar, yang menyebabkannya memiliki kepribadian ganda. Sangat sulit untuk bicara dengan ibu dan berusaha membuatnya tidak tersinggung, sebab tak seorang pun tahu kapan ibu akan berubah kepribadian dan menyerang siapa saja di dekatnya.

Ketika SD, rambutku pernah dijambak oleh ibu dan diseret ke halaman rumah. Ibu mencampakkanku ke dalam kolam dan meninggalkanku di sana setelah membanting pintu rumah kami dengan keras. Ayahku datang dan mengulurkan tangannya untuk membantuku keluar dari kolam.

“Jangan membenci ibu, Safira. Jangan membenci ibu.” Berkali-kali ayahku menasehati dengan kalimat yang sama, sedangkan aku hanya diam dan menunduk menahan lelehan air mata yang mulai menganak sungai.

Kadang aku merasa muak dengan tingkah ibu yang makin menjadi-jadi dan hanya menyebabkan kehancuran dalam rumah kami. Perabotan mahal yang dihadiahkan ayah saat ulang tahunku tahun lalu dilemparkan ibu ke dinding kamar, hancur berkeping-keping. Mobil-mobilan adikku yang bisa berubah menjadi robot juga mendapatkan bagiannya, ibu menarik kaki robot itu dan seketika membuatnya menjadi barang rongsokan. Vas bunga kaca bermotif ikan koi yang biasa terletak di atas meja ruang tamu rumah kami juga sudah almarhum. Yang tersisa hanyalah kursi sofa yang dekil dan karpet kumuh yang tak pernah disapu, nyaris tak ada perabotan lagi di rumah kami.

Namun aku tak habis pikir dengan ayahku. Pria jangkung dengan rambut lurus dan biasa memakai kemeja kotak-kotak itu begitu sabar merawat ibu. Ayah pernah dilempari dengan baskom dan piring kaca, namun tak sekalipun ayah membalasnya. Ayahku yang tersayang hanya membiarkan saja ketika ibu mengamuk, dan biasanya setelah ibu sadar kembali, dia akan menangis dan meminta maaf dengan tangan gemetar. Saat itulah ayahku datang dan memeluk ibu, mengabaikan kakinya yang mengucurkan darah karena menginjak pecahan piring kaca.

“Tak apa, tak apa,” ujar ayah menenangkan ibu dan membawanya ke dalam dekapan. “Besok kita bisa beli lagi piring-piring itu. Atau kita tidak beli yang kaca lagi, kita beli yang plastik saja.”

Saat itulah aku akan berlari ke dalam kamar dan menghempaskan diri di atas kasurku. Apa aku menyesal telah dilahirkan ke dunia ini dari rahim seorang wanita seperti ibu? Apakah itu penyakit turunan? Apakah aku juga akan gila seperti ibu nantinya? Oh Tuhan, hidup benar-benar lelucon yang memuakkan.

Aku menjadi orang yang tertutup sejak saat itu, lebih suka menuliskan sakit hatiku dan mematahkan banyak pensil karena terlalu keras menekannya pada bukuku saat menulis. Sesering mungkin aku mengutuk Tuhan karena telah menghadirkanku di tengah-tengah keluarga kacau-balau seperti ini, keluarga yang jauh dari kata bahagia, nyaman dan tenteram. Keluarga tanpa arah dan gila.

Pernah satu kali ketika aku makan di dapur, ibuku datang dan mengambilkan air minum untukku. Aku sedikit bergidik karena gelas yang diambilkan ibu adalah gelas kaca. Takut karena ibu bisa saja mengamuk dan menghantamkan gelas itu ke kepalaku, aku pun menyingkir dari sana dan membawa piringku ke ruang tengah. Ibuku menunduk saja, mungkin menangis dalam diam.

Ayah datang tak lama kemudian dan memarahiku. Aku yang sedang kalut balas mengatai ayah dan menghardiknya, meneriakkan bahwa aku sudah lama menahan diri berada di tengah-tengah keluarga seperti ini. Aku sudah sangat lelah dan lebih baik mati saja karena itu mungkin akan membuatku sedikit lebih tenang.

Ayah menatapku dan mengeraskan rahangnya. “Suatu hari kamu akan mengerti, Nak. Ibu seperti itu juga bukan atas keinginannya, ibu sangat menyayangimu. Waktu kecil, ibu sering menyisirkan rambutmu dan …”

“Iya,” potongku seketika. “SEBELUM IBU MENJADI GILA!”

Plak … pipiku memanas seketika. Tak percaya atas apa yang terjadi, aku berlari ke kamar dan membanting pintu keras-keras. Memeluk lutut dan menangis sejadi-jadinya. Bahkan sekarang ayahku juga sudah ikutan gila.

