Pemerintah Promosikan Komoditi Padi, Bawang Merah, Manggis, dan Kopi ke Luar Sumbar

Sektor pertanian masih memberikan peranan yang cukup penting dalam struktur ekonomi wilayah di Sumatera Barat. Penentuan komoditas unggulan menjadi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah. Dalam memajukan dan meningkat hasil pertanian di Sumatera Barat, Pemerintah Provinsi (Pemprov) telah melakukan terobosan-terobosan seperti pengembangan petanian berbasis kawasan komoditi unggulan.

Komoditi unggulan ini salah satu upaya untuk membantu para petani dalam meningkatkan hasil panen, produksi, dan mempunyai nilai jual tinggi yang dapat membantu pemerintah mensejahterakan para petani. Apalagi masyarakat di Sumatera Barat sebagian besar adalah petani padi.

Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mendampingi Panglima TNI Jenderal Moeldoko melakukan panen raya padi organik di Persawahan Kasang Kabupaten Padang Pariaman beberapa waktu lalu.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Candra, menyebutkan padi adalah basis yang tak bisa dihindari. Sebab, Sumatera Barat merupakan bagian yang cukup potensial untuk produksi padi. Provinsi tetangga juga sangat berharap dan adanya kontribusi Sumatera Barat dalam penyediaan pangan terutama beras.

“Kita memproduksi gabah rata-rata 2,8 juta ton, jika disetarakan dengan beras otomatis lebih kurang 1,6 juta ton. Sedangkan untuk komsumsi kita hanya berkisar 6 ratus sampai 7 ratus ton sehingga kita surplus lebih kurang 1 juta ton dan itu mengalir ke luar Sumbar,” ungkap Candra.

Kemudian komoditi yang sifatnya memang untuk dipasarkan adalah bawang merah. Sumatera Barat sudah ditetapkan secara nasional sebagai daerah sentral bawang merah untuk Pulau Sumatera sehingga secara peta pemasokan dari bahan-bahan produksi, Sumatera Barat termasuk pemasok bawang merah baik itu ke Sumatera Selatan (Sumsel), Sumatera Utara (Sumut), Riau dan Jambi bahkan sampai Daerah Khusus Ibukota DKI.

“Sekarang kita sedang mengangkat nilai jual untuk komoditi manggis, kemaren kita sudah melakukan launching eksport bersama menteri petanian. Selama ini kita sudah melakukan ekspor melalui perantara pengumpul, mereka melakukan pengumpulan manggis akan tetapi tidak langsung di ekspor ke negara tujuan cuma melalui perantara yang biasanya dikirim ke Singapura atau pun ke Thailand tanpa kejelasan akhirnya banyak yang ditolak atau dirijek sehingga menimbulkan dampak yang kurang baik, terutama bagi petani kita yang tidak ada kepastian untuk pemasaran,” kata Candra.

Dengan adanya launching eksport di China kemaren yang dilaunching oleh mentri pertanian, otomatis membuka peluang untuk mendapatkan harga yang jauh dibandingkan selama ini. Sehingga itu akan mendorong Sumbar sebagai sentra Manggis.

Sekarang ini kita sudah berproduksi lebih kurang 34 ribu ton sedangkan yang dalam kontrak kita baru 10 ribu ton untuk kontrak 2018. Mudah-mudahan 2019 kita bisa meningkatkan sesuai dengan perkembangan produksi yang ada di Sumbar.

Untuk produksi perkebunan kita sedang menitikberatkan perbaikan pada sawit, karena replanting sawit ini merupakan bagian dari kegiatan nasional terutama sekali kebun rakyat yang hampir 250 ribu hektar yang produktivitasnya masih rendah rara-ratanya dibawah 10 ton itu kita adakan perbaikan dengan kegiatan replenting. Sehingga nantinya masyarakat yang bisa menikmati hanya 10 ton dalam 5 tahun kedepan bisa memproduksi 25 sampai 30 ton per-hektarnya dan ini tentunya memperbaiki kehidupan para petani, tambah Candra.

Selain itu komoditi kopi merupakan bagian yang cukup bagus sekarang ini sebab, hampir disetiap kabupaten melaksanakan penanaman Kopi dilihat dari permintaan pasar yang sangat mendorong masyarakat untuk bertanam Kopi. Selain itu Kopi bisa ditanam di hutan masyarakat tanpa harus membuka lahan luas yang terbuka dan bisa berproduksi dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

LEAVE A REPLY