Menu

Mode Gelap
Hari Bhakti Adhyaksa ke-62, Kejari Sijunjung Gelar Jalan Santai Unit Kerja Kantor Imigrasi Dharmasraya Akan Dibentuk, Sutan Riska : Urus Paspor Tak Perlu ke Luar Daerah Padang Kembali Cari Wali Kota Cilik Bersama Mentari Meraih Mimpi Menuju Indonesia Emas 2045 Wagub Sumbar: Pelaku UMKM Harus Go Digital Untuk Hadapi Tantangan Global

Sijunjung · 10 Jun 2022 23:58 WIB ·

Mengenang 87 Tahun Buya Syafii Maarif


 Mengenang 87 Tahun Buya Syafii Maarif Perbesar

Sijunjung │ Topsumbar – Pemerintah Daerah Kabupaten Sijunjung bersama Maarif Institute menggelar acara Mengenang 87 Tahun Buya Syafii Maarif secara virtual pada Jumat (10/6).

Acara diawali dengan kalam Illahi oleh Qari Internasional dari Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII H. Dasrizal, SS, MIS yang saat ini merupakan staff pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Selanjutnya acara diisi dengan sambutan Direktur Maarif Institute Abdul Rohim Ghazali, Buya berangkat dari orang yang sangat biasa, sebagaimana ditulis di autobiografi beliau “Titik-Titik Kisar Di Perjalanku” masa lalunya pahit kemudian beliau sangat dekat dengan kekuasaan namun beliau tak pernah sombong.

Kemudian Buya juga suka bersahabat dengan semua orang dari golongan apapun demikian disampaikan Abdul Rohim Ghazali.

“Buya itu mau bersahabat dengan siapa saja tanpa embel-embel, sederhana, namanya melangit namun sikapnya tetap membumi. Beliau adalah cermin satunya kata dan perbuatan, sejalan antara tindakan dengan ucapan,” demikian Abdul Rohim Ghazali menambahkan.

Tuduhan oleh beberapa orang bahwa Buya sebagai Islam Liberal sangatlah tidak tepat. Kritikannya lebih kepada tindakan orang bukan kepada pribadi seseorang terutama berkaitan dengan korupsi. Buya juga selalu mendorong anak muda agar selalu belajar, belajar, dan belajar. Beliau selalu mau mendengar saran maupun pendapat. Beliau mengoreksi anak muda dengan mengatakan “baca buku ini, ini dan ini lagi” jika ada sesuatu yang dianggap kurang pas oleh Buya ujar Abdul Rohim Ghazali.

Banyak orang yang telah mengusulkan agar Buya diajukan menjadi Pahlawan Nasional, namun harus ada persyaratan tertentu kemudian namanya harus disematkan menjadi nama gedung atau jalan atau lembaga pendidikan/sekolah terlebih dahulu ujar Abdul Rohim Ghazali.

Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir, SSTP, M.Si yang juga menjadi pembicara dalam acara Mengenang 87 Tahun Buya Syafii Maarif ini menyampaikan “Sebenarnya ada kado yang akan dipersembahkan berupa Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM), tetapi Allah sayang kepada beliau, beliau wafat 4 hari sebelum ulang tahun ke-87”.
Semasa kecil tokoh idola kami adalah Buya, Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir, SSTP, M.Si melanjutkan.

“Sijunjung butuh tokoh yang bisa berlari” demikian nasehat Buya kepada kami beberapa waktu lalu, lalu kami jawab “Jangankan lari loncat-loncatpun kami siap” ujar Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir, SSTP, M.Si.

Kita kehilangan sosok yang sulit dicari gantinya, semoga kita meneladani semangat dan perilaku Buya, Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir, SSTP, M.Si melanjutkan testimoninya. Terakhir, Geopark Silokek yang sedang menuju UNESCO Global Geopark (UGGp) juga mendapat support dari almarhum Buya.

Bertindak selaku moderator pada acara Mengenang 87 Tahun Buya Syafii Maarif ini adalah Dr. Zefnihan, AP, M.Si yang sehari-hari adalah Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Sijunjung.

Mantan Ketua DPD RI Irman Gusman yang sedang berada Amerika berkesempatan hadir secara virtual pada momen Mengenang 87 Tahun Buya Syafii Maarif mengatakan “Di Los Angeles saat ini jam menunjukkan pukul 7 pagi, kemarin saya di Chicago tempat tokoh pembaharu Islam Buya Syafii Maarif bersekolah bersama Amien Rais dan Nurcholis Madjid” ujar Irman Gusman.

