Kepala Rutan Padang Panjang Punya Philosophy Menghadapi Warga Binaan, Apa Itu?

Padang Panjang | Topsumbar – Kepala rumah tahanan negara (Rutan) kelas IIB Padang Panjang Auliya Zulfahmi, A. Md.IP, SH. MH memiliki philosophy dalam menghadapi warga binaan pemasyarakatan (WBP).

Peganglah hatinya bukan badannya.

Demikian Philosophy tersebut diungkap Fahmi panggilan akrabnya Auliya Zulfahmi saat menggelar silaturrahmi dan ngopi bareng bersama sebagian awak media Padang Panjang, di Rutan setempat, Selasa (22/11/2022).

Bacaan Lainnya

Disebutkan Fahmi, sebagai seseorang yang bekerja di lembaga pemasyarakatan (Lapas) dan Rutan yang berhadapan dengan WBP yang berasal dari beragam latar belakang, philosophy tersebut mutlak baginya.

“Bagaimana saya bisa merangkul hatinya WBP dan bukan badannya. Kalau badannya kalahlah kita sama WBP yang beragam tersebut. Jadi, peganglah hatinya bukan badannya, itulah philosophy yang saya terapkan,” ujar Dia.

Fahmi mulai menjabat kepala Rutan Padang Panjang (Rupajang, Red) sejak Jumat, 4 November 2022. Ia menggantikan Kepala Rupajang sebelumnya Rudi Kristiawan yang promosi sebagai kepala Rutan kelas II B Situbondo, Jawa Timur.

Sebelumnya Fahmi menjabat Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik pada Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Dalam acara ngopi bareng sekaligus perkenalannya bersama sebagian awak media Padang Panjang itu, suasana berlangsung akrab dan ceria, Fahmi mengungkap banyak hal.

Antara lain kesannya dengan alam dan kuliner kota Padang Panjang, hingga pengalaman mencekam pernah berdinas di Lapas Kelas IA Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara.

“Disini di kota Padang Panjang alamnya teduh dan kulinernya enak-enak. Sungguh mengesankan,” tutur Fahmi.

Kemudian tentang pengalamannya pernah berdinas di Lapas Kelas IA Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara atau sebelum berdinas di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pematang Siantar, Sumatera Utara.

“Saat Lapas Tanjung Gusta dilanda kerusuhan dan kebakaran medio Juli 2013, saya turut mengalaminya. Saat itu suasana lapas benar-benar mencekam. Mau masuk Lapas saja saat itu susahnya bukan main, gimana ya, tidak aman saat itu,” ujar Fahmi mengenang.

Terakhir, disebutkannya jika dia beristerikan orang Aceh dan saat ini memiliki seorang anak berusia 3,5 tahun.

“Anak saya baru satu orang,” pungkasnya.

(Alfian YN)

Pos terkait