Saat umurku genap delapan belas tahun dan sudah mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga kami, aku mencari-cari segala hal yang menyangkut dengan penyakit ibuku. Perlahan, aku mulai mau menemani ibuku pergi ke psikiater khusus keluarga kami dalam jadwal rutinnya sekali seminggu. Hal itu kulakukan setelah ayahku membujukku berkali-kali, setelah aku memaafkannya atas hadiah tamparan kala itu.

Perlahan, ibuku mulai berubah menjadi periang dan lebih sering mengajakku bicara. Dia bercerita tentang masa mudanya yang sulit, teman-teman sekolahnya yang tidak baik, dan perlakukan suami pertama ibu yang tak senonoh. Aku jijik mendengarkan cerita ibuku, lebih sering aku menyumbat telinga dengan earphone dan menyalakan musik keras-keras.

Hari ini adalah hari ibu, bertepatan dengan jadwal rutinnya untuk cek ke psikiater. Akhir-akhir ini ibu juga sudah jarang kambuh, perubahan itu membuat kami sedikit dapat nyaman berada di rumah. Aku menemani ibu dan menunggu di luar rumah. Kulihat anak-anak yang merayakan hari ibu begitu bahagia meniup terompet dan melompat-lompat minta dipeluk. Aku? Barangkali pernah dipeluk ibu, tapi mungkin aku sudah lupa bagaimana rasanya.

Iseng dengan hal itu, aku membeli sebuah kado misteri yang dijual di depan rumah dokter  dan menyembunyikannya di dalam saku jaketku yang dalam. Terngiang lagi nasehat pribadi dokter padaku untuk lebih merasakan keinginan ibu dan mendengarkan ceritanya, membujuknya dan berusaha membuat ibu nyaman. Aku mencoba melakukan itu dan semoga saja hasilnya memuaskan.

Saat di jalan pulang, aku menghentikan mobil dan mengajak ibu untuk turun di sebuah taman. Ibu heran dengan tingkahku namun tak banyak bicara, ibu turun dari mobil dan memilih untuk berlindung di bawah pohon ceri karena hari sangat terik. Aku menghampiri ibu dan tersenyum selebar mugkin, inilah saatnya aku harus berdamai. Berdamai dengan ibuku dan yang terpenting di atas semua itu semua adalah berdamai dengan egoku sendiri.

Aku merogoh saku dan mengeluarkan hadiah yang tadi kubeli sambil berujar, “Selamat hari ibu, tanpa ibu aku tak akan pernah ada di dunia ini. Terima kasih sudah melahirkan Safira, Bu.”

Ibuku mematung di tempatnya, aku menunduk. Tiba-tiba rengkuhan tangan lembut membawaku mendekat, ibuku memelukku dan itu tentu saja membuatku sangat bahagia. Ada angin sejuk menerpaku yang membuatku makin erat memeluk ibu.

“Ibu tidak butuh hadiah itu, Nak,” ujar ibuku berbisik lembut. “Ibu bukan ibu yang baik, dan kamu berhak memarahi ibu atas apa yang telah terjadi selama ini. Kamu pasti telah melewati hari-hari yang berat, kamu pasti tidak berani membawa teman ke rumah karena ada ibu, kan? Tapi tak apa, kamu berhak berontak atas semua yang telah terjadi. Maafkan ibu, Nak. Sungguh maafkan ibu.”

Tanpa sadar, air mataku mengalir begitu saja. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan. Hal terindah yang kupelajari hari ini adalah; berdamailah dengan keadaan yang sesulit apapun itu, jika sudah menerimanya maka segalanya akan indah.

Di rumah, ayah dan adikku sudah mempersiapkan pesta kecil-kecilan untuk menyambut kami. Ibu diberikan kalung hasil rajutan sendiri adikku, dibelikan kue oleh ayah, dan hadiah yang kubeli tadi yang berupa hadiah misteri. Isinya adalah sebuah pigura foto, aku memasang foto keluarga kami di sana dan menggantungkannya di ruang keluarga.

Ibu, aku mencintaimu. Meskipun aku bukan anak yang baik, meskipun ibu telah melemparku dan meneriakiku, ibu tetaplah ibu dan aku tidak akan mempermasalahkan itu lagi. Dokter pribadi kami telah menasehatiku untuk jangan membenci masalah, dia mengajarkanku untuk memberikan nama pada masalah itu dengan nama yang indah, agar pada akhirnya aku berhasil menutupi lubang kebencian di antara kami dengan segenggam cinta yang utuh.

Aku mencintaimu, Ibu.

loading...