“Saya mengenal Buya mulai 1995 saat masih aktif di ICMI, Buya adalah manusia langka, keislaman dan kebangsaan bisa bersatu dan sudah selesai dengan adanya Pancasila,” terang Irman Gusman.

“Buya menjaga jarak dengan parpol, beliau sangat egaliter, demokratis, pemikirannya tajam dan dekat dengan nilai-nilai Minangkabau, sehingga selayaknyalah nilai-nilai kejuangan Buya Syafii Maarif harus dilestarikan,” lanjut Irman Gusman.

Sementara itu Fachry Ali melalui acara yang diinisiasi Pemda Sijunjung dan Maarif Institute ini mengatakan “Atas inisiatif Sri Sultan Hamengku Buwona X dengan menyemayamkan Buya di Masjid Gede adalah simbol kedekatan keraton secara harfiah dengan Buya,” terang Fachry Ali.

Sekaligus ini adalah transformasi konsep kebangsawanan Jawa, seseorang yang berasal dari Minangkabau secara budaya banyak yang tidak bersambung satu sama lain malah ditempatkan di tempat sakralnya orang Jawa, berarti Sri Sultan HB X telah merubah pandangannya bahwa kebangsawanan itu tidak lagi didasarkan pada keturunan atau darah” berkatan Fachru Ali.

Progresif Raja Jawa telah terdorong oleh ketokohan Buya, “Buya adalah entitas sendiri di Yogyakarta, Buya adalah behaviour cultural system dan mendapat tempat di Kesultanan Yogyakarta maupun Surakarta,” Fachry Ali menambahkan.

“Buya adalah variabel independen di Yogyakarta dan mendapat kehormatan budaya meskipun berasal dari kampung yang tak berlistrik, kontribusi Buya terhadap salahsatu elemen peradaban sangat berarti,” lanjut Fachry Ali.

Tokoh pers senior, Basril Djabar yang hadir malam inipun menyatakan “Suatu hari tahunnya saya lupa Dr. Herman Darnel Ibrahim mampir di Singgalang dan mengatakan, ternyata Sumpur Kudus itu belum ada listrik,” ujar pengusaha sekaligus pemilik Harian Singgalang ini. Dr. Herman Daniel Ibrahim kala itu merupakan Direktur Transmisi dan Distribusi PLN.

Buya itu orangnya sangat sederhana, beliau juga berpesan kepada saya “Jagalah keutuhan NKRI” demikian pesan Buya yang saya ingat ujar Basril Djabar.

Selanjutnya bertindak selaku pembicara adalah Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat Dr. Shofwan Karim, “Ini merupakan kali ke-9 saya mengikuti acara virtual mengenang Buya, tulisan-tulisan tentang Buya sedang saya himpun untuk dibukukan” demikian Dr. Shofwan Karim mengawali sambutannya.

Saya sejak 1978 sudah mengenal Buya, namun saya tak pernah menyebut Buya melainkan Prof. ASM karena memang beliau sendiri yang tak berkenan, terang Dr. Shofwan Karim melanjutkan.

Ternyata penyebabnya adalah karena banyak buya yang korupsi berjamaah pada awal reformasi, demikian Dr. Shofwan Karim buka rahasia yang belum banyak diketahui publik.

Tulisan “Pulanglah Buya” di Republika kemudian saya balas, tetapi belakangan Buya marah kepada saya dengan mengatakan “Saya tak perlu dibela”. Istilah Buya “Preman Berjubah, Sumbu Pendek”, jangan dipahami teksnya tapi lihatlah konteks pesan Dr. Shofwan Karim.

Dr. Asmul Khairi mewakili keluarga Ahmad Syafii Maarif menyatakan sangat mengapresiasi Pemda Sijunjung yang menginisisasi acara ini yang bertajuk Mengenang 87 Tahun Buya Ahmad Syafii Maarif.

(Gun)

Hits: 7

Artikel ini telah dibaca 48 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tim UPP Saber Pungli Sosialisasi Di Tanjung Ampalu

21 September 2022 - 07:54 WIB

Hanya Di Sijunjung, Ombudsman Puji Forum Pelayanan Publik

20 September 2022 - 10:16 WIB

Kejurnas Gantole Telemoyo Cup VI Resmi Berakhir

19 September 2022 - 22:02 WIB

Museum Rumah Masa Kecil Ahmad Syafii Maarif Diresmikan

19 September 2022 - 21:36 WIB

Wabup Sijunjung Iraddatillah Serahkan Santunan BPJS Ketenagakerjaan

18 September 2022 - 21:24 WIB

Telemoyo Cup VI, Banten Dan DKI Masih Memimpin

17 September 2022 - 09:40 WIB

Trending di Sijunjung