De Javasche Bank Padang: Wajah Padang Sebagai Kota Megapolitan Masa Lampau

Hai hai hai, selamat datang kembali di seri petualangan budaya Sumatera Barat. Kali ini kita akan mengunjungi sebuah tempat yang sangat bersejarah lho, Topers. Mau tau bangunan apa itu? Yuk, kita let’s go!

Kota Padang adalah salah satu kota utama di Pulau Sumatra yang terletak di pesisir pantai barat Sumatra. Tahu tidak, Topers, antara abad ke-18 sampai abad ke -19, Padang berkembang menjadi kota perdagangan dan militer, lho.

Untuk menciptakan Padang sebagai kota megapolitan, Belanda membuat sebuah proyek besar-besaran yang dinamakan proyek Tiga Serangkai. Pertama, Belanda membangun pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur sekarang. Hal ini dilakukan karena Belanda sedang mempersiapkan Padang sebagai kota pelabuhan besar nantinya. Kalau ada pelabuhan, tentu ada barang yang akan di angkut, bukan? Nah untuk inilah Belanda menamakannya proyek Tiga Serangkai.

Bacaan Lainnya

Pada tahun 1868, Belanda menemukan cadangan batu bara yang sangat besar dengan kualitas terbaik di Sawahlunto. Hal ini dimanfaatkan Belanda untuk mengekploitasinya. Untuk itulah Belanda butuh pelabuhan, tambang, dan sarana transportasi ke sana, Topers.

Namun ternyata, selain pelabuhan, cadangan komoditi yang banyak dan sarana transportasi, Belanda juga butuh pusat pengelola keuangan, Topers. Untuk itu Belanda mendirikan De Javasche Bank atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai Bank Jawa. Ini adalah cikal-bakal Bank Indonesia nantinya, Topers.

Berdirinya De Javasche Bank Cabang Padang menggambarkan peran sentral yang akan dimainkan oleh Kota Padang dalam sektor perekonomian. Pada masa ini sistem tanam paksa kopi (1847-1908) sedang mengalami puncak kejayaannya. De Javasche Bank Cabang Padang dirancang untuk menyambut perkembangan ini, khususnya untuk memfasilatasi lalu lintas transaksi keuangan dalam dinamika perekonomian internasional.

Jadi, Belanda sedang mempersiapkan Kota Padang sebagai kota megapolitan, Topers. Bahkan De Javasche Bank Padang ini adalah yang pertama di luar pulau Jawa, lho. Minat Belanda terhadap kota ini benar-benar besar ya, Topers.

Pada tahun 1864, De Javasche Bank secara resmi beroperasi. Hadirnya kantor cabang De Javashce Bank di Padang terealisasi berkat permohonan Kamer van Koophandel en Nijverheid (Kamar Dagang dan Industri) Kota Padang kepada Pemerintah Pusat dan Direktur De Javasche Bank di Batavia.

Duh, sebenarnya bangunan ini ada di mana sih? Lokasi bangunan De Javasche Bank ini sangat mudah ditemukan, Topers. Letaknya tepat di depan jembatan Sitti Nurbaya, Jalan Batang Arau Nomor 60, Kelurahan Berok Nipah, Kecamatan Padang Barat. Dulu, di bagian depan bangunan De Javasche Bank Padang ini, sebelum adanya Jembatan Sitti Nurbaya terdapat sebuah monumen berupa tugu kecil yang bernama Monumen de Greave. Dibangun untuk mengenang Ir. Willem Hendrik de Greve, ahli pertambangan Belanda yang mati hanyut ketika melakukan penelitian batu bara pada tahun 1872.

Bangunan ini dikerjakan oleh kontraktor yang bernama Hulswitt-Fermont-Cuypers Architechten & Engineeren Beureau dari Batavia, arsitektur bangunan ini sedikit mengambil gaya rumah pendopo Jawa, Topers. Pintu-pintunya dibuat lebar dan tinggi bergaya Eropa, dan puncak atapnya berbentuk seperti kubah masjid.

Pada tahun 1998, bangunan ini ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya bersama beberapa bangunan bersejarah peninggalan pemerintah Hindia Belanda lainnya di Padang.

Wah kren ya, Topers. Ternyata menjelajah Sumatera Barat, selain mendapatkan kesenangan dan tempat berfoto, juga dapat dijadikan sebagai wisata edukasi sejarah, lho.

Sampai jumpa di seri petualangan selanjutnya ya. Semoga terhibur.

(Haris)

Pos terkait